Antelmintik (Obat Cacing)

12 min read

Antelmintik (obat cacing)

Antelmintik atau obat cacing (Yun. anti = lawan, helmins = cacing) adalah obat yang dapat memusnahkan cacing dalam tubuh manusia dan hewan. Dalam istilah ini termasuk semua zat yang bekerja lokal menghalau cacing dari saluran cerna maupun obat obat sistemik yang membasmi cacing serta larvanya yang menghinggapi organ dan jaringan tubuh.

Obat-obat yang tidak diresorpsi lebih diutamakan untuk cacing di dalam rongga usus agar kadar setempat setinggi mungkin, lagi pula karena kebanyakan antelmintika juga bersifat toksis bagi tuan rumah.

Sebaliknya, terhadap cacing yang dapat menembus dinding usus dan menjalar ke jaringan dan organ lain, misalnya cacing gelang, hendaknya digunakan obat sistemik yang justru diresorpsi baik ke dalam darah hingga bisa mencapai jaringan.

Penyakit Cacing

Infeksi cacing merupakan salah satu penyakit yang paling umum tersebar dan menjangkiti lebih dari 2 miliar manusia di seluruh dunia. Walaupun tersedia obat-obat baru yang lebih spesifik dengan kerja lebih efektif, pembasmian penyakit cacing masih tetap merupakan suatu masalah, antara lain disebabkan oleh kondisi sosial ekonomi di beberapa bagian dunia.

Jumlah manusia yang dihinggapinya juga semakin bertambah akibat migrasi, lalu lintas dan kepariwisataan udara. Proyek proyek irigasi untuk meningkatkan agrikultur dapat pula menyebabkan perluasan kemungkinan infeksi. Misalnya schistosomiasis (billharzirisis), penyakit ini berkembang karena timbulnya kondisi yang menunjang pengembangan keong-keong, yang menjadi tuan rumah antara bagi cacing schistosoma.

Pada umumnya cacing jarang menimbulkan penyakit serius, tetapi dapat menyebabkan gangguan kesehatan kronis yang merupakan suatu faktor ekonomis sangat penting. Di negara berkembang, termasuk Indonesia, penyakit caring adalah penyakit rakyat umum yang sama pentingnya dengan misalnya malaria atau TBC.

Infeksinya pun dapat terjadi simultan oleh beberapa jenis cacing sekaligus. Diperkirakan bahwa lebih dari 60% anak anak di Indonesia menderita suatu infeksi cacing.

Penularan

Infeksi cacing umumnya terjadi melalui mulut, adakalanya langsung melalui luka di kulit (cacing tambang dan benang) atau lewat Mur (kista) atau larvanya, yang ada di mana-mana di atas tanah. Terlebih pula bila pembuangan kotoran (tinja) dilakukan dengan sembarangan (sistim riol terbuka) dan tidak memenuhi persyaratan higiene.

Terutama anak kecil yang lazimnya belum mengerti azas higiene, mudah sekali terkena infeksi. Tergantung dari jenisnya, cacing tetap bermukim dalam saluran cerna atau berpenetrasi ke jaringan. Jumlah cacing merupakan faktor menentukan apakah orang menjadi sakit atau tidak.

Diagnosis. Prosedur esensial untuk mendiagnosa infeksi cacing adalah melalui pemeriksaan mikroskopis dari telur atau larva nya dalam tinja, urin, darah dan jaringan. Penentuan ini adalah penting sekali karena daya kerja obat cacing kebanyakan tergantung dari jenis parasitnya.

Gejala

Gejala dan keluhan dapat disebabkan oleh efek toksis dari produk pertukaran zat cacing, penyumbatan usus halus dan saluran empedu (obstruksi) atau penarikan zat gizi yang penting bagi tubuh.

Sering kali gejala tidak begitu nyata dan hanya berupa gangguan lambung usus, seperti mual, muntah, mulas, kejang kejang dan diare berkala dengan hilangnya nafsu makan (anoreksia). Obstruksi usus buntu dan saluran pankreas dapat menimbulkan appendicitis dan pancrenatitis.

