Akmal Bahtiar, S. Si. Lulusan S1 Farmasi Unhas, Makassar. Memiliki sedikit pengalaman dalam dunia tulis menulis, terobsesi dengan design dan optimasi website.

Pedoman Pemakaian Obat Untuk Lansia

Pemakaian obat untuk lansia

Pemakaian Obat Untuk Lansia. Seiring dengan keberhasilan pembangunan, khususnya di bidang kesehatan, maka populasi penduduk Indonesia semakin banyak yang berumur panjang. Namun di sisi lain umur panjang menurunkan fungsi organ sehingga menyebabkan semakin mudah mengalami atau menderita penyakit. Bantuan pengobatan semakin dibutuhkan, umumnya obat merupakan pilihan utama dalam mengelola penyakit atau kesehatan penduduk berumur panjang (lansia). Banyak lansia yang harus memakai kombinasi obat-obatan.

Ilmu tentang penuaan (Geriatri) atau penyakit pada lansia (gerantologi) telah memberikan informasi tentang perlunya perhatian khusus terhadap pemberian obat pada lansia. Apoteker diharapkan dapat memahami masalah dan kebutuhan mereka akan pelayanan kefarmasian dan medis.

Proses penuaan umumnya dimulai pada umur 40-an, yakni dengan adanya penurunan kondisi sel tubuh yang akan mempengaruhi fungsi organ, termasuk kemampuan sistem keseimbangan tubuh dalam menghadapi penyakit atau tekanan seperti kelelahan. Sebagai contoh: flu pada lansia dapat lebih berbahaya daripada orang-orang yang berusia muda. Itulah sebabnya mengapa pedoman pemakaian obat untuk lansia ini perlu diketahui oleh apoteker dan layanan medis lainnya.

Pengaruh Penuaan Pada Tubuh

Pengaruh Penuaan Pada Tubuh
Pengaruh Penuaan Pada Tubuh labsatu.com

Beberapa pengaruh penuaan pada tubuh diuraikan seperti di bawah ini:

  • Kulit menjadi lebih tipis, kering, berkurangnya kadar lemak, berkerut, kurangnya fungsi melindungi dan bahkan kurangnya aliran darah ke kulit.
  • Sistem pembuluh darah menurun seperti kurangnya aliran darah yang dipompa jantung, kurangnya elastisitas pembuluh darah dan menumpuknya zat-zat lemak pada bagian dalam arteri yang menyebabkan hipertensi.
  • Sistem pernapasan mengalami gangguan, misalnya:
    – menempelnya kolagen di paru-paru yang menyebabkan kurangnya kemampuan untuk mengembang.
    – berkurangnya aliran darah ke paru-paru menyebabkan pernapasan jadi kurang efisien dan oksigen yang dialirkan ke tubuh menjadi berkurang.
    Hal ini menyebabkan frekuensi bernapas lebih cepat dari normal 16-20 kali permenit.
  • Sistem saraf mengalami penurunan daya ingat dan kemampuan mengambil keputusan karena sel otak yang mati dan atau berkurangnya aliran darah ke otak. Bingung dan perubahan personalitas dapat terjadi karena kekurangan oksigen yang dibawa darah ke otak.
  • Sistem sensor/indra umumnya kurang kuat dan kurang jelas, mata kadang-kadang tidak tahan cahaya matahari langsung , telinga kurang mendengar atau butuh suara lebih keras dan indera perasa dan pembau juga kurang berfungsi dengan baik. Jika ini terjadi maka lansia akan bingung, apalagi kalau dalam lingkungan atau orang-orang yang tidak membantu.
  • Sistem pencernaan mengalami penurunan gerakan dan sekresi asam lambung yang akan menyebabkan, makanan sukar dicerna; sukar mengunyah atau tidak nyaman karena gigi yang hilang/berkurang; absorbsi yang berkurang sehingga kekurangan nutrisi.
  • Sistem pembuangan air seni yang menurun, seperti terjadinya penumpukan sisa-sisa metabolisme tubuh yang seharusnya dibuang yang disebabkan karena melambatnya fungsi penyaringan ginjal dan melambatnya aliran darah yang masuk ke ginjal.
  • Sistem hormon mengalami gangguan sekresi sehingga metabolisme sel tubuh tidak dapat diatur dengan baik dan tubuh tidak dapat bereaksi cepat terhadap tekanan dari luar. Misalnya banyak lansia yang mengalami diabetes.
  • Sistem reproduksi mengalami gangguan hormon seks, yang menyebabkan perubahan fisik, misalnya wanita berusia di atas 48 tahun tidak akan mengalami menstruasi. Namun dalam hal kebahagiaan dalam aktivitas seksual lansia tidak begitu terganggu karena tidak hanya hormon seks tapi juga karena pengaruh sikap dan emosi.
  • Sistem otot mengalami penurunan kekuatan dan kelenturan, disamping itu juga mengalami peningkatan jumlah lemak yang menggantikan otot. Tulang menjadi lebih ringan dan porositas tinggi, sehingga mudah patah dan lama tumbuh. Sendi dan otot di sekitarnya menjadi rusak.

