Akmal Bahtiar, S. Si. Lulusan S1 Farmasi Unhas, Makassar. Memiliki sedikit pengalaman dalam dunia tulis menulis, terobsesi dengan design dan optimasi website.

Sediaan Pasta (Uraian Teori dan Penjelasan Lengkap)

Sediaan pasta

Sediaan Pasta – Bertemu lagi sobat BioFar.ID, kali ini kita akan membahas secara lengkap mengenai salah satu sediaan farmasi semi solid, yaitu pasta.

Kita akan menguraikan secara lengkap teori-teori perihal sediaan pasta yang diambil dari berbagai sumber (buku) terpercaya yang banyak digunakan sebagai standar dan buku pegangan anak farmasi.

Jika kamu akan mengerjakan tugas pendahuluan (TP), laporan praktikum, makalah atau jurnal sediaan pasta, maka kamu sudah berada di halaman yang tepat. Semoga penjelasan yang kami berikan dapat membantu kamu menemukan penjelasan atau jawaban yang kamu inginkan.

Oke, silakan simak penjelasan lengkap mengenai sediaan pasta berikut ini.

Pengertian Pasta dalam Farmasi

  • Berdasarkan Fl IV : Pasta merupakan sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian topikal
  • Dispensing of Medication (Husa’s Pharm) : Pasta adalah produk seperti ointment untuk penggunaan eksternal yang dikarakterisasi dengan adanya bagian serbuk padat yang lebih banyak. Pasta lebih kental dan keras, serta kurang oklusif dibandingkan ointment lain.
  • Pharmaceutical Practice : Pasta merupakan ointment yang mengandung sekitar 50% serbuk yang terdispersi dalam basis berlemak, namus pasta kurang berlemak dibandingkan ointment karena serbuk akan mengabsorpsi sebagian hidrokarbon air.
  • Fornas : Pasta adalah sediaan berupa massa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luar, digunakan sebagai antiseptikum atau pelindung kulit.
  • Industri buku 2 : Pasta merupakan salep yang didalamnya ditambahkan zat padat yang tidak larut dalam konsentrasi yang tinggi, biasanya digunakan sebagai penghambat yang melindungi kulit, seperti pengobatan dengan masker atau pelindung muka dan bibir dari sinar matahari.
  • Pasta sama dengan salep digunakan untuk pemakaian luar kulit, namun perbedaannya dengan salep adalah kandungannya, secara umum persentase bahan padat pada pasta lebih besar dibandingkan salep. Oleh karena itu pasta lebih kental dan kaku, daya absorbsinya lebih besar dan kurang berlemak daripada salep yang dibuat dengan komponen yang sama.
  • Menurut DOM, pasta adalah sediaan semi padat dermatologis yang menunjukkan aliran dilatan yang penting. Ketika digunakan, pasta memiliki nilai yield tertentu dan tahan untuk mengalir meningkat dengan meningkatnya gaya pada penggunaan. Pasta biasanya disiapkan dengan menambahkan sejumlah serbuk yang tidak larut yang signifikan (biasanya 20% atau lebih) pada basis salep konvensional sehingga akan merubah aliran plastis dari salep menjadi aliran dilatan.
  • Menurut Scoville’s, pasta terkenal pada daerah dermatologi dan tebal, salep kental dimana pada dasarnya tidak melebur pada suhu tubuh, sehingga membentuk dan menahan lapisan pelindung pada area dimana pasta digunakan.
  • Menurut Prescription, pasta terbagi menjadi dua kelas seperti sediaan salep untuk penggunaan luar. Pasta berlemak seperti pasta ZnO dan pasta tidak berlemak mengandung gliserin dengan pektin, gelatin, tragakan dan lain lain. Pasta biasanya sangat kental atau kaku dan kurang berlemak dibandingkan dengan salep dimana bahan-bahan serbuk seperti pati, ZnO dan kalsium karbonat pada basisnya memiliki bagian yang tinggi.
  • Menurut Fl Edisi III, pasta adalah sediaan berupa masa lembek yang dimaksudkan untuk pemakaian luar. Biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin dan parafin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol, mucilago atau sabun. Digunakan sebagai antiseptik atau pelindung.

Jadi pengertian pasta secara umum, pasta adalah sediaan semi padat yang mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian luar/topikal. Biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau parafin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol, mucilago atau sabun.

Pasta ini serupa dengan salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk), suatu salep tebal, karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diolesi. Digunakan sebagai antiseptik atau pelindung kulit.

Karakteristik Pasta

Karakteristik dari sediaan pasta adalah :

  1. Daya absorbsi pasta lebih besar
  2. Sering digunakan untuk mengabsorbsi sekresi cairan serosal pada tempat pemakaian.
  3. Tidak sesuai dengan bagian tubuh yang berbulu.
  4. Mengandung satu atau lebih bahan obat yang ditujukan untuk pemakaian luar/topikal.
  5. Konsistensi lebih kenyal dari unguentum.
  6. Tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum.
  7. Memiliki persentase bahan padat lebih besar daripada salep yaitu mengandung bahan serbuk (padat) antara 40%-50%.

Macam-Macam Pasta

Adapun beberapa macam-macam dari pasta. Berikut ini adalah pembagiannya :

1. Pasta Berlemak

Pasta berlemak adalah suatu salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk). Pasta berlemak ternyata kurang berminyak dan lebih menyerap dibandingkan dengan salep karena tingginya kadar obat yang mempunyai afinitas terhadap air.

Pasta ini cenderung untuk menyerap sekresi seperti serum dan mempunyai daya penetrasi dan daya maserasi lebih rendah dari salep.

Contoh pasta berlemak adalah Acidi Salicylici Zinci Oxydi Pasta (RN. 1978), Zinci Pasta (RN. 1978) dan Resorcinoli Sulfurici Pasta (F.N. 1978).

2. Pasta Kering

Pasta kering adalah suatu pasta bebas lemak mengandung ± 60% zat padat (serbuk). Dalam pembuatan akan terjadi kesukaran bila dalam resep tertulis ichthanolum atau Tumenol Ammonim, zat ini akan menjadikan pasta menjadi encer. Contoh:

R/ Bentoniti 1
Sulfur praecip. 2
Zinci Oxydi 10
Talci 10
lchthamoli 0,5
Glycerini Aquae aa 5
S. ad us. ext.

3. Pasta Pendingin

Pasta pendingin adalah campuran serbuk minyak lemak dan cairan berair, dikenal dengan Salep Tiga Dara. Contohnya pada penggunaan zat aktif berupa zink oxide.

Zinc oxide merupakan suatu zat aktif yang memiliki aktivitas sebagai mild astringent dan UV protecting. Pasta Zinc Oxide ini dimaksudkan untuk menormalkan ketidakseimbangan fungsi kulit. Mild astringent yang dimaksud adalah mengecilkan jaringan kulit sehingga dapat melindungi jaringan kulit.

Sediaan pasta dipilih karena tidak meleleh pada suhu badan maka digunakan sebagai salep penutup atau pelindung. Pasta Zinc Oxide ini dimaksudkan untuk menormalkan ketidakseimbangan fungsi kulit, membantu mencegah kelainan, dan meregulasi kelenjar sebacea (Morkoc,2009).