Pada sejumlah cacing yang menghisap darah, tuan rumah dapat menderita kekurangan darah, misalnya cacing tambang, pita dan cambuk. Sebagian penderita tidak memberikan keluhan atau tidak menunjukkan gejala cacingan sama sekali. Misalnya pada orang orang pembawa cacing atau telur/kistanya (carriers).

Dengan carrier dimaksudkan manusia atau hewan yang “menyimpan” dan menyebarkan mikroorganisme yang mengakibatkan penyakit, tetapi sendirinya tidak jatuh sakit.

Pencegahan

Tindakan umum yang perlu dilakukan adalah menaati aturan higiene dengan tegas dan konsekuen, terutama oleh anak-anak. Yang terpenting di antaranya adalah selalu mencuci tangan sebelum makan atau sebelum mengolah bahan makanan. Jangan memakan sesuatu yang telah jatuh di tanah tanpa mencucinya terlebih dahulu dengan bersih.

Dengan demikian infeksi melalui mulut yang paling sering terjadi, dapat dihindarkan. Selanjutnya untuk pembatasan infeksi cacing perlu diambil tindakan higiene umum yang mencakup perbaikan perumahan, lingkungan hidup dan sosial ekonomi.

Jenis Cacing

Cacing yang merupakan parasit manusia dapat dibagi dalam dua kelompok, yakni cacing pipih dan cacing bundar.

1. Plathelminthes (flatworms): Cestoda dan Trematoda

Ciri-ciri cacing ini adalah bentuknya yang pipih dan tidak memiliki rongga tubuh.

  • Cacing pita (Cestoda): Taenia, Echinocaccus, Hymenolepsis, dll.
    Parasit ini memiliki kelamin ganda (hermafrodit), berbentuk pita yang bersegmen, dan tidak memiliki saluran cerna. Echinacaccus memiliki tuan rumah tetap (anjing) dan larvanya membentuk kista di organ dalam.
  • Cacing pipih (Trematoda): Schistosoma, Fasciola, dll.
    Umumnya cacing ini berbentuk seperti daun dan juga bersifat hermafrodit, kecuali spesies schistosoma yang berbentuk lebih memanjang dan memiliki kelamin terpisah. Schistosoma (bilharzia) ditulari oleh bentuk aktifnya (cercariae), Fasciola (cacing hati) khusus terdapat pada domba dan menimbulkan a.l. pembesaran hati, jarang sekali menulari manusia. Infeksi cacing ini dinamakan masing masing schistosomiasis (bilharziasis) dan fascioliasis.

2. Nematoda (roundworms): Oxyuris, Ascaris, Ancylostoma, Strongyloides, Trichuris.

Infeksi dengan cacing ini dinamakan masing-masing oxyuriasis (cacing kermi), ascarinsis (cacing gelang), ancylostomiasis (cacing tambang), strongyloidiasis dan trichuriasis (cacing cambuk).

Infeksi dapat terjadi melalui telur, larva atau cacingnya sendiri, melalui mulut atau langsung melalui kulit.

Ciri-cirinya: bertubuh bulat, tidak bersegmen, memiliki rongga tubuh dengan saluran cerna nyata dan kelamin terpisah. Siklus hidup cacing ini cukup kompleks dan sering kali membutuhkan tuan rumah antara sebelum terjadi perkembangan dari telur hingga cacing dewasa.

Pada manusia, tergantung dari jenisnya, cacing tetap bermukim dalam saluran cerna atau menembus hingga jaringan.

Untuk penyakit, cara infeksi, penyebaran, dan pengobatannya, lihat tabel berikut ini.

Pengobatan

Banyak antelmintika memiliki khasiat yang efektif terhadap satu atau dua jenis cacing saja. Hanya beberapa obat yang memiliki khasiat terhadap lebih banyak jenis cacing (broad spectrum) misalnya mebendazol. Oleh karena itu pengobatan harus selalu didasarkan atas diagnosa jenis parasit dengan jalan penelitian mikroskopis.

Posmedikasi. Banyak antelmintika dalam dosis terapi hanya bersifat melumpuhkan cacing, jadi tidak mematikannya. Guna mencegah jangan sampai parasit menjadi aktif lagi atau sisa sisa cacing mati dapat menimbulkan reaksi alergi, maka harus dikeluarkan secepat mungkin. Biasanya diberikan suatu laksans garam 2-4 jam sesudahnya.