Karena pengaruh sepuluh hal di atas, maka jika lansia memakai obat, umumnya akan terjadi pelambatan absorbsi, distribusi yang tidak dapat diprediksi, dan pelambatan biotransformasi dan ekskresi/eliminasi.

Disamping itu, karena pada saat bersamaan lansia mengalami beberapa gejala dan atau penyakit, maka umumnya diperlukan banyak obat, baik karena satu dokter memberikan banyak obat maupun lansia yang dirawat oleh beberapa dokter, bahkan juga memakai bebas. Keadaan ini kemungkinan besar akan menimbulkan interaksi antar obat dan juga dengan makanan atau minuman.

Aspek sosial dan psikologis lansia merupakan hal lain yang penting diperhatikan. Banyak keluarga yang menganggap adanya lansia menjadi masalah di rumah tangga. Hal ini terbukti dengan banyaknya lansia yang dikirim ke panti jompo atau disediakan pelayan/perawatan khusus. Seorang lansia tetap memerlukan kehidupan sosial seperti berteman kontak dengan anak, cucu, dll.

Namun karena kondisi serba berkurang , lansia kadang dianggap beban bagi orang lain, bisa saja apoteker, dokter dan tenaga kesehatan lain enggan melayani lansia karena mungkin lansia kurang menanggapi atau patuh minum obat, sehingga mungkin hasil pengobatan tidak tampak atau lambat.

Dengan pemahaman tentang geriatrik dan gerantologi termasuk memahami aspek sosial dan psikologi lansia, maka kepedulian dan kesediaan melayani lansia dengan baik akan terwujud. Hal ini sangat penting pada saat pemberian obat agar lansia ikut serta bertanggung jawab dan berpartisipasi aktif (concordance) dalam pengobatan, misalnya kapan dan bagaimana cara memakai obat.

Apoteker dan pendamping di rumah tangga dapat menjadi orang penting dalam mendukung, membantu, mengawasi, dan bahkan menjaga kondisi psikologis lansia.

Oleh sebab itu perlu perhatian khusus terhadap hal di atas, dengan pengertian apoteker atau tenaga kesehatan lain penting sekali memahami keadaan lansia dan permasalahannya di satu sisi dan interaksi, efek samping, kontra indikasi dan sebagainya dari obat yang diberikan.

Cara Pemberian Obat Pada Lansia

Cara Pemberian Obat Pada Lansia
Cara Pemberian Obat Pada Lansia familyherbal.net

Ketika dokter telah memilihkan obat bagi lansia dengan jenis dan dosis yang paling tepat, tugas selanjutnya adalah pemberian obat oleh apoteker. Apoteker hendaknya menjadi sumber informasi yang baik, peduli, hangat dan berpengetahuan yang cukup dalam melayani pasien lansia.

