Kekerasan pada Anak: Jenis-jenis, Penyebab dan Bahayanya

5 min read

Kekerasan pada anak

KEKERASAN PADA ANAK – Ada sebagian kondisi yang menyulitkan orang tua dalam menghadapi buah hati sehingga tanpa disadari mengatakan atau melaksanakan sesuatu yang tanpa disadari melakukan kekerasan pada anak yang bisa membahayakan atau melukai anak, biasanya tanpa alasan yang terang. Kejadian seperti inilah yang disebut kekerasan pada anak.

Dalam beberapa riset penelitian, kekerasan pada anak dapat mencakup: penyiksaan jasmaniah, penyiksaan emosi, pelecehan seksual, dan pengabaian.

Unsur-elemen yang mendorong terjadinya tindak kekerasan pada anak antara lain immaturitas/ketidakmatangan orang tua, kurangnya pengetahuan bagaimana menjadi orang tua, kemauan yang tak realistis kepada kecakapan dan perilaku anak, pengalaman negatif masa kecil dari orang tua, isolasi sosial, permasalahan rumah tangga, serta permasalahan obat-obat terlarang dan alkohol.

Ada juga orang tua yang tak menyenangi peran sebagai orang tua sehingga terlibat pertentangan dengan pasangan dan tanpa menyadari bayi/buah hati menjadi target amarah dan kebencian.

Kekerasan Pada Anak Secara Jasmaniah

Kekerasan Pada Anak Secara Jasmaniah
©fanpop.com

Semua bentuk kekerasan pada anak secara lahiriah/jasmani terjadi saat orang tua frustrasi atau naik pitam, kemudian melaksanakan tindakan-tindakan agresif secara lahiriah, bisa berupa cubitan, pukulan, tendangan, menyulut dengan rokok, membakar, dan tindakan – tindakan lain yang bisa membahayakan si kecil.

Sangat susah dibayangkan bagaimana orang tua bisa melukai anaknya. Kerap kali penyiksaan lahiriah yakni hasil dari hukuman jasmani yang bertujuan menegakkan disiplin, yang tidak sesuai dengan usia si kecil. Banyak orang tua mau menjadi orang tua yang bagus, tapi lepas kendali dalam memecahkan perilaku sang anak.

Efek dari penyiksaan fisik

Kekerasan pada anak yang berlangsung berulang-ulang dalam bentang waktu lama akan memunculkan cedera serius terhadap anak, dan meninggalkan bekas baik jasmani atau pun psikis, si kecil menjadi menarik diri, merasa tidak aman, sukar memaksimalkan trust kepada orang lain, perilaku merusak, dan sebagainya.

Lainnya, seandainya kejadian berulang ini terjadi karenanya progres recoverynya membutuhkan waktu yang lebih lama pula.

Kekerasan Pada Anak Secara Emosional

Kekerasan Pada Anak Secara Emosional
©tavovaikas.lt

Penyiksaan emosi yaitu seluruh perbuatan merendahkan atau meremehkan orang lain. Apabila hal ini menjadi pola perilaku karenanya akan mengganggu pengerjaan perkembangan buah hati selanjutnya. Hal ini dikarenakan konsep diri anak terganggu, selanjutnya buah hati merasa tidak berharga untuk dicintai dan dikasihi. Anak yang terus menerus dipermalukan, dihina, diancam atau ditolak akan menimbulkan penderitaan yang tidak parah akibatnya dari penderitaan lahiriah.

Bayi yang menderita deprivasi (kekurangan) keperluan dasar emosional, meskipun secara jasmaniah terpelihara dengan bagus, biasanya tak bisa bertahan hidup. Deprivasi emosionil tahap awal akan menjadikan bayi tumbuh dalam kecemasan dan rasa tidak aman, dimana bayi lambat perkembangannya, atau alhasil mempunyai rasa percaya diri yang rendah.

Macam-macam Bentuk Kekerasan Pada Anak Secara emosional

Penolakan

Orang tua mengatakan kepada buah hati bahwa dia tak diharapkan, mengusir buah hati, atau memanggil anak dengan sebutan yang kurang menyenangkan. Kadang buah hati menjadi kambing hitam segala keadaan sulit yang ada dalam keluarga.