Minyak kastor tidak boleh digunakan, karena banyak antelmintika melarut dalamnya hingga resorpsi obat dan toksisitasnya meningkat. Pencaharan tidak diperlukan pada obat modern yang bersifat laksans seperti piperazin atau berkhasiat vermisid, mematikan cacing seperti mebendazol, niklosamida dan praziquantel.

Bila terdapat anemia pasien juga harus diobati dengan sediaan yang mengandung besi.

Jenis Penyakit Cacing

Dari sekian banyak jenis infeksi cacing yang dikenal, hanya sejumlah kecil yang sering terjadi di Indonesia dan akan dibahas di bawah ini. Pada setiap jenis juga disebutkan antelmintika yang dapat digunakan terhadapnya.

1. Ascariasis: mebendazol, albendazol, pirantel dan piperazin

Ascaris lumbricoides atau cacing gelang panjangnya 10-15 cm dan biasanya bermukim dalam usus halus. Kira-kira 25% dari seluruh penduduk dunia terinfeksi cacing ini, terutama di negara tropis (70-90%).

Cacing betina mengeluarkan telur dalam jumlah yang sangat banyak, sampai 200.000 telur sehari yang dikeluarkan dalam tinja. Penularan terjadi melalui makanan yang terinfeksi oleh telur dan larvanya (panjangnya kira kira 0,25 mm) yang berkembang dalam usus halus.

Larva ini menembus dinding usus, melalui hati untuk kemudian ke paru paru. Setelah mencapai tenggorok, lalu larva ditelan untuk kemudian berkembang biak menjadi cacing dewasa di usus halus. Jumlahnya dapat menjadi demikian besar hingga bisa menimbulkan penyumbatan, juga komplikasi seperti ileus, appendicitis dan pancreatitis.

Pengobatan ascariasis. Obat pilihan pertama adalah mebendazol, albendazol dan pirantel.

Sering kali kur harus diulang dengan kur kedua, karena tidak semua cacing atau telurnya dapat dimusnahkan pada tahap pertama. Anggota keluarga juga mungkin merupakan pembawa kista dan sebaiknya juga diobati.

2. Oxyuriasis: mebendazol, albendazol, pirantel dan piperazin.

Enterobius vermicularis (dahulu disebut Oxyuris) atau cacing kermi yang biasanya terdapat dalam caecum, menimbulkan gatal di sekitar dubur (anus) dan kejang hebat pada anak-anak. Adakalanya infeksi ini mengakibatkan radang umbai usus buntu akut (appendicitis).

Pada wanita cacing ini bisa merambat ke saluran genital dan seterusnya ke rongga perut sehingga memungkinkan timbulnya salpingitis atau peritonitis. Penularan pada anak kecil sering kali terjadi dengan jalan auto reinfeksi, yakni melalui telur yang melekat pada jari jari sewaktu menggaruk daerah dubur yang dirasakan sangat gatal dan dengan demikian memungkinkan terjadinya infeksi sekunder. Penyebabnya adalah cacing betina yang panjangnya 8-13 mm, keluar dari dubur antara jam 8-9 malam untuk bertelur di kulit sekitar dubur.

Infeksi cacing kermi adalah infeksi cacing satu-satunya yang penularannya berlangsung dari orang ke orang, sehingga semua anggota keluarga harus serentak diobati pula, walaupun mereka tidak menunjukkan gejala apapun. Soalnya adalah karena cacing betina baru meletakkan telurnya antara 3-6 minggu setelah infeksi.

Pengobatan oxyuriasis. Mebendazol, albendazol dan pirantel tidak mematikan telurnya, sehingga setelah dua minggu cacing yang menetas harus dimatikan oleh kur kedua. Piperazin adalah obat pilihan kedua.

3. Taeniasis: praziqunntel, niklosamida

Cacing pita yang paling umum terdapat adalah Taenia solium dan T. saginata yang banyak terdapat pada masing-masing babi dan sapi, juga ikan.

Penularannya terjadi karena memakan daging yang dimasak belum cukup lama dan masih mengandung larva. Cacing dewasa yang berkembang dalam usus, berbentuk seperti pita bersegmen. T. saginata dapat mencapai panjang sampai 10 meter, sedangkan T. solium lebih pendek, sampai 6 meter.

Taenia sukar sekali dibasmi karena kepalanya (scolex) yang relatif kecil dibenamkan ke dalam selaput lendir usus hingga tidak bersentuhan dengan obat. Bagian cacing (segmen, proglotida) yang bersentuhan dengan obat dan telah dimatikan, dilepaskan dari scolex yang kemudian membuat segmen-segmen baru (regenerasi).

Segmen dan telurnya dapat dikenali dalam tinja, tetapi scolex nya pada umumnya sudah dicernakan oleh getah usus. Penularan terjadi bila telur yang dikeluarkan dengan tinja, dimakan oleh tuan rumah antara (hewan) dan kemudian berkembang menjadi larvae.

Larvae ini menembus dinding usus dan menyebar ke pelbagai jaringan tubuh a.l. jaringan subkutan, otot dan malahan ke otak. Di situ larvae (khusus dari T. solium) dapat berkembang menjadi cysticerci, ialah kista dengan ukuran 0,5-1 cm yang mengandung scolex cacing dewasa.

Manusia makan kista ini melalui daging terinfeksi yang dimasak kurang matang, di lambung parasit keluar dari kistanya dan dalam usus halus menjadi cacing dewasa. Diagnosanya dilakukan dengan deteksi proglotida atau telur dalam tinja. Kista yang berada di dalam otak dapat dideteksi melalui CT atau MRI scan.

Gejala umumnya. Infeksi dengan cacing dewasa umumnya tak menimbulkan gejala (asimtomatis), jarang sekali anemia, radang usus buntu atau radang pankreas.

Pengobatan. Obat pilihan pertama terhadap infeksi Taenia adalah praziquantel (10 mg/kg single duse) atau niklosamida (2 x 1 gram dengan selingan waktu 2 jam). Pemberian suatu laksan sesudahnya dianggap tidak perlu.

4. Ancylostomiasis: mebendazol dan albendazol

Ada dua jenis cacing tambang, yakni Necator americanis yang terutama terdapat di Amerika dan Ancylustoma duodenale yang terdapat di daerah tropis/subtropis dan panjangnya l.k. 10 mm.

Cacing ini disebut cacing tambang atau cacing terowongan (penyebab tunnel disease) karena terdapat di daerah tambang dan terowongan di gunung. Penularannya terjadi oleh larva yang memasuki kulit kaki yang terluka dan menimbulkan reaksi lokal.

Setelah memasuki vena, larva menuju ke paru paru dan bronchi, akhirnya ke saluran cerna. Seperti Taenia cacing tambang juga mengaitkan diri pada mukosa usus dan menghisap darah tuan rumah hingga menimbulkan anemia yang cukup serius.

Pengobatannya diarahkan pada dua tujuan, yakni memperbaiki gambaran darah (makanan yang bergizi dan se nyawa besi) dan memberantas cacing. Mebendazol dan pirantel merupakan obat pilihan pertama, yang sekaligus juga dapat membasmi cacing gelang bila terjadi infeksi campuran.

5. Strongyloidiasis: tiabendazol, ivermectin, albendnzal

Strungyloides stercuralis atau cacing benang sering kali terdapat di daerah tropis dan subtropis. Penularannya lewat larva yang berbentuk benang yang menembus kulit.

Larva ini dapat dikenali dalam tinja tetapi tidak mengandung telurnya. Berhubung terjadinya auto reinfeksi, maka cacing dapat bertahan puluhan tahun lamanya di mukosa bagian atas usus halus. Di tempat ini cacing merusak jaringan dan menimbulkan reaksi radang.

Gejalanya yang khas adalah gatal hebat (urticaria) di bagian bokong yang bersifat sementara, juga gangguan perut dan iritasi saluran pernapasan (batuk, engap) akibat migrasi cacing.

Pengobatan. Tiabendazol dan ivermectin merupakan obat pilihan pertama terhadap cacing benang; albendazol juga efektif.