R/ Zinci Oxydi
Olei Olivae
Calcii Hidroxydi Solutio aa 10

4. Pasta Dentifriciae (Pasta Gigi)

Pasta Dentifriciae (pasta gigi) adalah suatu campuran kental terdiri dari serbuk dan Glycerinum yang digunakan untuk pembersih gigi. Pasta gigi digunakan untuk pelekatan pada selaput lendir untuk memperoleh efek lokal. Misalnya, pasta gigi Triamsinolon Asetonida.

Produk Berbentuk Pasta

Suatu pasta gigi biasanya mengandung bahan abrasif, surface active agent, humektan, bahan pengikat, bahan perasa (Kidd dan Bechal, 1992). Bahan sintetik yang sering digunakan dalam pasta gigi pada umumnya mengandung bahan kimia toksik yang dapat menimbulkan masalah kesehatan, seperti fluorida, triklosan dan natrium lauril sulfat (EWG, 2014).

Pasta gigi adalah sediaan untuk memoles dan membersihkan permukaan gigi terdiri dari kalsium karbonat yang halus,dicampur dengan gliserin ditambah dengan ramuan untuk menghambat tumbuhnya bakteri dan memberi rasa segar supaya disukai pemakai atau konsumen, biasanya digunakan dengan sikat gigi (Van Hoeve,l984).

Fungsi utama pasta gigi adalah membersihkan gigi dari sisa sisa makanan atau minuman, menjaga gigi sebersih mungkin, menjaga kesehatan gigi dan gusi, menghilangkan bau yang tidak sedap dalam rongga mulut, menyegarkan dalam pernafasan, dapat mencegah kerusakan gigi yang disebabkan oleh aktivitas bakteri dalam mulut, mencegah teq’adinya karang gigi dan radang gusi (Depkes Ri, 1996).

Pemakaian pasta gigi yang tidak mengandung zat abbrasive akan menyebabkan terjadinya lapisan berwarna cokelat pada permukaan gigi, lapisan ini merupakan senyawa organik dan mudah hilang apabila dibersihkan dengan menggunakan pasta gigi yang mengandung senyawa pembersih (abbrasive).

Penggunaan senyawa abbrasive yang digunakan pada pasta gigi tidak boleh melebihi batas abbrasivitas karena dapat menimbulkan terjadinya abbrasi permukaan. (Mun’ay dan Rugg,1982).

Zat Penyusun Pasta Gigi

Pasta gigi pada umumnya mengandung senyawa pembersih, bahan pelembab, bahan pengikat, bahan pemanis, aroma, pengawet, deterjen, pewarna dan fluor (Murray dan Rugg, 1982).

Senyawa pembersih merupakan bagian terbesar dari isi pasta gigi atau setengahnya dari berat total pasta gigi. Sifat abbrasive terlihat sangat beragam tergantung kepada sistem abbrasive yang digunakan (Murray dan Rrgg, 1982).

Senyawa abbrasive yang sering digunakan pada komposisi pasta gigi antara lain dalam bentuk CaCOs, CaHPO+, CalIPAn.ZHzO, AlzOr.3H2O, SiO2 (Poucher, 1974).

Untuk mengukur daya abbrasive suatu senyawa pembersih digunakan CaCOl sebagai pembanding. Senyawa abbrasive digunakan untuk mencegah terjadinya lapisan cokelat pada permukaan gigi, dimana lapisan cokelat ini apabila dalam jumlah besar dapat mengurangi kekuatan gigi sehingga senyawa abbrasive khususnya unsur Ca dapat memberi kekuatan dan bentuk pada gigi (Almatsier, 2002).

Karena pasta merupakan suatu salep yang tebal, keras dan tidak meleleh pada suhu badan maka digunakan sebagai salep penutup atau pelindung. Contoh contoh produk yang berbentuk pasta adalah pasta gigi Paradontax

Beberapa komposisi bahan pada pasta gigi adalah :

  1. Agen abrasif
    Merupakan bahan kasar, seperti kalsium karbonat, dikalsium fosfat dihidrat, dan magnesium trisilikat. Agen abrasif berfungsi untuk membantu mengusir sisa makanan, bakteri, dan beberapa noda di gigi.
  2. Perasa
    Pemanis buatan, termasuk sakarin yang sering ditambahkan pada pasta gigi untuk membuat rasanya lebih baik. Rasa pasta gigi biasanya merupakan campuran dari beberapa komponen. Pasta gigi tersedia dalam banyak rasa, seperti rasa mint, lemon lime, dan bahkan rasa permen karet serta buah buahan (untuk anak anak). Mayoritas orang lebih memilih pasta gigi yang memiliki rasa mint yang membuat mulut terasa segar dan bersih, meskipun hanya beberapa menit. Sensasi ini biasanya timbul karena kandungan perasa dan detergen dalam pasta gigi yang menyebabkan iritasi ringan pada mukosa mulut.
  3. Pewarna
    Juga ditambahkan ke pasta gigi, seperti titanium dioksida untuk pasta putih dan berbagai pewarna makanan untuk pasta atau gel berwarna. Humektan. Digunakan dalam pasta gigi untuk mencegah hilangnya air dalam pasta gigi sehingga pasta gigi tidak menjadi keras ketika terkena udara saat dibuka. Humektan yang paling sering digunakan adalah gliserol dan sorbitol. Sorbitol dengan dosis besar dapat menyebabkan diare karena bertindak sebagai pencahar osmotik. FAO/WHO merekomendasikan penggunaan sorbitol dibatasi sebesar 150 mg/kg/hari. Oleh karena itu, penggunaan 60-70% pasta gigi yang mengandung sorbitol oleh anak kecil harus diawasi oleh orang tua.
  4. Zat pengikat
    Zat pengikat merupakan koloid hidrofilik yang mengikat air dan digunakan untuk menstabilkan formulasi pasta gigi dengan mencegah pemisahan fase padat dan fase cair. Contoh zat pengikat yang digunakan adalah karet alami (karaya dan tragakan), koloid rumput laut (alginat dan karet karagenan), dan selulosa sintetis (karboksirnetil selulosa dan selulosa hidroksietil).
  5. Deterjen
    Deterjen, seperti natrium lauril sulfat, menghasilkan busa ketika Anda menyikat gigi. Deterjen membantu menghilangkan tumpukan dan emulsi plak pada gigi (De gray jery, 2009).
  6. Fluoride
    Flouride sangat penting bagi kesehatan gigi karena penggunaan fluoride pada pasta gigi dapat mengurangi risiko karies gigi. Seperti dilansir dari dentalhealth, penurunan prevalensi karies gigi yang tercatat di negara negara maju selama 30 tahun terakhir dapat dikaitkan dengan meluasnya penggunaan pasta gigi yang mengandung fluoride. Sekarang ini, banyak pasta gigi yang mengandung 0,1% (1000 ppm) fluoride, biasanya dalam bentuk sodium monofluorofosfat (MFP). 100 g pasta gigi mengandung 0,76 g MFP (setara dengan 0,1 g fluoride).

Bakteri di mulut hidup dari gula dan pati yang menempel pada gigi setelah makan. Fluoride membantu melindungi gigi dari asam yang dilepaskan bakteri saat memakan gula dan pati tersebut. Hal ini dilakukan dalam dua cara. Pertama, fluoride membuat enamel gigi lebih kuat sehingga lebih kecil kemungkinannya untuk terjadi kerusakan gigi karena asam yang dilepaskan oleh bakteri. Kedua, fluoride dapat memineralisasi kembali daerah gigi yang sudah mulai membusuk sehingga kerusakan gigi tidak cepat terjadi.