Tak diamati

Orang tua yang mempunyai permasalahan emosionil lazimnya tak dapat menanggapi kebutuhan buah hati-anak mereka. Orang tua macam ini mengalami permasalahan kelekatan dengan anak. Mereka memperlihatkan sikap tidak tertarik pada si kecil, sukar memberi beri sayang, atau malah tidak menyadari akan absensi buah hatinya.

Banyak orang tua yang secara lahiriah senantiasa ada disamping si kecil, melainkan secara emosional sama sekali tidak memenuhi keperluan emosional buah hati.

Ancaman

Orang tua mengkritik, menghukum atau bahkan mengancam si kecil. Dalam jangka panjang kondisi ini mengakibatkan anak terlambat perkembangannya, atau pun terancam kematian.

Isolasi

Formatnya bisa berupa orang tua tidak mengijinkan anak meniru kegiatan bersama teman sepermainannya, atau bayi dibolehkan dalam kamarnya sehingga kurang mendapat stimulan dari lingkungan, buah hati dikurung atau dilarang makan sesuatu sampai waktu tertentu.

Pembiaran

Memperkenankan buah hati terlibat penyalahgunaan obat dan alkohol, berlaku kejam kepada binatang, memandang tayangan porno, atau terlibat dalam tindak kejahatan seperti mencuri, berjudi, berbohong, dan sebagainya. Untuk anak yang lebih kecil, memperkenankannya menonton adegan-adegan kekerasan dan tidak masuk logika di layar kaca termasuk juga dalam klasifikasi penyiksaan emosional.

Efek Dari Penyiksaan Emosional

Kekerasan pada anak dalam bentuk penyiksaan emosional sukar diidentifikasi atau didiagnosa karena tidak meninggalkan bekas yang kongkrit seperti penyiksaan lahiriah. Dengan semacam itu, usaha untuk menghentikannya juga tak gampang.

Jenis penyiksaan ini meninggalkan bekas yang tersembunyi yang termanifestasikan dalam sebagian format, seperti kurangnya rasa percaya diri, kesusahan membina persahabatan, perilaku merusak seperti tiba-tiba membakar barang atau berperilaku kejam terhadap binatang, beberapa mengerjakan agresi, menarik diri, penyalahgunaan obat dan alkohol, maupun kecenderungan bunuh diri.

Pelecehan Seksual

Pelecehan seksual
©republika.co.id

Sampai saat ini tidaklah mudah dalam membahas kekerasan pada anak bentuk yang satu ini, atau untuk menyadarkan masyarakat bahwa pelecehan seksual pada tiap-tiap umur – termasuk bayi – mempunyai angka yang sangat tinggi. Majalah Hopper (2004) mengemukakan bahwa hal ini terjadi tiap hari di Amerika Serikat.

Pelecehan seksual pada anak ialah keadaan dimana buah hati terlibat dalam kegiatan seksual di mana si kecil sama sekali tak menyadari, dan tidak cakap mengkomunikasikannya, atau pun tidak tahu arti tindakan yang diterimanya.

Segala perbuatan yang melibatkan anak dalam kesenangan seksual masuk dalam kelompok ini:

  • Pelecehan seksual tanpa sentuhan. Termasuk di dalamnya sekiranya si kecil mengamati pornografi, atau exhibitionisme, dll.
  • Pelecehan seksual dengan sentuhan. Segala tindakan si kecil meraba organ seksual orang dewasa termasuk dalam klasifikasi ini. Atau adanya penetrasi ke dalam vagina atau anak dengan benda apa saja yang tak memiliki tujuan medis.
  • Eksploitasi seksual. Mencakup seluruh tindakan yang menyebabkan buah hati masuk dalam tujuan prostitusi, atau memakai buah hati sebagai teladan foto atau film porno.

Ada beberapa indikasi yang harus kita observasi berhubungan dengan pelecehan seksual yang mungkin menimpa si kecil seperti keluhan sakit atau gatal pada Miss V buah hati, kesulitan duduk atau berjalan, atau menampilkan gejala kelainan seksual.

Efek Pelecehan Seksual

Banyak sekali akibat buruk yang dimunculkan dari pelecehan seksual. Pada buah hati yang masih kecil dari yang biasanya tak mengompol jadi mengompol, mudah merasa takut, perubahan pola tidur, kecemasan tak beralasan, atau pun simtom jasmaniah seperti sakit perut atau adanya masalah kulit, dsb.

