Wahyuddin Sulaiman, S. Si. Wahyuddin Sulaiman currently works at the Faculty of Pharmacy, Universitas Hasanuddin. Wahyuddin does research in Blood and Coagulation Research and Pharmacy.

Bagaimana Cara Menulis Resep?

Cara menulis resep obat

Bagaimana cara menulis resep obat? Resep adalah permintaan tertulis oleh dokter kepada farmasis mengenai obat apa yang akan diberikan kepada pasien. Resep penting dituliskan menggunakan pena dengan menyertakan nama si penulis resep (prescriber) dan nama pasien yang dituju. Resep juga perlu diberikan ruang untuk informasi berupa umur dan tanggal lahir dari pasien yang dituju.

Kesalahan dalam penulisan resep dapat menimbulkan bahaya. Menurut beberapa statistik, kesalahan pengobatan (medication error) terjadi pada 1 dari 5 dosis yang diberikan di rumah sakit, 7000 korban meninggal tiap tahun di Amerika Serikat akibat kesalahan pengobatan. Oleh karena itu, semua informasi penting dalam penulisan resep perlu untuk disertakan.

Hal-hal penting yang perlu diingat ketika meresepkan obat:

  • Hindari penggunaan desimal yang tidak perlu, contohnya: menuliskan 5 mg ketimbang 5.0 mg. Jumlah 1 gram sebaiknya ditulis 1 g. Jumlah kurang dari 1 miligram sebaiknya ditulis dalam mikrogram. 100 mg, bukan 0.1 mg. Jumlah kurang dari 1 gram sebaiknya ditulis dalam miligram. 300 mg, bukan 0.3 miligram.
  • Sebutkan dengan jelas jumlah atau kekuatan sediaan (tablet, kapsul, lozenge, dll.), utamanya kekuatan sediaan pada sediaan bentuk cair, contohnya 125 mg/ml
  • Jangan menggunakan singkatan untuk satuan mikrogram dan nanogram dalam resep.
  • Umumnya milimeter ditulis sebagai sentimeter kubik (cc) atau cm3, namun dalam praktik kedokteran dan kefarmasian hal itu semestinya tidak digunakan
  • Tuliskan nama dari obat dan bentuk sediaan secara jelas dan tanpa menggunakan singkatan
  • Petunjuk penggunaan sebaiknya dituliskan menggunakan bahasa sehari-hari tanpa penggunaan singkatan

Pada umumnya, terdapat 4 bagian pada peresepan standar, yaitu Informasi, Inskripsi, Subskripsi dam Instruksi bagi pasien.

Informasi dasar pada resep:

Informasi dasar antara lain identitas dari pasien, seperti nama, tanggal lahir, nomor kontak,dan alamat terkini dari pasien dikarenakan satu identitas saja belum cukup bagi kebanyakan kasus meskipun dicantumkan nama lengkap pasien namun apabila terdapat dua nama orang yang sama akan terjadi kesulitan dalam mengetahui pasien mana yang dimaksudkan oleh resep.

Resep harus memiliki tanggal peresepan (tanggal yang menunjukkan kapan resep itu ditulis), dikarenakan beberapa resep harus ditebus dalam rentang waktu tertentu. Resep juga harus menyertakan identitas dari si penulis resep, contohnya nama praktisi atau nama dokter penulis resep, nomor kontak, alamat dari tempat praktik harus tercantum di dalam resep. Resep standar harus mencantumkan tandatangan dan nama gelar untuk memberikan legalitas pada resep.

Resep yang dituliskan untuk obat terkontrol (obat yang penggunaan, kepemilikan, dan pembuatannya diatur oleh pemerintah) memerlukan tandatangan (ditulis tangan) dan nomor lisensi dari praktisi atau dokter yang memberikan resep.

Inskripsi

Bagian ini antara lain termasuk superskripsi, nama obat dan kekuatan sediaan. Superskripsi dari resep adalah tanda “Rx” yang biasanya telah dicetak sebelumnya pada resep. Tuliskan informasi inskripsi setelah penulisan tanda Rx, seperti informasi mengenai obat yang diresepkan secara spesifik. Tuliskan nama generik dari obat yang diresepkan dan menghindari penggunaan merk/nama dagang.

Jika ingin menuliskan secara spesifik merk obat, maka penulisan merk dapat dilakukan, namun perlu diingat bahwa peresepan tersebut akan menambah biaya bagi pasien. Sangat penting untuk mencantumkan kekuatan sediaan dari obat dikarenakan kebanyakan dari sediaan yang beredar biasanya memiliki lebih dari satu kekuatan sediaan.

Subskripsi

Bagian ini sangat penting bagi farmasis dikarenakan pada bagian ini si penulis resep mengutarakan seberapa banyak jumlah obat yang harus ditebus, termasuk ukuran botol, jumlah kapsul atau tablet, dsb.

Informasi penebusan ulang (refilling) juga sangat penting untuk dicantumkan, mengingat pada kondisi penyakit kronik pasien dituntut untuk menebus ulang obat yang telah diresepkan ketika pasien kehabisan obat namun perlu penggunaan obat yang sama secara berkali-kali. [db]

Wahyuddin Sulaiman, S. Si.
Wahyuddin Sulaiman, S. Si. Wahyuddin Sulaiman currently works at the Faculty of Pharmacy, Universitas Hasanuddin. Wahyuddin does research in Blood and Coagulation Research and Pharmacy.