Kandungan fluoride yang melebihi batas pada pasta gigi juga dapat merusak gigi. Kerusakan gigi yang disebabkan karena gigi terpapar fluoride dengan kadar sangat tinggi dinamakan fluorosis. Fluorosis biasanya terjadi pada anak anak. Fluorosis terjadi karena gigi anak terpapar fluoride yang tinggi pada pasta gigi saat anak berusia 8 tahun di mana gigi permanen baru mulai tumbuh.

Hal lain yang dapat menyebabkan fluorosis pada anak adalah karena anak dengan sengaja menelan pasta giginya. Mungkin karena rasanya enak seperti permen sehingga mereka berpikir ingin memakannya. Dampak dari fluorosis adalah warna gigi anak berubah, bisa warna gigi lebih gelap berkisar dari kuning ke coklat atau adanya tanda/bintik putih pada gigi.

Zat Berbahaya dalam Pasta Gigi

1. Fluoride

Fluoride suatu zat yang campur yang terdiri dari fluor dan elemen garam fluoride. Zat ini merupakan zat kimia, kunci dalam memproduksi bom. Fluoride sangat esensial untuk memproduksi uranium dan platinum untuk membuat senjata nuklir.

Fluoride juga yang dikenal sebagai bahan perekat pembuat pasta gigi atau odol adalah limbah pabrik aluminium yang digunakan untuk memproduksi racun lambung, insektisida dan racun tikus. Fluoride kini telah menggurita dalam bentuk jus, minuman bersoda, dan makanan berbasis air lainnya.

Zat ini merupakan zat yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan merupakan zat yang paling banyak digunakan dalam pasta gigi dengan minuman dan makanan.

2. Sodium Lauryl Sulfate

Sodium Lauryl Sulfate (SLS) atau Sodium Dodecyl Dulfate (SDS atau NaDS) (C12H25504Na) adalah surfaktan anion yang biasa terdapat dalam produk-produk pembersih. Garam kimia ini adalah organosulfur anion yang mengandung 12 ekor karbon terikat ke gugus sulfat, membuat zat kimia ini mempunyai sifat ambifilik yang merupakan syarat sebagai deterjen.

3. Sorbitol

Nama “sorbitol” berasal dari Sorbus, nama ilmiah untuk sejenis genus tumbuh-tumbuhan. Tumbuhan-tumbuhan bergenus sorbus inilah yang menghasilkan sorbitol. Tumbuhan lain yang juga menghasilkan sorbitol adalah rumput laut dan buah buahan seperti plum.

Selain dari bahan alam, sorbitol juga bisa dibuat secara sintetis. Sorbitol larut dalam air. Larutan sorbitol memiliki rasa manis dan tekstur mirip sirup. Tingkat rasa manis sorbitol kira kira setengah dari manis gula tebu

Bahaya Penggunaan Pasta Gigi

1. Pengapuran pada gigi dan tulang

Disebabkan oleh konsumsi fluoride yang memiliki sebutan “fluoritis” fluoride sangat reaktik dan masuk ke dalam tulang dan sel-sel kemudian berakumulasi memang permukaan akan menjadi keras tetapi giginya rapuh

2. Ostheoporosis dan arthritis

Para ilmuan di EPA (Enivorment Mental Protein Agency) di Washington telah menyampaikan bahwa ada alasan alasan untuk percaya bahwa meningkatnya jumlah sindroma carpel tunnel dan nyeri radang sendi adalah karena adanya fluoride dalam pasta gigi dan air minum.

3. Pinggul retak

Mengonsumsi fluoride yang ada dalam pasta gigi akan meningkatkan kemungkinan kemungkinan retak pinggul pada laki laki maupun wanita lanjut usia dengan ukuran 0,1 ppm pun tetap akan menghasilkan kenaikan tingkat secara statistik kasus retak pinggul.

4. Kanker

Fluoride ini diketahui juga merupakan carcinogen hal ini ditentukan oleh National Cancer Institute Toxicological program penelitian lebih lanjut yang dilakukan oleh Departemen Kesehatan New Jersey menginformasikan bahwa saat ini telah terjadi kenaikan sebesar 6,9 kali penderita kanker tulang pada laki laki muda.

Studi sebelumnya menemukan kenaikan hingga 5% atas penyakit kanker tipe apapun di dalam komunitas yang selama beberapa dekade di Institusi Kanker Nastional (AS) mengaku dalam dengar pendapat di kongres, melaporkan bahwa paling tidak 40.000 kematian akibat kanker pada tahun 1981 diakibatkan karena fluoride 40.000 kasus yang sebenarnya dapat dihindarkan hanya dengan tidak memasukan sisa industri ke dalam persediaan air bagi masyarakat.

Burk menyatakan bahwa “fluoride menimbulkan lebih banyak penyakit kanker, dan menimbulkannya lebih cepat dari pada zat zat kimia lainnya”.

5. Kerusakan otak

Fluoride mengurangi kapasitas kecerdasan manusia apalagi pada anak anak sangat rentan keracunan fluoride tingkat IQ lebih rentan dibanding anak anak yang tidak terekspos fluoride

6. Penyakit Al-Zheimer

Ada beberapa studi yang mengatakan aluminium dengan fluoride menunjukan bahwa keberadaan secara biologis zat alumunium menjadi meningkat dengan keberadaan fluoride yang menyebabkan aluminium di otak bertambah dua kali pada binatang, menurut artikel di wall street journal tertanggal 28 Oktober 1992, sebuah studi yang dilakukan oleh Varnier JA, berbunyi “tikus yang diberi dosis tinggi menunjukkan gerak terputus putus yang aneh ini merupakan ciri binatang yang udzur”.

Pengujian post mortem terhadap otak tikus, memperlihatkan hilangnya struktur sel sel yang “substansial”

7. Infertilitas

Pasta gigi yang mengandung fluoride juga sangat berpengaruh bagi infertilitas (kesuburan) pada wanita.

8. Bahaya Sodium Lauryl Sulfate

Bahan ini sangat lazim digunakan untuk membunuh tanaman dan serangga. Para produsen SLS dimasukan dalam kategori pestisida yang diperbolehkan dalam pertanian organik, tapi kemudian pestisida ini ditolak karena SLS sangat mencemari dan berdampak negatif terhadap lingkungan.

Ditemukan sebagai penyebab katarak pada mata orang dewasa dan terbukti menjadi penyebab ketidaksempurnaan pembentukan mata pada anak kecil. SLS sendiri tidak dikategorikan sebagai penyebab kanker karena SLS bercampur dengan Triethanolamine (T.E.A) yang merupakan bahan karsinogenik, yang kemudian disebut nitrosames. (De Gray, Jerry. 2009).

9. Karies gigi

  • Karies gigi (Streptococcus mutans) merupakan suatu penyakit dan sementum yang disebabkan aktivitas jasad renik yang ada dalam suatu karbohidrat yang diragikan. Proses karies yang ditandai dengan terjadinya demineralisasi pada jaringan keras gigi diikuti dengan kerusakan bahan organiknya. Karies gigi dapat dicegah dengan cara menghilangkan plak gigi. Salah satu pencegahannya adalah menggosok gigi dengan pasta gigi. Disamping itu gigi dapat berubah warna menjadi kuning akibat faktor intrinsik maupun ekstrinsik. Perubahan warna intrinsik adalah pewarnaan gigi oleh noda yang terdapat di dalam email dan dentin selama odontogenesis atau setelah erupsi gigi (Grossman et al.,1995).
  • Penyebab utama dari karies gigi adalah penumpukan plak gigi yang banyak mengandung bakteri (Dirks dan Helderman, 1993). Streptococcus mutans dan Staphylococcus aureus adalah bakteri yang berperan penting dalam pembentukan plak (Brooks dkk., 2005).

