BioFar.ID Situs informasi dan edukasi Indonesia yang khusus menyajikan konten menarik dan segar seputar kedokteran, farmasi, dan kesehatan masyarakat.

Daftar Obat Kelas Terapi Antiepilepsi dan Mekanisme Kerja

Obat kelas terapi antiepilepsi

Epilepsi adalah gangguan konvulsi kronik; yang paling umum ditemukan ditandai dengan serangan berulang gejala sakit yang disertai konvulsi dan kehilangan kesadaran, dikenal sebagai tipe grand mal. Jika serangan berulang penurunan kesadaran terjadi sesaat disebut tipe petit mal. Selain itu, juga dikenal tipe fokel-temporal yang memperlihatkan gejala kejang fokal.

Konvulsi adalah manifestasi gangguan otak lokal atau umum, dapat terjadi oleh karena cacat bawaan, penyakit degenaerasi, trauma ssp, anoksia, demam, gangguan metabolisme, epilepsi, anafilaksis, neoplasma, penyakit serebrovaskulus, keracunan, dangejala putus alkohol atau obat lain.

Penyakit yang melandasi konvulsi mungkin tidak dapat disembuhkan, tetapi konvulsi itu sendiri selalu dapat dikendalikan. Sesekali, konvulsi sukar dikendalikan, maka perlu dilakukan tindakan khusus, misalnya memberikan anestesi umum.

Pemilihan obat terutama didasarkan atas serangan dan bukan berdasarkan atas etiologi penyakit. Pertimbangan lain meliputi usia pasien, respon terhadap terapi terdahulu dan efek samping obat.

Terapi obat tunggal menunjukkan beberapa keuntungan, antara lain;

  • Mudah mengevaluasi hasil terapi,
  • Mudah mengevaluasi kadar obat dalam darah,
  • Efek samping dapat minimum,
  • Terhindar dari kemungkinan terjadinya interaksi obat.

Tetapi ternyata sekitar sepertiga kasus tidak dapat dikendalikan dengan obat tunggal. Pasien itu terpaksa memerlukan terapi majemuk dengan kombinasi dua jenis obat atau lebih.

Pemberian antiepilepsi selalu dimulai dengan dosis rendah, kemudian dinaikkan bertahap sampai gejala epilepsi terkendali atau terjadi efek kelebihan dosis. Frekuensi pemberian bisanya didasarkan atas waktu paro plasma.

Antiepilepsi dengan waktu paro lama seperti fenobarbital dan fenitoin dapat diberikan sekali sehari sebelum tidur, kadang-kadang obat perlu diberikan tiga kali sehari untuk menjaga agar kadar plasmanya tidak terlalu tinggi sehingga dapat dihindarkan dari efek sampingnya.

Anak-anak biasanya diberikan lebih sering dengan dosis relatif lebih tinggi per kg bobot badan oleh karena cepatnya anak-anak memetabolisme obat.

Fenitoin dan karbamazepin merupakan obat untuk mengatasi epilepsi tipe grand mal; keduanya hampir tidak menimbulkan sedasi. Fenobarbital lebih disukai pada anak-anak sebagai alternatif fenetoin dan dapat ditambahkan pada regimen fenitoin yang belum dapat dikendalikan konvulsinya.

Dalam terapi epilepsi, hendaknya diperhatikan benar kemungkinan terjadi interaksi obat dalam terapi majemuk dan pada saat harus dilakukan pemutusan obat. Interaksi antar jenis antiepilepsi sangatlah kompleks tanpa diikuti efek terapi yang memadai. Pemutusan terapi antiepilepsi hendaknya tidak boleh mendadak.

Dalam ISO volume 49 issn 854-4492, obat kelas terapi antiepilepsi meliputi;

  1. asam valproat,
  2. divalproat na,
  3. gabapentin,
  4. karbamazepin,
  5. klonazepam,
  6. lamotrigin,
  7. levetirasetam,
  8. natrium fenitoin,
  9. natrium fenobarbital,
  10. okskarbazepin,
  11. pregabalin, dan
  12. topiramat.
Avatar
BioFar.ID Situs informasi dan edukasi Indonesia yang khusus menyajikan konten menarik dan segar seputar kedokteran, farmasi, dan kesehatan masyarakat.