6. Trichiuriasis: mebendnzol, pirantel, albendazol

Trichiuris trichiura atau cacing cambuk umumnya terdapat di negara beriklim panas dan lembah. Dalam tubuh manusia biasanya cacing cambuk terdapat dalam caecum dan bermukim di mukosa ileum dan colon, dengan menimbulkan kerusakan dan peradangan.

Telurnya dikeluarkan dalam tinja dan dapat di deteksi untuk keperluan diagnosa. Telur dapat berkembang di tanah. Penularannya terjadi melalui makanan dan air yang terinfeksi.

Gejalanya: pada anak kecil dapat mengakibatkan appendicitis akut.

Akibat kehilangan darah juga dapat timbul anemia. Pengobatan efektif dengan mebendazol, pirantel dan albendazol.

7. Filariasis: dietilkarbamazin (DEC), Hetrazan

Wucheria bancrofti atau cacing benang merupakan nematoda dari famili Filaria, yang menimbulkan penyakit tropis elephantiasis (kaki gajah) atau filariasis Bancrofti.

Cacing ini terdapat antara lain di Afrika Tengah, Amerika Selatan, India dan negara tropis lainnya, begitu pula di Asia Tenggara (Indonesia, Malaysia, Vietnam dan China Selatan).

Menimbulkan radang pembuluh limfa (lymphangitis) disusul dengan penyumbatan oleh cacing dewasa (panjangnya 8-10 cm). Akibatnya adalah hipertrofi dari jaringan sel, terutama di bagian kaki yang dapat membesar sampai diameter 30 cm, makanya disebut ”kaki gajah”.

Penularannya ke manusia terjadi melalui tuan rumah antaranya: yaitu nyamuk Culex fafigans yang menyengat pada waktu malam.

Pengobatan. Obat utama terhadap infeksi ini adalah dietilkarbamazin, khususnva bila diberikan pada waktu dini.

Kadangkala diperlukan pembedahan untuk memperbaiki penyaluran getah bening dan membuang jaringan yang berlebihan.

8. Schistosomiasis: praziquantel

Schistosoma haematobium merupakan cacing pipih yang tidak bersegmen dan terdapat di Amerika Selatan, negara Arab, Afrika, China dan beberapa negara Asia, a.l. Indonesia (S. japonicum).

Cacing ini merupakan penyebab penyakit schistosomiasis atau bilharziasis yang ditularkan melalui sejenis keong pembawa larvanya. Setelah berkembang, parasit ini menembus kulit manusia dan memasuki peredaran darah. Di beberapa bagian dunia schistosomiasis merupakan suatu masalah kesehatan masyarakat yang disebarkan melalui mandi di air yang terinfeksi.

Penularan terjadi oleh cercariae dengan bentuk khas yang dilepaskan ke dalam air oleh tuan rumah-antaranya (keong), yang kemudian menembus kulit atau selaput lendir manusia. Siklus seksualnya terjadi di dalam tubuh manusia dengan pembentukan banyak telur, yang dikeluarkan lewat tinja atau urin.

Di dalam air larva keluar dari telur dan menulari keong, yang kemudian memproduksi puluhan ribu cercariae.

Terapi. Obat pilihan pertama adalah praziquantel terhadap semua jenis schistosomiasis yang menyerang manusia.

Zat-zat Antelmintik

1. Mebendazol: Vermox

Ester metil dari benzimidazol ini (1972) adalah antelmintikum berspektrum luas yang sangat efektif terhadap cacing kermi, gelang, pita, cambuk dan tambang.

Obat ini banyak digunakan sebagai monoterapi untuk penanganan massal penyakit cacing, juga pada infeksi campuran dengan dua atau lebih jenis cacing. Mebendazol bekerja sebagai vermisid, larvisid dan juga ovisid.

Mekanisme kerjanya melalui perintangan pemasukan glukosa dan mempercepat penggunaannya (glikugen) pada cacing. Tidak perlu diberikan laksans.

Resorpsinya dari usus ringan sekali, kurang dari 10%. BA-nya juga rendah akibat firsf pass effect tinggi. PP-nya 95%. Ekskresinya berlangsung lewat empedu dan urin.