Pada remaja, mungkin secara tak diduga menyulut api, mencuri, melarikan diri dari rumah, mandi terus menerus, menarik diri dan menjadi pasif, menjadi agresif dengan sahabat kelompoknya, prestasi belajar menurun, terlibat melanggar hukum, penyalahgunaan obat atau alkohol, dll.

Pengabaian anak

Pengabaian anak
©pixabay.com

Pengabaian kepada si kecil termasuk penyiksaan secara pasif, yaitu seluruh ketiadaan perhatian yang memadai, baik fisik, emosi maupun sosial. Pengabaian anak banyak dilaporkan sebagai kasus terbesar dalam kasus penganiayaan terhadap anak dalam keluarga.

Tipe-tipe pengabaian si kecil

Pengabaian fisik yakni kasus terbanyak. Semisal keterlambatan mencari bantuan medis, pengawasan yang kurang memadai, serta tak tersedianya keperluan akan rasa aman dalam keluarga.

Pengabaian pendidikan terjadi dikala anak seakan-akan mendapat pendidikan yang cocok walaupun buah hati tak dapat berprestasi secara maksimal. Lama kelamaan hal ini bisa mengakibatkan prestasi sekolah yang kian menurun.
Pengabaian secara emosionil bisa terjadi seumpama ketika orang tua tak menyadari ketidakhadiran si kecil saat ´ribut´ dengan pasangannya. Atau orang tua memberikan perlakuan dan beri sayang yang berbeda diantara anak-anaknya.

Pengabaian fasilitas medis. Hal ini terjadi di kala orang tua gagal menyediakan layanan medis untuk si kecil meskipun secara finansial memadai. Dalam beberapa kasus orang tua memberi pengobatan tradisional secara khusus dahulu, jika belum sembuh barulah kembali ke layanan dokter.

Efek pengabaian buah hati

Pengaruh yang paling nampak yaitu kurangnya perhatian dan beri sayang orang tua terhadap si kecil. Bayi yang dipisahkan dari orang tuanya dan tak mendapat substitusi pengasuh yang memadai, akan mengoptimalkan perasaan tak aman, gagal mengoptimalkan perilaku akrab (Hurlock, 1990), dan berikutnya akan mengalami problem penyesuaian diri pada masa yang akan datang.

Unsur lain yang memberi pengaruh besar/kecil imbas yang diderita si kecil

Bahaya kekerasan pada anak
©zszywka.pl

Disamping seluruh kekerasan pada anak sebagaimana yang telah disebutkan di atas, ada beberapa hal yang memiliki andil dalam besar / kecilnya akibat yang diderita anak, antara lain:

  • Elemen umur si kecil. Kian muda umur si kecil karenanya akan memunculkan pengaruh yang lebih fatal.
  • Siapa yang terlibat. Jikalau yang melaksanakan penganiayaan ialah orang tua, ayah atau ibu tiri, atau anggota keluarga maka imbasnya akan lebih parah daripada yang melaksanakannya orang yang tidak dikenal.
  • Seberapa parah. Kian sering kali dan kian buruk perlakuan yang diterima buah hati akan memperburuk kondisi buah hati.
  • Berapa lama terjadi. Semakin lama kejadian berlangsung akan semakin meninggalkan syok yang membekas pada diri buah hati.
  • Kalau anak menyatakan penganiayaan yang dialaminya, dan menerima dukungan dari orang lain atau member keluarga yang bisa mencintai, mengasihi dan memperhatikannya karenanya kejadiannya tidak menjadi lebih parah sebagaimana bila si kecil justru tak dipercaya atau disalahkan.
  • Level sosial ekonomi. Hati pada keluarga dengan status sosial ekonomi rendah cenderung lebih menikmati pengaruh negatif dari penganiayaan anak.

Dalam sebagian kasus kekerasan pada anak tidak menampakkan gejala-gejala seperti di atas. Banyak faktor lain yang berimbas seperti seberapa kuat status mental buah hati, kemampuan si kecil mengatasi permasalahan dan penyesuaian diri.

Ada kemungkinan buah hati tidak ingin menceritakannya sebab takut diancam, atau pun dia mencintai orang yang menjalankan penganiyaan hal yang demikian. Dalam hal ini buah hati lazimnya menghindari adanya tindakan hukum yang akan menimpa orang-orang yang dicintainya, seperti orang tua, anggota keluarga atau pengasuh.

Hentikan kekerasan pada anak saat ini juga!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *