Apa Sih Rahasia Apoteker Bisa Baca ‘Tulisan Dokter’ yang Jeleknya Minta Ampun Itu?

Sering menemukan ‘tulisan dokter’ yang sangat sulit dibaca? Tapi apakah kamu pernah melihat apoteker sulit memahami tulisan tersebut? Itu bukan tulisan jelek ya, tapi bahasa Latin memang seperti itu.

Jadi seperti dijelaskan oleh Andi Eko Wibowo, S. Farm., M.SC., Apt., bahwa sebelum menjadi apoteker memang ada materi yang mempelajari simulasi resep ala dokter dan itu tidak hanya pada satu mata kuliah, ada beberapa mata kuliah juga disitu. Ada mata kuliah bahasa Latin, karena sebagaimana diketahui bahwa resep dokter itu ditulis berdasarkan bahasa latin.

Mengapa menggunakan bahasa Latin? Karena bahasa Latin telah menjadi bahasa mati, sudah tidak berubah-ubah lagi. Nah, jadi mengapa masyarakat umum itu kesusahan membaca resepnya? Karena itu adalah simbol-simbol dari bahasa latin.

Selain bahasa latin itu juga nanti ada mata kuliah dispensing. Dispensing adalah menyiapkan obat dari resep itu. Karena resep adalah sarana komunikasi dari dokter ke apoteker.

Lalu, berapa lama waktu yang dibutuhkan seorang apoteker dalam mempelajari simulasi resep dokter ini? Jawabannya adalah secara keseluruhan selama empat tahun plus satu tahun.

Sebagai apoteker, apakah ada kesulitan memahami tulisan resep ala dokter ini? Itu bukan tulisan jelek. Sekali lagi, itu memang bahasa latin seperti itu. Adapun kalau masyarakat menganggap tulisan itu jelek karena juga untuk menghindari penyalahgunaan obat.

Nah, sudah paham kan mengapa tulisan ala dokter sulit dipahami, tetapi bisa dibaca dengan mudah oleh apoteker? Untuk lebih jelasnya, simak video wawancaranya di bawah ini.

Mengapa Latin Menjadi Bahasa yang Mati

Walaupun bahasa Latin banyak mempengaruhi bahasa yang ada saat ini, namun bahasa ini tidak digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Hal itu yang kemudian membuat bahasa Latin mati. Namun apa yang menjadi alasan dari kematian bahasa tersebut?

Baca juga:  Kasus Resistensi Antibiotik di Indonesia Semakin Memburuk, Peran Apoteker Semakin Dibutuhkan

Ketika gereja mulai mengembangkan pengaruhnya ke Roma kuno, Latin menjadi bahasa resmi dari kekaisaran Roma. Latin menjadi bahasa komunikasi, pendidikan, dan ilmu pengetahuan internasional.

Latin saat ini dianggap sebagai bahasa yang mati, namun masih digunakan dalam beberapa konteks tertentu, meski tidak memiliki penutur bahasanya. Dalam sejarahnya, bahasa Latin tidak sepenuhnya mati setelah berubah menjadi bahasa Perancis, Spanyol, Portugis, Italia, dam Rumania.

Kelima bahasa ini menggabungkan tata bahasa dan lainnya dari bahasa Latin. Setiap bahasa berkembang sesuai dengan keadaan daerahnya masing-masing di Kekaisaran Barat Roma. Ketika kekaisaran itu jatuh, bahasa Latin pun mati, dan bahasa yang baru pun lahir.

Hal lain yang menjadi alasan mengapa Latin mengalami kematian bahasa adalah karena kerumitannya. Dengan tidak adanya kekuatan untuk mengenalkan serta standarisasi penggunaan bahasa Latin klasik, hal itu yang menyebabkan hilangnya penggunaan bahasa Latin dalam kehidupan sehari-hari.

Latin yang vulgar sendiri secara esensi merupakan bahasa ibu yang bertahan sementara, lalu tenggelam oleh bahasa lokal yang berkembang di area tersebut. Pada akhir abad ke-16, orang-orang berbeda daerah dari kekaisaran sebelumnya tak lagi saling mengerti satu sama lain. Latin pun mati sebagai bahasa yang seharusnya hidup.

Saat ini, bahasa Latin masing sering digunakan pada area teknis, terminologi medis, dan taksonomi, sebuah sistem klasifikasi spesies. (Source: nationalgeographic.co.id)

LIHAT SELENGKAPNYA

BioFar.ID

Situs informasi dan edukasi Indonesia yang khusus menyajikan konten menarik dan segar seputar kedokteran, farmasi, dan kesehatan masyarakat.

Apa komentar kamu?

Back to top button