Formulasi Pasta

Pasta biasanya dibuat dengan mencampurkan bahan obat yang berbentuk serbuk dalam jumlah besar dengan vaselin atau paraffin cair atau dengan bahan dasar tidak berlemak yang dibuat dengan gliserol, musilago, atau sabun.

1. Vasellnum Album

Vaselln terdiri dari vaselin putih dan kuning. Vaselin putih adalah bentuk yang telah dimurnikan warnanya, karena pemucatan menggunakan asam sulfat anhydrous tidak larut dalam air, tidak tercucikan dengan air.

Kerugiannya adalah berlemak dan tidak dapat dikombinasikan dengan cairan yang mengandung air, hanya dapat menyerap air 5%, jarang dipengaruhi oleh udara, kelembaban kebanyakan bahan obat dan bahan kimia.

Vaselin digunakan pula sebagai pelumas, pelindung, penutup kulit, karena merupakan film penutup pada kulit yang mencegah penguapan.

2. Gliserol

Gliserol dipakai sebagai zat tambahan, antimikroba dan kelembapan. Pada dasarnya basis formulasi sediaan pasta tidak jauh berbeda dengan basis yang digunakan dalam formulasi sediaan salep, yaitu :

3. Basis hidrokarbon

Karakteristik :

  • Tidak diabsorbsi oleh kulit
  • Inert
  • Tidak bercampur dengan air
  • Daya adsorbs air rendah
  • Menghambat kehilangan air pada kulit dengan membentuk lapisan tahan air dan meningkatkan absorbsi obat melalui kulit.

Dibagi menjadi 5 yaitu: soft paraffin, hard paraffin, liquid paraffin, paraffin substitute, paraffin ointment. Contohnya adalah Vaselin, White Petrolatum/Paraffin, White Ointment.

4. Basis absorbsi

Karakteristik: bersifat hidrofil dan dapat menyerap sejumlah tertentu air dan larutan cair.

Basis absorbsi terbagi menjadi :

  • Non emulsi co. Basis ini menyerap air untuk memproduksi emulsi air dan minyak. Terdiri atas: Wool Fat, Wool Alcohols, Beeswax, dan Cholesterol.
  • Emulsi A/M co. Terdiri atas: Hydrous Wool Fat (Lanolin), Oily Cream.

5. Larut Air

Misalnya PEG (Polyethylene Glycol) yang mampu melarutkan zat aktif yang tak larut dalam air dan meningkatkan penyebaran obat.Bersifat stabil, tersebar merata, dapat mengikat pigmen dan higroskopis (mudah menguap), sehingga dapat memberikan kenyamanan pada pemakaian sediaan pasta.

6. Air misibel

Air misibel misalnya salep beremulsi

Keuntungan dan Kerugian dari Pasta

Suatu sediaan farmasi berupa pasta memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan sediaan farmasi bentuk lainnya, keunggulan sediaan pasta antara lain :

  1. Pasta dapat mengikat cairan lebih baik dari pada unguentum (salep).
  2. Pasta lebih melekat pada kulit. Pasta memiliki sifat melindungi, membentuk lapisan yang dapat menyerap dan menetralkan bahan kimia tertentu yang berbahaya sebelum mencapai permukaan kulit. Sifat ini karena adanya bahan tak terlarut pada formulasi pasta.
  3. Pasta dapat membentuk lapisan pelindung untuk menutupi luka pada kulit,serta mencegah luka yang lebih parah dari kulit yang tergores.
  4. Pasta memiliki kemampuan menyerap eksudat oleh sifat alami serbuk /komponen penyerap lain ketika dioleskan.
  5. Pasta dapat membentuk lapisan kedap air yang buram sehingga dapat digunakan sebagai sunblock.
  6. Konsistensi lebih kenyal dari unguentum.
  7. Tidak memberikan rasa berminyak seperti unguentum (salep).

Sedangkan kerugian sediaan pasta adalah :

  1. Karena sifat pasta yang kaku dan tidak dapat ditembus, pasta pada umumnya tidak sesuai untuk pemakaian pada bagian tubuh yang berbulu.
  2. Dapat mengeringkan kulit dan merusak lapisan kulit epidermis
  3. Dapat menyebabkan iritasi kulit.

Kelebihan pasta dibanding sediaan topikal yang lain yaitu pasta mengikat cairan sekret sehingga untuk luka akut lebih baik dibandingkan unguentum, bahan obat dalam sediaan pasta lebih melekat pada kulit sehingga meningkatkan daya kerja lokal, konsentrasi pasta lebih kental dari salep, dan daya absorpsi pasta lebih besar dan kurang berlemak dibandingkan dengan sediaan salep (Lieberman,1994).

Evaluasi Sedian Pasta

Untuk mengetahui kestabilan sediaan pasta, perlu dilakukan beberapa pengujian, yakni:

  1. Organoleptik, merupakan pengujian sediaan dengan menggunakan pancaindra untuk mendiskripsikan bentuk atau konsistensi (misalnya padat, serbuk, kental, cair), warna (misalnya kuning, coklat) dan bau (misalnya aromatik, tidak berbau). (Anonim, 2000).
  2. pH, prinsip uji derajat keasaman (pH) yakni berdasarkan pengukuran aktivitas ion hidrogen secara potensiometri/ elektrometri dengan menggunakan pH meter (Anonim, 2004). Caranya pengujian klik.
  3. Viskositas, viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, makin tinggi viskositas, akan makin besar tahanannya (Martin et al., 1993). Caranya pengujian klik.
  4. Penghamburan/daya sebar, uji penghamburan diartikan sebagai kemampuan untuk disebarkan pada kulit. Penemuannya dilakukan dengan Extensometer. Caranya yakni salep dengan volume tertentu dibawa ke pusat antara dua lempeng gelas, lempeng sebelah atas dalam interval waktu tertentu dibebani oleh peletakan dari anak timbang. Permukaan penyebaran yang dihasilkan dengan menaiknya pembebanan menggambarkan suatu karakteristik untuk daya hambur (Voigt, 1994).
  5. Resitensi panas, uji ini untuk mempertimbangkan daya simpan suatu sediaan salep atau gel dalam daerah iklim dengan perubahan suhu (tropen) nyata dan terus menerus. Caranya yakni salep dalam wadah tertutup diulang dan ditempatkan dalam pertukaran kontinue suhu yang berbeda beda (misalnya 20 jam pada 37°C dan 4 jam pada 40°C) dan ditentukan waktunya (Voigt, 1994).
  6. Pengamatan organoleptis. Pemerian dilakukan pada bentuk, warna,bau, dan suhu lebur.
  7. Homogenitas.
    Pengujian homogenitas dilakukan untuk mengetahui apakah pada saat proses pembuatan pasta bahan aktif obat dengan bahan dasarnya dan bahan tambahan lain yang diperlukan tercampur secara homogen.Persyaratannya harus homogen, sehingga pasta yang dihasilkan mudah digunakan dan terdistribusi merata saat penggunaan pada kulit. Alat yang biasanya digunakan pada uji homogenitas adalah roller mill, colloid mill, homogenizer tipe katup. Dispersi yang seragam dari obat yang tak larut dalam basis maupun pengecilan ukuran agregat lemak dilakukan dengan melalui homogenizer atau mill pada temperatur 30-40° C.- Letakan 0,5 gram sediaan pada obyek glass
    – Tutup dengan obyek glass yang lain
    – Amati homogenitasnya menggunakan lup.
  8. Uji Viskositas
    Viskositas adalah suatu pernyataan tahanan dari suatu cairan untuk mengalir, semakin tinggi viskositas, akan makin besar tahanannya. Nilai viskositas dipengaruhi oleh zat pengental, surfaktan yang dipilih, proporsi fase terdispersi dan ukuran partikel.
  9. Uji Stabilitas Fisik
    Stabilitas dapat didefinisikan sebagai kemampuan suatu produk untuk bertahan dalam batas yang ditetapkan dan sepanjang periode penyimpanan dan penggunaan, sifat karakteristiknya sama dengan yang dimilikinya pada saat produk dibuat (Dirjen POM,1995).Tujuan pemeriksaan kestabilan obat adalah untuk menjamin bahwa setiap bahan obat yang didistribusikan tetap memenuhi persyaratan yang ditetapkan meskipun sudah cukup lama dalam penyimpanan. Pemeriksaan kestabilan digunakan sebagai dasar penentuan batas kadaluarsa, cara cara penyimpanan yang perlu dicantumkan dalam label (Lachman, 1994).Ketidakstabilan formulasi dapat dilihat dari perubahan penampilan fisik, warna, rasa, dan tekstur dari formulasi tersebut, sedangkan perubahan kimia yang terjadi hanya dapat dipastikan melalui analisis kimia.
  10. Pemeriksaan konsistensi
    Penetrometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur konsistensi atau kekerasan semisolid.
  11. Pengukuran diameter globul rata-rata
    Pengukuran diameter globul rata rata dilakukan menggunakan mikroskop optik dengan perbesaran 100x.
  12. Penetapan kadar zat aktif
    Penetapan kadar dapat dilakukan dengan cara Kromatografi Cair Kinerja Tinggi (KCKT).
  13. Keseragaman sediaan
    Keseragaman sediaan dapat ditetapkan dengan menggunakan dua metode, yaitu keragaman bobot dan keseragaman kandungan. Persyaratan ini digunakan untuk sediaan yang mengandung dua atau lebih zat aktif.Persyaratan keragaman bobot diterapkan pada produk yang mengandung zat aktif 50 mg atau lebih yang merupakan 50% atau lebih , dari bobot satuan sediaan. Keseragaman dari zat aktif lain, jika dalam jumlah kecil ditetapkan dengan persyaratan keseragaman kandungan (Dirjen POM, 1995).
  14. Evaluasi fisik
    Berupa penampilan, distribusi ukuran partikel, homogenitas, konsistensi, uji kebocoran tube, isi minimum, pengukuran kecepatan pelepasan zat aktif dari sediaan dan Pengujian difusi zat aktif dari sediaan.
  15. Evaluasi kimia
    Berupa penetapan kadar zat aktif dan Identifikasi zat aktif.
  16. Evaluasi biologi
    Berupa uji Penetapan potensi antibiotika dan uji sterilitas.

Cara Pembuatan Pasta

Umumnya pasta dibuat dengan cara yang sama dengan salep. Tetapi, bahan untuk menggerus dan menghaluskan digunakan untuk membuat komponen serbuk menjadi lembut, bagian dari dasar ini sering digunakan lebih banyak dari pada minyak mineral sebagai cairan untuk melembutkan pasta.

Untuk bahan dasar yang berbentuk setengah padat, dicairkan terlebih dahulu, setelah itu baru kemudian dicampur dengan bahan padat dalam keadaan panas agar lebih tercampur dan homogen. Pembuatan pasta dilakukan dengan dua metode :

a. Pencampuran komponen dari pasta dicampur bersama sama dengan segala cara sampai sediaan yang rata tercapai.

b. Peleburan semua atau beberapa komponen dari pasta dicampurkan dengan meleburkannya secara bersamaan, kemudian didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen komponen yang tidak dicairkan biasanya ditambahkan pada campuran yang sedang mengental setelah didinginkan dan diaduk.

c. Bahan dasar pasta : vaselin, lanolin, adepslanae, unguentum simplex, minyak lemak dan parafin liquidum.

d. Pembuatan : Bahan dasar yang berbentuk setengah padat dicairkan lebih dulu, baru dicampur dengan bahan padat dalam keadaan panas agar lebih tercampur dan homogen.

Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Agar Sediaan Berhasil

Bila meracik sediaan semisolid, peracik menyiapkan jumlah berlebih dari jumlah total sediaan. Dalam meracik sediaan ini diperhatikan :

  1. Tidak memakai bahan bahan yang pedas, mengiritasi,alergenik terhadap kulit atau tapak pemakaian lain kecuali kalau perlu untuk pengobatan.
  2. Pilih dasar atau pembawa yang membolehkan bahan aktif memberikan efek terapetik lokal atau sistemik.
  3. Kurangi ukuran partikel menjadi terkecil yang layak.
  4. Gabungkan bahan aktif dengan bahan bahan yang ditambahkan untuk mendapatkan cairan yang uniform atau dispersi padat dalam sediaan.
  5. Amati keseragaman

Proses Meracik (Compounding Process) Sediaan Pasta

Langkah-langkah berikut untuk meminimalkan kesalahan dan memaksimalkan tujuan penulis resep

  1. Pertimbangkan kecocokan resep yang akan diracik dengan syarat syarat keamanan dan tujuan pemakaian.
  2. Kerjakan perhitungan yang yang penting untuk mendapatkan jumlah bahan bahan yang diperlukan.
  3. Identifikasi alat alat yang diperlukan
  4. Pakai pakaian yang tepat dan cuci tangan
  5. Bersihkan daerah peracikan dan alat yang diperlukan.
  6. Hanya satu resep yang harus diracik pada satu waktu dalam suatu peracikan yang ditentukan.
  7. Kumpulkan semua bahan bahan untuk meracik resep
  8. Racik sediaan dengan mengikuti catatan formulasi (formulation record) Proses meracik (lanjutan)
  9. Nilai variasi berat, kecukupan pencampuran, kejernihan, bau, warna, konsistensi, dan pH setepatnya.
  10. Bubuhi keterangan catatan racikan dan jelaskan rupa sediaan
  11. Beri label wadah resep dengan memasukkan item berikut: a) nama sediaan, b) nomor identifikasi internal, c) initial compounder, d) penyimpanan yang diperlukan, dan pernyataan yang diperlukan berdasarkan undang undang.
  12. Tandatangani dan beri tanggal resep yang menegaskan bahwa semua prosedur telah dikerjakan untuk menjamin keseragaman, identitas, kekuatan,kuantitas, dan kemurnian.
  13. Bersihkan semua peralatan dan simpan dengan tepat (Bangun, 2004).

Metode Pembuatan Pasta

Metoda pembuatan skala lab dan industri

a. Pembuatan pasta skala laboratorium

Umumnya pasta dibuat dengan cara yang sama dengan salep. Tetapi, bahan untuk menggerus dan menghaluskan digunakan untuk membuat komponen serbuk menjadi lembut, bagian dari dasar ini sering digunakan lebih banyak daripada minyak mineral sebagai cairan untuk melembutkan pasta.