Saran berikut ini diharapkan mencapai terapi yang optimal melalui pemakaian obat yang tepat.

  1. Hal pertama adalah memastikan data/informasi tentang pasien dan kondisinya. Kekurangan oksigen ke otak, efek samping obat dan beberapa penyakit yang dapat menyebabkan lansia kurang mengenal dirinya atau setidaknya kondisi fisik, sosial dan psikologinya. Jadi dapat saja terjadi lansia ditanya atau dipanggil tidak menjawab.
  2. Jelaskan apa yang akan kamu lakukan/sampaikan untuk melayani lansia agar yang bersangkutan dan mau bekerja sama dalam pemakaian obat. Kadang-kadang lansia takut memakai obat mungkin karena tidak paham. Penjelasan yang ramah dan kesabaran untuk mendengarkan akan membantu pengobatan.
  3. Jelaskan tentang obat yang akan dipakai. Mungkin saja lansia karena pengalamannya, pernah mengalami ketidaknyamanan dalam memakai obat. Jadi perlu ditanyakan atau dijelaskan untuk tidak perlu khawatir dan sampaikan manfaat yang akan dirasakan sambil menjelaskan dengan hati-hati kemungkinan efek samping yang akan terjadi dan cara menghadapi atau mengatasinya.
  4. Karena biasanya jenis obat yang dipakai banyak dan kemungkinan ada penolakan/ketidakpatuhan lansia, maka jelaskan obat yang paling penting mana yang harus dipakai. Minta keluarga atau siapapun yang bisa menjadi pengawas memakai obat (PMO) untuk membantu dan mengawasi pemakaian obat.
  5. Jika lansia sukar memakai obat dapat dibantu dengan minum obat bersama makanan atau minuman yang sesuai. Hati-hati terhadap obat yang tidak tahan terhadap asam, jangan diberikan dengan jus buah; atau obat-obatan yang tidak tahan basa jangan diminum dengan susu.
  6. Jelaskan, bila perlu berikan catatan. Jika pasien bingung mintalah keluarga/PMO membantu menjelaskan. Kebingungan mungkin disebabkan kondisi fisik/psikologis atau karena efek samping obat.
  7. Jika pasien lansia mengalami kurang pendengaran dan atau penglihatan, kamu perlu menyesuaikan diri, misal bicara dengan mengatur tinggi dan rendah intonasi dan artikulasi suara pada saat memberikan penjelasan atau instruksi serta memberikan waktu untuk menjawab. Jika perlu buat tulisan yang jelas dengan huruf besar.
  8. Perhatikan interaksi, baik sesama obat atau dengan makanan/minuman, termasuk kemungkinan penyalahgunaan obat bebas, herbal, atau alat tradisional.
  9. Jika obat memerlukan waktu panjang (obat-obat penyakit generatif seperti antihipertensi dan antidiabetes) atau harus dalam ukuran dosisis/kuur yang tepat (antibiotik).
  10. Perlu penjelasan tentang penyimpanan obat dengan baik dan menjaganya untuk tidak salah memakai dan menyimpan obat.
  11. Jika ada obat-obatan yang diberi cara penggunaan “Bila Perlu” maka perlu penjelasan tentang mengapa dan apa tujuan penggunaan “Bila Perlu”. Misalnya analgetik tidak lagi dipakai jika rasa sakit sudah hilang.

Itulah beberapa hal mengenai pemberian/pemakaian obat pada lansia yang wajib diketahui oleh pelayanan kefarmasian dan medis. Shere informasi ini ke rekan sesama rekan profesimu 🙂

Avatar
Akmal Bahtiar, S. Si. Lulusan S1 Farmasi Unhas, Makassar. Memiliki sedikit pengalaman dalam dunia tulis menulis, terobsesi dengan design dan optimasi website.