Efek sampingnya jarang terjadi dan berupa gangguan saluran cerna seperti sakit perut dan diare.

Kehamilan dan laktasi: tidak boleh di gunakan oleh ibu hamil karena memiliki sifat teratogen yang potensial. Mengingat resorpsinya sangat ringan, laktasi tidak perlu dihentikan. Tidak dianjurkan bagi anak di bawah usia 2 tahun.

Dosis: dewasa dan anak anak sama, yakni pada oxyuriasis dosis tunggal dari 100 mg (= 1 tablet) pada waktu makan pagi. Kur diulang 14 hari kemudian. Sebaiknya seluruh keluarga diberi obat terhadap cacing kermi, Pada infeksi cacing gelang, tumbang, benang, pita dan cambuk 2 dd 100 mg selama 3 hari, bila perlu diulang setelah 3 minggu.

*Albendazol (Eskazole) adalah derivat karbamat dari benzimidazol pula (1988), berspektrum luas terhadap Ascaris, Oxvuris, Taenia, Ancylostoma, Strongyloides dan Trichiuris. Terutama dianjurkan pada echinococciosis (cacing pita anjing).

Resorpsinya dari usus buruk, tetapi masih lebih baik daripada mebendazol. Di dalam hati, zat ini segera diubah menjadi sulfoksidanya, yang diekskresikan melalui empedu dan urin.

Efek sampingnya berupa gangguan lambung usus, demam, rontok rambut (selewat) dan exanthema.

Wanita hamil dan selama laktasi tidak boleh menggunakan albendazol, karena ternyata teratogen pada binatang percobaan.

Dosis: pada echiinococciosis di atas 6 thn 15 mg/kg/hari dalam 2 doses d.c., pada ascariasis, enterobiasis, ancylostomiasis, trichuriasis, anak dan dewasa single dose 400 mg d.c., pada strongyloidiasis 1 dd 400 mg d.c. selama 3 hari.

2. Piperazin (F.I.): Upixon

Zat basa ini (1949) sangat efektif ter hadap Oxyuris dan Ascaris berdasarkan perintangan penerusan impuls neuro muskuler, hingga cacing dilumpuhkan untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh oleh gerakan peristaltik usus. Di samping itu piperazin juga berkhasiat laksans lemah.

Dahulu obat ini banyak digunakan karena efektif dan murah, tetapi di banyak negara Barat sejak tahun 1984 tidak digunakan lagi berhubung efek sampingnya, terutama neurotoksisitasnya. Resorpsinya oleh usus cepat dan k.l. 20% diekskresikan melalui urin dalam keadaan utuh.

Dari sekian banyak garam yang digunakan, mungkin hanya garam adipat yang paling sedikit resorpsinya.

Efek sampingnya jarang terjadi (mual, muntah, reaksi alergi), pada overdose timbul gatal-gatal (urticaria), kesemutan (paresthesia) dan gejala neurotoksis (rasa kantuk, pikiran kacau, konvulsi dll). Hati-hati penggunaannya pada pasien epilepsi, gangguan hati dan ginjal. Wanita hamil dapat diberikan piperazin.

Dosis: terhadap Ascaris 75 mg/kg berat badan atau dosis tunggal dari 3 g (terhitung sebagai heksahidrat. 6 aq.) selama 2 hari. Terhadap Oxyuris 65 mg/kg berat badan atau dosis tunggal dari 2,5 g selama 7 hari.

Untuk anak-anak terhadap Ascaris: 50 mg/kg berat badan, yakni 1-2 tahun 1 g, 3-5 tahun 2 g dan di atas 6 tahun 3 g sekaligus. Terhadap Oxyuris: dosis sama, tetapi selama 4-7 hari.

*Dietilkarbamazin: DEC, Hetrazan

Derivat piperazin ini(1948) dikemban kan sewaktu perang dunia kedua, ketika k.l. 15.000 tentara AS yang ditempatkan di pulau-pulau Pasifik Barat menderita filariasis.

Obat ini khusus digunakan terhadap mikrofilaria cacing benang, a.l. Wucheriu bancrofti dan Loa-loa, sedangkan terhadap makrafilaria kurang efektif.

