Manajemen Strategi Pengembangan Apotek

Setelah membaca materi strategi pengembangan apotek pada halaman ini, kamu pastinya akan dapat memahami beberapa poin penting, seperti mengetahui dan memahami pengertian manajemen strategis, dan memahami level strategis, terutama dalam hal pengembangan apotek.

Pengertian Manajemen Strategi

Kata strategi sangat familiar bagi kita semua, termasuk apoteker. Apoteker Pengelola Apotek pasti merumuskan dan menjalankan strateginya masing-masing agar apotek dapat bertahan dan berkembang. Saat ini banyak apotek buka, namun juga tidak sedikit yang kemudian tutup kembali.

Bisa jadi apotek yang tutup tersebut sebenarnya tidak memperhatikan keadaan lingkungan, tidak memiliki tujuan jangka panjang, tidak memiliki strategi, dan tidak pernah melakukan evaluasi diri.

Namun, tidak sedikit pula apotek yang kemudian memiliki cabang, atau bahkan membentuk PBF baru untuk saling mendukung.

Beberapa ahli telah mendefinisikan strategi seperti berikut ini.

  1. Pola atau rencana yang mengintegrasikan tujuan, kebijakan, dan tindakan organisasi ke dalam suatu keseluruhan yang menyatu (Mintzberg dan Quinn, 1991).
  2. Rencana menyeluruh dengan menggunakan sumber-sumber untuk menentukan posisi yang menguntungkan (Grant, 1995).
  3. Cara untuk mencapai tujuan jangka panjang (David, 2001).
  4. Rencana induk yang menyeluruh yang menyatakan bagaimana perusahaan akan mencapai misi dan tujuannya.

Manajemen strategi adalah suatu proses pemanejemenan untuk mewujudkan visi dan misi organisasi, menjaga hubungan lingkungan terutama stakeholder, pemilihan strategi, pelaksanaan strategi, dan pengendalian strategi untuk memastikan bahwa misi dan tujuan dapat tercapai.

Tugas Manajemen Strategi

Tugas manajemen strategis adalah sebagai berikut.

  1. Mengembangkan misi strategis dan misi bisnis
  2. Menentukan tujuan
  3. Merumuskan strategi untuk mencapai tujuan
  4. Mengimplementasikan dan melaksanakan strategi
  5. Mengevaluasi kinerja, mengkaji perkembangan baru, dan mengupayakan pembetulan.

Manajemen strategi memiliki model seperti berikut ini.

Model manajemen strategi
Model manajemen strategi (Wheelen dan Hunger, 2009)

Proses pemindaian lingkungan dilakukan pada lingkungan internal dan eksternal untuk melihat kapabilitas internal dan peluang pasar. Hasil tersebut merupakan dasar untuk merumuskan strategi mulai dari menentukan visi dan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan.

Setelah dirumuskan, empat hal tersebut kemudian diimplementasikan melalui program, anggaran, dan prosedur. Program anggaran dan prosedur yang telah diimplementasikan harus dievaluasi dan dikontrol untuk mengukur kinerja dan mengambil tindakan koreksi apabila diperlukan.

Baca juga:  Jaminan Mutu Pelayanan Apotek: Metode, Standar, dan Evaluasi Kepuasan Pasien

Tingkatan Strategi

Perumusan strategi bergantung level unit bisnis berada. Terdapat tiga tingkatan, yaitu tingkat korporat, tingkat unit bisnis, dan tingkat fungsional.

1. Tingkat Korporat

Strategi yang ada pada tingkat korporat adalah strategi korporat. Strategi korporat didefinisikan sebagai cara yang dilakukan oleh perusahaan untuk menciptakan nilai melalui konfigurasi dan koordinasi aktivitas-aktivitas pasar gandanya (Cavens dan Pierce, 2003).

Pada dasarnya, strategi korporat akan menjawab pertanyaan mengenai ruang lingkup bisnis. Isu-isu yang ada pada strategi korporat meliputi:

  • Bisnis-bisnis apa saja yang menjadi tempat bersaing berdasar daya tarik industri?
  • Bagaimana bisnis-bisnis (portofolio bisnis) dapat dikelola untuk mencapai sinergi? Menciptakan nilai lebih dengan bekerja sama dibandingkan jika beroperasi sebagai bisnis yang berdiri sendiri.

Menurut Wheelen dan Hunger (2009), terdapat tiga macam strategi pada tingkat korporat, yaitu:

a. Pertumbuhan (Growth)

Strategi pertumbuhan merupakan strategi yang didesain untuk mencapai pertumbuhan, baik pertumbuhan penjualan, pertumbuhan profit, aset, maupun kombinasinya.

Terdapat dua jenis pertumbuhan, yaitu pertumbuhan terkonsentrasi dan diversifikasi. Pertumbuhan terkonsentrasi berarti korporat hanya berada pada satu industri, sedangkan pertumbuhan pertumbuhan diversifikasi korporat merambah lebih dari satu industri.