Untuk bahan dasar yang berbentuk setengah padat, dicairkan terlebih dahulu, setelah itu baru kemudian dicampur dengan bahan padat dalam keadaan panas agar lebih tercampur dan homogen.

Pembuatan pasta dilakukan dengan dua metode :

1. Pencampuran

Komponen dari pasta dicampur bersama sama dengan segala cara sampai sediaan yang rata tercapai.

2. Peleburan

Semua atau beberapa komponen dari pasta dicampurkan dengan meleburkannya secara bersamaan, kemudian didinginkan dengan pengadukan yang konstan sampai mengental. Komponen komponen yang tidak dicairkan biasa nya ditambahkan pada campuran yang sedang mengental setelah didinginkan dan diaduk.

b. Pembuatan pasta skala industri

  1. Penentuan bahan yang berkualitas
  2. Tes sterilisasi awal
  3. Sterilisasi terminal dari pasta
  4. Filtrasi agar jenih
  5. Pengerjaan penampilan
  6. Penggunaan LAF
  7. Uji stabilitas obat
  8. Tonisitas
    > Menurut kamus lengkap kedokteran hal 263 Tonisitas adalah tegangan otot yang sehat.
    > Menurut farmasi fisik hal 483
    Tonisitas larutan dapat ditentukan dengan menggunakan salah satu yaitu hemolisis, pengaruh berbagai larutan diperiksa berdasarkan timbulnya efek ketika disuspensi kan dengan darah.
    > Menurut SDF ha1358 Tonisitas mengacu pada tekanan osmotik yang diberikan oleh larutan atau padatan larutan ini. Tonisitas adalah membandingkan tekanan osmosa antara dua cairan yang dipisahkan oleh membrane semi permeabel.
  9. Viskositas
    Viskositas merupakan ukuran kekentalan suatu fluida yang bergerak dari satu tempat ke tempat lainnya, seperti kita ketahui setiap fluida atau zat yang memiliki ukuran kekentalan masing masing-misalnya minyak dan air,yang memiliki ukuran kekentalan yang berbeda.
  10. Pengemasan
    Pengemasan merupakan sistem yang terkoordinasi untuk menyiapkan barang menjadi siap untuk ditransportasikan, didistribusikan, disimpan.
  11. Pemeriksaan hasil dengan teliti
    Peralatan yang dibutuhkan untuk pembuatan sediaan semi padat untuk skala kecil (laboratorium) maupun untuk skala besar (industri) pada prinsipnya sama. Perbedaannya hanya pada kapasitas alatnya, pada skala laboratorium kapasitas peralatannya lebih kecil.

Basis/Pembawa Pasta

Pada dasarnya basis yang digunakan dalam formulasi sediaan pasta tidak jauh berbeda dengan basis yang digunakan dalam formulasi sediaan salep, yaitu :

  1. Basis Hidrokarbon
    Karakteristik: Tidak diabsorbsi oleh kulit, inert, tidak bercampur dengan air, daya adsorbsi air rendah, menghambat kehilangan air pada kulit dengan membentuk lapisan tahan air dan meningkatkan absorbsi obat melalui kulit.
    Dibagi menjadi 5, yaitu : Soft paraffin, Hard paraffin, Liquid paraffin, Paraffin substitute, paraffin ointment Contoh: vaselin, White Petrolatum/paraffin, White Ointment
  2. Basis Absorbsi
    Karakteristik: bersifat hidrofil dan dapat menyerap sejumlah tertentu air dan larutan cair.
    Terbagi: Non emulsi co, basis ini menyerap air untuk memproduksi emulsi air dalam minyak.
    Terdiri atas: Wool fat, wool alcohols, beeswax and cholesterol.
    Emulsi A/M co, terdiri atas : Hydrous wool fat (lanolin), Oily cream.
  3. Larut Air
    Misalnya PEG (polyethylene Glycol) yang mampu melarutkan zat aktif yang tak larut dalam air dan meningkatkan penyebaran obat. Bersifat stabil, tersebar merata, dapat mengikat pygmen dan higroskopis (mudah menguap), sehingga dapat memberikan kenyamanan pada pemakaian sediaan pasta.
  4. Air misibel
    Misalnya salep beremulsi.

Cara Penyimpanan Sediaan Pasta

  • Simpan dalam wadah aslinya beserta label dan petunjuknya
  • Simpan pada tempat sejuk dan kering yaitu pada suhu kamar yang jauh dari sumber panas.
  • Ikuti petunjuk penyimpanan pada label kemasan obat Hindari meninggalkan obat di kamar mandi, mobil, atau di tempat yang lembab dan terlalu panas
  • Gunakan tempat khusus untuk menyimpan obat, lebih baik jika dalam lemari obat.
  • Simpanlah obat terpisah dari bahan makanan dan jangan sampai memindahkan tempat obat ke bekas tempat makanan.
  • Berikanlah catatan pada masing masing obat, terutama jika dalam keluarga mempunyai beberapa anak sehingga obat tidak tertukar.
  • Pastikan semua obat yang disimpan aman dari jangkauan anak-anak.
  • Obat yang harus di buang (dimusnahkan) yaitu jika:
    – Sudah melebihi tanggal kedaluwarsa dari yang tertera pada label obat.
    – Terjadi perubahan fisik obat yaitu terjadi perubahan warna, bau dan bentuk walaupun belum lewat tanggal kedaluwarsa.
    – Tidak diketahui identitas obat yang bisa menjelaskan tentang nama, kegunaan, cara penggunaan dan efek samping. Jangan menebak-nebak identitas obat yang tidak jelas. Jika membutuhkan informasi sebaiknya hubungi dokter atau apoteker.
  • Jangka waktu penyimpanan salep/pasta (tube) adalah selama 3 tahun. Pada obat-obat biasanya ada kandungan zat pengawet, yang dapat merintangi pertumbuhan kuman dan jamur
  • Cara memusnahkan obat yang sudah tidak terpakai sebaiknya tidak dibuang begitu saja ke tempat sampah, hal ini untuk menghindari ada yang mengambil kembali obat tersebut.

Cara Pemakaian Obat Pasta

  1. Cuci tangan
  2. Sediakan peralatan yang dibutuhkan, seperti obatnya dan tissue
  3. Posisikan diri dengan tepat dan nyaman, pastikan hanya membuka area yang akan diberi obat.
  4. Periksa kondisi kulit.
  5. Cuci area yang sakit, bersihkan semua kotoran pada kulit.
  6. Keringkan atau biarkan area kering oleh udara
  7. Oleskan obat (pasta) pada area kulit yang sakit
  8. Pastikan tangan yang digunakan untuk mengoleskan sudah bersih
  9. Jika sudah dioleskan, cuci tangan kembali.

Cara Absorpsi Pasta

1. Penetrasi

Penetrasi pasta ke dalam kulit dimungkinkan melalui dinding folikel rambut. Apabila kulit utuh maka cara utama untuk penetrasi masuk umumnya melalui lapisan epidermis lebih baik dari pada melalui folikel rambut atau kelenjar keringat.

Absorpsi melalui epidermis relatif lebih cepat karena luas permukaan epidermis 100 sampai 1000 kali lebih besar dari rute lainnya stratum korneum, epidermis yang utuh, dan dermis merupakan lapisan penghalang penetrasi obat ke dalam kulit.