Khasiatnya berdasarkan penurunan kegiatan otot dan kemudian melumpuhkan mikrofilaria. Lagi pula obat ini mengubah permukaan membran cacing, sehingga cacing dapat dimusnahkan oleh daya tangkis penderita.

Resorpsinya dari usus mudah sehingga kadar dalam plasma sudah mencapai puncaknya dalam 1-2 jam. Plasma t½-nya adalah 10-12 jam. Lebih dari 50% diekskresikan melalui urin dalam keadaan utuh.

Efek sampingnya seperti sakit kepala, pusing, mual dan muntah, walaupun sering terjadi, tetapi tidak serius dan biasanya hilang sendiri dalam waktu beberapa hari tanpa menghentikan pengobatan. Protein dari filaria yang mati dapat menyebabkan reaksi alergi, mis. urticaria hebat, dermatitis dan demam, yang juga dapat hilang sendiri setelah 3-7 hari.

Kehamilan. Obat ini dianggap aman untuk digunakan oleh ibu hamil.

Dosis: 3 dd 2 mg/kg berat badan p.c. atau 150-500 mg seharinya untuk 14 hari.

3. Pirantel: Combantrin, *Quantrel, *Trivexan

Derivat pirimidin ini (1966) berkhasiat terhadap Ascaris, Oxyuris dan cacing tambang, tetapi tidak efektif terhadap Trichiuris.

Mekanisme kerjanya berdasarkan perlumpuhan cacing dengan jalan menghambat penerusan impuls neuro muskuler (seperti piperazin). Lalu parasit dikeluarkan oleh peristaltik usus tanpa memerlukan laksans. Resorpsinya dari usus ringan; 50% zat diekskresikan dalam keadaan utuh bersama metabolitnya melalui tinja dan lebih kurang 7% dikeluarkan melalui air seni.

Efek sampingnya ringan dan berupa gangguan saluran cerna dan kadang kala sakit kepala.

Kehamilan: Pirantel tidak dianjurkan penggunaannya oleh wanita hamil mau pun anak anak di bawah usia 2 tahun.

Dosis: pada cacing kermi dan gelang sekaligus 2-3 tablet dari 250 mg (pamoat = embonat), anak anak ½-2 tablet sesuai usia (10 mg/kg). Pada cacing cambuk dosisnya sama selama 3 hari.

* Oksantel adalah derivat m-oksifenol dari pirantel yang dalam dosis tunggal (250-375 mg) efektif terhadap trichiuriasis.

Sediaan kombinasi:

* Quantre = pirantel pamoat oksantel pamoat 150 + oksantel pamoat 150 mg
* Trivexan = pirantel pamoat 100 + mebendazol 150 mg

4. Levamisol: levotetmmisol, Askamex, Ergamisol

Derivat imidazol ini (1969) sangat efektif terhadap Ascaris (90%) dan cacing tambang (80%) dengan jalan melumpuhkannya.

Bentuk rasemisnya tetramisol juga digunakan terutama pada hewan; aktivitasnya hanya setengahnya dari levamisol. Khasiat lainnya yang sangat penting adalah stimulasi sistem imunologi tubuh (imunostimulator pada kemoterapi; khususnya mengenai T-cells).

Oleh karena ini sangat berguna pada terapi dengan obat yang menekan sistem tersebut, yakni sitostatika dan kortikosteroida. Digunakan pula dalam kombinasi dengan fluoro-urasil setelah pembedahan reseksi pada kanker colon.

Efek sampingnya jarang terjadi, yakni reaksi alergi (rash), granulocytopenia dan kelainan darah lainnya. Hati-hati pada penderita tema dan penyakit auto imun lainnya, karena mereka sangat peka terhadap efek samping hematologis.

Kehamilan dan laktasi: data untuk ini masih kurang jelas.

Dosis: pada ascariasis orang lebih berat dari 40 kg sekaligus 150 mg d.c (garam HCl), anak anak 10-19 kg: 50 mg, 20-39 kg: 100 mg.