  1. Pertumbuhan vertikal
    Pertumbuhan vertikal dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu integrasi ke depan dan ke belakang. Suatu pabrik obat yang kemudian tumbuh membuat distributor, dan kemudian membuat apotek merupakan salah satu contoh integrasi ke depan.
    Sebaliknya, jika dimulai dari apotek, kemudian tumbuh membuat distributor, dan akhirnya membuat pabrik obat merupakan integrasi ke belakang. Pada contoh tersebut, korporat tetap berada pada satu jenis industri saja, yakni industri obat/farmasi.
  2. Pertumbuhan horizontal
    Berbeda dengan pertumbuhan vertikal, pada pertumbuhan horizontal, korporat melakukan ekspansi dengan cara menambah operasinya di tempat yang berbeda, atau dengan menambah variasi produknya.
    Contoh dari pertumbuhan horizontal adalah apotek yang membuka cabang apotek lagi di lain tempat.
  3. Diversifikasi konsentrat
    Strategi diversifikasi konsentrat merupakan strategi meraih pasar baru dengan produk baru, namun masih sejalan (related) dengan bisnis sebelumnya.
    Sebagai contoh adalah bisnis apotek kemudian merambah ke dalam bisnis swalayan. Keduanya masih sejalan, yaitu pada taraf retail, tetapi komoditinya berbeda.
  4. Diversifikasi konglomerasi
    Berbeda dengan diversifikasi konsentrat, pada diversifikasi konglomerasi, produk barunya tidak berkaitan dengan produk yang lama.
    Sebagai contoh adalah dari bisnis apotek kemudian merambah ke bisnis penerbitan buku.
Baca juga:  Peran dan Tugas Apoteker di Apotek, Rumah Sakit, dan Klinik Kecantikan

b. Stabilitas

Strategi stabilitas merupakan strategi yang menjaga korporat tidak mengalami perubahan. Terdapat tiga substrategi dari stabilitas, yaitu:

  1. Berhenti sementara (pause)
    Strategi ini menyediakan waktu berhenti sejenak untuk selanjutnya menuju ke strategi tumbuh atau penciutan. Strategi ini mungkin dilakukan oleh korporat yang sebelumnya telah tumbuh dengan cepat. Waktu berhenti sejenak ini dimanfaatkan oleh korporat untuk melakukan konsolidasi sumber daya.
  2. Tidak berubah
    Korporat yang menjalankan strategi ini memilih untuk tidak melakukan hal baru.
  3. Profit
    Merupakan strategi untuk tidak melakukan hal baru pada kondisi yang sulit agar korporat terlihat hanya mengalami masalah dalam waktu sementara.

c. Penciutan

Strategi penciutan merupakan strategi korporat untuk mengurangi aktivitasnya. Strategi ini mungkin dilakukan ketika performa korporat sedang turun yang ditandai dengan penurunan profit ataupun penurunan penjualan.

Yang termasuk dalam strategi penciutan adalah:

  1. Turnaraound strategy
    Strategi ini menekankan pada efisiensi operasi. Strategi ini paling cocok untuk korporat ketika mengalami perluasan masalah, namun belum mencapai ke titik kritis.
  2. Sell-Out strategy
    Pada strategi ini, manajemen menjual perusahaan kepada korporat lainnya.
  3. Liquidation strategy
    Ketika tidak ada korporat lain yang berminat untuk membeli perusahaan yang sedang memburuk, tidak ada pilihan lain selain melikuidasi atau membuat bangkrut perusahaan.

2. Level Bisnis

Strategi pada level bisnis disebut strategi bisnis. Strategi ini merupakan cara yang dilakukan perusahaan untuk bersaing dalam satu industri atau satu pasar tertentu atau cara untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berkelanjutan dalam jangka panjang (Grant, 1995).

Pada prinsipnya, strategi bisnis akan menjawab pertanyaan bagaimana kita bersaing. Oleh karena itu, strategi ini disebut juga strategi kompetitif. Strategi bisnis meliputi:

a. Kepemimpinan biaya menyeluruh

Menciptakan posisi-biaya-rendah di antara pesaing, mengelola keterhubungan seluruh rantai nilai yang ada, dan mencurahkan upaya pada pengurangan biaya (overall low cost/cort leadership). Apotek dapat menerapkan strategi ini untuk bersaing dengan apotek yang ada di sekitarnya.

Baca juga:  19 Syarat dan Mekanisme Pengajuan Mendirikan Apotek

Strategi ini akan sesuai jika pasien memang sangat sensitif dengan harga. Penurunan harga bukan berarti penurunan kualitas. Kualitas tetap harus diutamakan. Cara-cara yang dapat dilakukan adalah mencari distributor yang memberikan diskon yang besar, namun tetap harus selektif dengan kondisi produk yang ada.

Ketika mendapatkan obat dengan harga yang lebih murah, apotek dapat menjualnya dengan harga yang lebih murah pula. Cara lain adalah dengan menghemat pengeluaran agar tetap ada keuntungan walaupun harga jual obat dikurangi.

b. Diferensiasi

Perusahaan menciptakan produk yang unik dan bernilai menurut pelanggan, memfokuskan pada atribut non-harga ketika pelanggan bersedia melanggar pada harga premium. Strategi ini dapat dilakukan untuk pasien yang tidak sensitif harga. Pasien lebih membutuhkan kualitas pelayanan yang prima.

c. Terfokus

Perusahaan memfokuskan lini produk yang sempit, kelompok kecil pembeli, atau pasar geograhs yang dituju kecil. Contoh dari strategi terfokus adalah apotek yang khusus untuk melayani suatu penyakit/ keadaan tertentu. Misal apotek yang khusus melayani pasien diabetes. Apotek ini hanya memfokuskan diri melayani pasien diabetes dengan item obat yang sangat lengkap untuk penyakit diabetes.

3. Tingkat Fungsional

Strategi fungsional merupakan pendekatan fungsional yang dilakukan untuk mendukung suksesnya strategi di tingkat korporat dan bisnis.

Beberapa strategi fungsional yang ada adalah sebagai berikut.

  • Strategi pemasaran
  • Strategi keuangan
  • Strategi penelitian dan pengembangan
  • Strategi pembelian
  • Strategi sumber daya manusia
  • Strategi informasi teknologi.

Pustaka:
Satibi, M. Rifqi Rokhman, Hardika Aditama. 2016. Manajemen Apotek. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press

Tinggalkan komentar