Penetrasi ke dalam kulit ini dapat terjadi dengan cara difusi melalui penetrasi transeluler (menyeberangi sel), penetrasi interseluler (antar sel), penetrasi transepidageal (melalui folikel rambut, keringat, dan perlengkapan pilo sebaseus) ( Liebermann, 1996 ).

2. Disolusi

Disolusi didefinisikan sebagai tahapan dimana pasta mulai masuk ke dalam larutan dari bentuk padatnya atau suatu proses dimana suatu bahan kimia atau obat menjadi terlarut dalam pelarut.

Dalam sistem biologis pelarut obat dalam media aqueous merupakan bagian penting sebelum kondisi absorpsi sistemik. Supaya partikel padat terdisolusi molekul solut pertama-tama harus memisahkan diri dari permukaan padat, kemudian bergerak menjauhi permukaan memasuki pelarut (Liebermann. 1996).

3. Difusi

Difusi adalah suatu proses perpindahan massa molekul suatu zat yang dibawa oleh gerakan molekul secara acak dan berhubungan dengan adanya perbedaan konsentrasi aliran molekul melalui suatu batas, misalnya membran polimer.

Difusi pasif merupakan bagian terbesar dari proses trans-membran bagi umumnya obat. Tenaga pendorong untuk difusi pasif ini adalah perbedaan konsentrasi obat pada kedua sisi membran sel. Menurut hukum difusi Fick, molekul obat berdifusi dari daerah dengan konsentrasi obat tinggi ke daerah konsentrasi obat rendah (Liebermann. 1996).

Penggolongan Pasta

Ada dua kelompok utama pasta :

  1. Kelompok pasta yang dibuat dari gel fase tunggal mengandung air. Ex: pasta natrium carboksi metil celullosa (CMC)
  2. Kelompok pasta berlemak. Ex: pasta Zink oksida

Penggolongan Pasta (IMO)
Ada 3 macam pasta

  1. Pasta berlemak, merupakan salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat. Bahan dasar salep : vaselin, parafin cair. Jumlah lemak yang lebih sedikit dibanding serbuk padatnya harus dilelehkan dulu supaya homogen.
  2. Pasta kering, merupakan pasta bebas lemak mengandung 60% zat padat (serbuk)
  3. Pasta Pendingin

Prinsip Pemilihan Pasta

  • Pada kulit tidak berambut, secara umum dapat dipakai sediaan salep, krim, emulsi. Krim dipakai pada lesi kulit yang kering dan super fisial, salep dipakai pada lesi yang tebal (kronis)
  • Pada daerah berambut, lotion dan gel merupakan pilihan yang cocok
  • Pada lipatan kulit, formulasi bersifat oklusif seperti salep, emulsi W/O dapat menyebabkan maserasi sehingga harus dihindari.
  • Pada daerah yang mengalami eskoriasi formulasi berisi alkohol dan asam salisilat sering mengiritasi sehingga harus dihindari.
  • Sediaan cair dipakai untuk kompres pada lesi basah mengandung pus berkusta.

Teknik Pencampuran dalam Pembuatan Sediaan Semi Padat

Pencampuran adalah salah satu operasi farmasi yang paling umum. Sulit untuk menemukan produk farmasi dimana pencampuran tidak dilakukan pada tahap pengolahan.

Pencampuran dapat didefinisikan sebagai proses di mana dua atau lebih komponen dalam kondisi campuran terpisah atau kasar diperlakukan sedemikian rupa sehingga setiap partikel dari salah satu bahan terletak sedekat mungkin dengan partikel bahan atau komponen lain.

Proses ini melibatkan pencampuran gas, cairan atau padatan dalam setiap kombinasi dan rasio dua atau lebih komponen yang mungkin (Madinah, 2008).

Tujuan pencampuran adalah sebagai berikut.

  • Untuk memastikan bahwa ada keseragaman bentuk antara bahan tercampur yang dapat ditentukan dengan mengambil sampel dari bagian terbesar bahan dan menganalisisnya, yang harus mewakili komposisi dari keseluruhan campuran.
  • Untuk memulai atau meningkatkan reaksi fisika atau kimia seperti difusi, disolusi, dll (Madinah, 2008).

Umumnya pencampuran dilakukan untuk memperoleh jenis produk berikut.

  1. Ketika dua atau lebih cairan misibel dicampur bersama-sama, hasilnya dikenal sebagai larutan nyata.
  2. Ketika dua cairan imisibel dicampur dengan agen pengemulsi, hasilnya dikenal sebagai emulsi.
  3. Ketika padatan dilarutkan dalam suatu pembawa, hasilnya dikenal sebagai larutan.
  4. Ketika padat tidak larut dilarutkan dalam suatu pembawa, hasilnya dikenal sebagai suspensi.
  5. Ketika padatan atau cairan dicampur dengan basis semi padat, hasilnya dikenal sebagai salep atau supositoria.
  6. Ketika dua atau lebih bahan padat bersama, diperoleh serbuk yang bila diisi ke dalam kapsul dikenal sebagai kapsul dan ketika dikompresi di bawah tekanan tinggi disebut tablet (Madinah, 2008).

Campuran pasta dapat diklasifikasikan sebagai berikut :

1. Campuran positif

Jenis campuran ini terbentuk ketika dua atau lebih gas atau cairan misibel dicampur bersama-sama melalui proses difusi. Dalam hal ini tidak diperlukan energi, cukup hanya dengan memberikan waktu untuk pembentukan larutan. Jenis bahan ini tidak memberikan masalah dalam pencampuran (Bhatt & Agrawal, 2007).

2. Campuran negatif

Campuran jenis ini terbentuk ketika padatan tidak terlarut dicampur dengan pembawa untuk membentuk suspensi atau ketika dua cairan tidak saling larut yang dicampur untuk membentuk emulsi. Pencampuran ini lebih sulit disiapkan dan memerlukan tingkat dengan kekuatan pencampuran yang lebih tinggi komponen eksternal karena ada kecenderungan campuran ini terpisah kecuali jika terus diaduk (Bhatt & Agrawal, 2007).

3. Campuran netral

Banyak produk farmasi seperti pasta, salep, dan serbuk tercampur adalah contoh campuran netral. Produk tersebut statis dan komponennya tidak memiliki kecenderungan bercampur secara spontan tetapi sekali tercampur, mereka tidak akan terpisah dengan mudah (Bhatt & Agrawa], 2007).

Dalam semua jenis campuran, pencampuran dicapai dengan menerapkan satu atau lebih dari mekanisme berikut.

  • Convective mixing : perpindahan sekelompok partikel dalam jumlah besar terjadi dari satu bagian powder bed ke bagian lain. Convective mixing disebut sebagai selama convective mixing yang pencampuran makro.
  • Shear mixing : Selama shear mixing gaya geser terbentuk dalam massa bahan dengan menggunakan agitator arm atau blast of air.
  • Diffusive mixing : Selama diffusive mixing, bahan bahan miring sehingga gaya gravitasi menyebabkan lapisan atas tergelincir dan difusi partikel individu berlangsung di atas permukaan yang baru dikembangkan. Diffusive mixing disebut sebagai pencampuran mikro (Bhatt & Agrawal, 2007).

Mixing Guidelines

  1. Gunakan waktu yang cukup dalam pencampuran untuk memastikan bahwa polimer benar benar terhidrasi sebelum menambahkan komponen formulasi tambahan.
  2. Pencampuran yang berlebihan atau tidak tepat selama dispersi dapat menyebabkan udara terperangkap, variasi viskositas, dan/atau ketidak stabilan formulasi. Udara terperangkap dapat diminimalkan dengan menggunakan variable drive motor. Setelah polimer terdispersi, udara ter perangkap dapat diminimalkan dengan reposisi impeller dan mengurangi kecepatan pencampuran. Biarkan dispersi asam untuk melepaskan gelembung udara terperangkap.
  3. Dianjurkan melakukan pengadukan sedang.
  4. Setiap pencampuran intensitas tinggi yang diperlukan harus diselesaikan sebelum netralisasi.
  5. Hindari pencampuran high shear dengan waring blender atau rotor stator homogenizers. Pencampuran seperti itu dapat menggeser polimer dan menghasilkan kehilangan fungsionalitas permanen.
  6. Jika busa persisten dihasilkan, busa tersebut dapat hilang dengan merusak polimer secara parsial dengan penambahan asam dengan kadar yang sangat rendah sebelum menetralisir dispersi dengan basis yang cocok. Asam klorida atau fosfat memiliki efektivitas sebesar 0,5% dari berat polimer yang digunakan (Anonim, 2011).

Bentuk sediaan semi padat seperti salep dan krim digunakan untuk bagian eksternal. Sediaan ini sering digunakan ketika resep dokter memerlukan kombinasi dari dua atau lebih salep atau krim dalam rasio tertentu atau penggabungan obat ke dalam salep atau basis krim. Salep berbasis minyak dan krim berbasis air. Karena pencampuran langsung dari bahan bahan tidak selalu dapat dilaksanakan, penggabungan agen lain diperlukan untuk memastikan partikel berukuran halus.

  • Wetting agent : menggantikan udara dari partikel dan memungkinkan mereka untuk bercampur lebih baik. Contoh: alkohol.
  • Levigating agent : mengurangi ukuran partikel. Contoh: minyak mineral, gliserin
  • Suspending agent : zthickening agent yang memberikan struktur ke suspensi. Memungkinkan partikel mudah terdispersi. Contoh: karboksi metil selulosa, tragakan (Madinah, 2008).

Teori Pencampuran Sediaan Semi Padat

  • Pellet and powder state : penambahan sejumlah kecil cairan ke sebagian besar serbuk kering padatan menjadi bola dan membentuk pelet kecil. Pelet tertanam dalam matriks serbuk kering, yang memiliki efek bantalan dan membuat pelet sulit putus. Secara keseluruhan, zat padat ini mengalir bebas dan tingkat homogenisasinya rendah.
  • Pelet state : penambahan lebih lanjut dari hasil cairan dalam konversi serbuk kering berlebih menjadi pelet, sampai akhirnya semua bahan pelet tidak melekat dan agitasi akan menyebabkan agregat terurai menjadi butiran yang lebih kecil. Tingkat pencapaian homogenisasi bahkan lebih rendah daripada di tahap pelet dan serbuk dan adalah powder state bertujuan dalam bubuk untuk melembabkan granulasi tablet.
  • Plastic state : Sementara isi cairan meningkat lebih jauh, karakter campuran berubah secara nyata, agregat bahan menempel, penampilan granular hilang, campuran menjadi lebih atau kurang homogen. Sifat plastik muncul, campuran menjadi sulit untuk bergeser, yang mengalir pada tegangan rendah tetapi rusak di bawah tekanan tinggi. Homogenisasi dapat dicapai jauh lebih cepat daripada di kasus sebelumnya. Tingkat ini diperoleh misalnya ketika membuat massa pil.
  • Sticky state : penggabungan cairan terus menerus menyebabkan campuran mencapai keadaan lengket, penampilan menjadi seperti pasta, permukaan mengkilap, dan massa melekat pada permukaan padat. Massa mengalir dengan mudah, bahkan di bawah tekanan rendah, tetapi homogenitas dicapai secara perlahan.
  • Liquid state : akhirnya, penambahan cairan hasil penurunan konsistensi sampai tingkat cairan tercapai. Dalam keadaan ini, campuran mengalir menurut beratnya sendiri dan akan mengalirkan permukaan vertikal (Bhatt & Agrawal, 2007).

Disolusi Giometri Salep

Extemporaneous compounding salep dan krim seringkali melibatkan penggunaan mortir dan stamper, spatula dan ointment slab. Kunci untuk campuran homogen adalah menggunakan alat ini dengan baik dan menggabungkannya dengan metode dilusi geometrik dalam persiapan semua produk salep ateu krim.

Pengenceran geometris adalah proses dimana campuran homogen atau bahkan distribusi dua atau lebih zat tercapai. Bila menggunakan metode ini, jumlah terkecil bahan aktif dicampur secara menyeluruh dengan volume pengencer atau basis pada ointment slab yang sama.

Pengencer atau basis berlebih ditambahkan dalam jumlah yang sama dengan volume dari campuran pada ointment slab. Proses ini diulang sampai semua pengencer atau basis dimasukkan ke dalam campuran. Meskipun metode ini memakan waktu, namun akan membuat campuran homogen atau dispersi halus dari obat salep atau krim (Madinah, 2008).

Alat Pencampur Sediaan Semi Padat

1. Spatula

Spatula biasanya digunakan untuk memindahkan bahan padat seperti serbuk, salep, atau krim. Mereka juga digunakan untuk mencampur bahan bersama sama menjadi campuran homogen. Spatula tersedia dalam stainless steel, plastik dan hard rubber. Jenis spatula yang digunakan tergantung pada apa yang sedang dipindahkan atau dicampur (Madinah, 2008).

2. Mortir dan stamper

Mortir dan stamper digunakan untuk menggiling partikel ke dalam bubuk halus (triturasi). Penggabungan cairan (levigasi) dapat mengurangi ukuran partikel lebih lanjut. Mortar dan stamper terbuat dari kaca, porselin, wedgwood atau marmer. Kaca lebih baik digunakan untuk pencampuran bentuk sediaan cairan dan semi padat (Madinah, 2008).

3. Water bath

Fungsi utama dari water bath adalah untuk menciptakan suhu yang konstan dan digunakan untuk inkubasi pada analisis mikrobiologi. Serta, digunakan untuk melebur basis, menguapkan ekstrak. Pemanasan untuk mempercepat kelarutan.

4. Cawan penguap

Cawan berfungsinya untuk melarutkan bahan yang setengah padat, jadi semacam tempat wadah, dan melarutkannya di atas asbes besi dan di bakar pakar spirtus. Nanti ada di bawah. Banyak ukurannya, ada yang kecil sampai besar.

5. Sudip/Kertas rongen

Sudip berfungsi untuk membersihkan dan mengambil sisa sisa obat yang habis dibuat.

6. Timbangan

Ada dua jenis timbangan, yaitu timbangan halus dan timbangan kasar. Timbangan halus tersimpan di kotak ada pintunya dan ukurannya lebih kecil,tapi Timbangan kasar dia lebih besar dan tidak tertutup.

7. Pinset/penjebit

Pinset berfungsi untuk mengambil bahan atau cawan penguap. Jadi tidak boleh sembarang tangan. Untuk mengambil ukuran timbangan juga harus pakai pinset.

8. Sendok tanduk

Sendok tanduk berfungsi untuk mengambil bahan agar tidak akan terkontaminasi oleh zat lain.

Avatar
Akmal Bahtiar, S. Si. Lulusan S1 Farmasi Unhas, Makassar. Memiliki sedikit pengalaman dalam dunia tulis menulis, terobsesi dengan design dan optimasi website.