5. Praziquantel: Biltricide

Derivat pirazino-isokinolin ini (1980) berkhasiat baik terhadap jenis tertentu Schistosoma (China) dan Taenia, sedangkan terhadap cacing hati Fasciola hepatica tidak efektif. Obat ini digunakan sebagai obat satu-satunya pada schistosomiasis dan juga dianjurkan pada taeniasis.

Khasiatnya berdasarkan pemicuan kontraksi cepat pada cacing dan desintegrasi kulitnya, untuk kemudian dikeluarkan dari tubuh.

Efek sampingnya ringan dan berupa mual, sakit perut dan kepala (selewat), jarang demam dan urticaria.

Dosis: 600 mg setelah makan malam. Untuk taeniasis dosis tunggal 10mg/kg.

6. Niklosamida: Yomesan

Senyawa nitrosalisilanilida ini (1960) sangat efektif sebagai vermisid terhadap cacing pita manusia/hewan, tetapi terhadap telurnya tidak aktif.

Khasiatnya diperkirakan melalui peningkatan kepekaan cacing terhadap enzim protease dalam usus tuan rumah, hingga cacing lebih mudah dicerna. Oleh karena itu sering kali scolex tidak ditemukan lagi dalam tinja yang menyukarkan penilaian berhasil atau tidaknya pengobatan.

Umumnya terapi dinilai efektif bila setelah 3-4 bulan tidak ditemukan lagi segmen cacing (proglottida) dan telurnya dalam tinja. Khususnya pada infeksi oleh Taenia solium (babi) setelah segmen dicemakan, telurnya akan dibebaskan dalam rongga usus, sehingga timbul kemungkinan cysticercosis bagi pasien.

Dalam hal itu perlu diberikan laksans garam 3-4 jam setelah pengobatan untuk mengeluarkan segmen mati sebelum dicernakan. Laksans tidak diperlukan pada infeksi oleh Taenia saginata (sapi) karena tidak ada risiko cysticercosis.

Resorpsinya dari saluran cerna hanya ringan (l.k. 15%) dan sebagian besar diekskresikan melalui urin dalam bentuk yang sudah direduksi, sisanya melalui tinja dalam 1-2 hari. Plasma t½-nya 3 jam.

Efek sampingnya hampir tidak ada, namun obat ini bersifat sangat toksis sehingga penggunaannya harus hati-hati sekali pada gangguan yang meningkat kan resorpsi (colitis dan luka di usus). Kehamilan dan laktasi: data untuk ini be lum mencukupi.

Dosis: dewasa dan anak di atas 8 tahun pagi hari saat perut kosong 1 g ( = 2 tablet) dikunyah halus, disusul dengan 1 g lagi 1 jam kemudian. Setelah 2 jam baru boleh makan. Anak-anak dari 2-8 tahun: dosis setengahnya dan di bawah 2 tahun seperempat (sebaiknya tablet ditumbuk menjadi serbuk halus).

7. lvermectin: Stromectol

Hasil fermentasi (1987) dari jamur Streptomyces avermitilis ini merupakan obat terpilih untuk infeksi cacing benang (unchocerciasis). Obat ini berdaya mengurangi mikrofilaria di kulit dan mata dengan efektif.

Ivermectin juga sangat efektif terhadap Ascaris dan Strongyloides, tetapi lebih ringan daya kerjanya terhadap Oxyuris dan Trichiuris. Terhadap kudis dan kutu rambut juga ampuh. Plasma t½-nya 12 jam, ekskresinya berlangsung khusus melalui tinja.

Efek sampingnya ringan dan berupa gatal gatal, ruam kulit dan perasaan pusing. Tidak dianjurkan bagi wanita hamil.

Dosis: di atas 12 tahun dosis tunggal dari 150 mcg/kg minimal 2 jam a.c/p.c. Bila perlu diulang sesudah 6 bulan.

8. Obat obat lainnya

Seperti minyak Chenopodi, gentianviolet, ekstrak Filices, santonin dan papain yang sudah obsolet dan praktis tidak digunakan lagi. Untuk obat yang penggunaannya tidak lazim lagi karena efek sampingnya seperti pyrvinium, befenium dan tetrakloretilen.

Pustaka:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *