Apa Itu PPV Kebidanan dan Pentingnya dalam Praktik Kebidanan?

Dalam dunia kebidanan Indonesia, singkatan PPV sangat sering dijumpai — baik dalam rekam medis, dokumentasi SOAP, maupun laporan kunjungan nifas. Namun masih banyak ibu postpartum, bahkan mahasiswa kebidanan, yang belum sepenuhnya memahami apa arti dan pentingnya PPV dalam kebidanan.

PPV adalah singkatan dari Pengeluaran Per Vagina (juga ditulis pervaginam) — yaitu semua cairan yang keluar melalui saluran vagina, terutama yang dipantau selama masa nifas dalam bentuk lochea (lokhea). Istilah ini telah digunakan secara baku dalam rekam medis dan asuhan kebidanan di seluruh Indonesia, sebagaimana tercatat dalam Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo (2023): “PPV (Pengeluaran Pervaginam) kunjungan pertama 6 jam PPV merah … kunjungan keempat tidak mengeluarkan darah lagi hanya cairan berwarna putih.”

Pemantauan PPV kebidanan bukan sekadar formalitas dokumentasi. Berdasarkan berbagai publikasi ilmiah kebidanan Indonesia, diperkirakan sekitar 60% kematian ibu terjadi pada masa nifas (postpartum), dan sekitar 50% dari kematian tersebut terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan (Prosiding Unimus, 2021; Anggorodiputro dkk., 2026; Jurnal Pendidikan dan Konseling, 2022). Perubahan PPV yang tidak normal — terutama perdarahan pervaginam berlebihan — adalah salah satu sinyal kritis yang wajib dideteksi sedini mungkin.

Artikel ini mengupas tuntas PPV kebidanan secara komprehensif: mulai dari definisi dan kepanjangan resminya, jenis-jenis PPV (lochea) beserta waktunya, cara bidan memantaunya pada setiap kunjungan nifas (KF1–KF4), tanda-tanda PPV abnormal yang harus diwaspadai, hingga penanganan dan pencegahannya — seluruhnya berdasarkan jurnal ilmiah dan referensi akademik terkini.

Apa Itu PPV Kebidanan?

Definisi PPV Kebidanan secara Akademik

PPV kebidanan adalah singkatan resmi dari Pengeluaran Per Vagina atau Pervaginam — istilah medis untuk semua cairan atau darah yang keluar melalui vagina, yang secara klinis dipantau selama masa nifas maupun pada kondisi-kondisi kebidanan tertentu seperti kehamilan dengan komplikasi perdarahan.

Dalam konteks asuhan kebidanan nifas, PPV identik dengan istilah lochea — yaitu sekret luka yang berasal dari luka dalam rahim, terutama bekas tempat implantasi plasenta, yang keluar melalui vagina.

Lochea mengandung darah dan sisa jaringan desidua yang nekrotik dari dalam uterus, bersifat basa/alkalis, berbau amis khas, dan volumenya bervariasi pada setiap wanita sesuai dengan proses involusi uterus yang berlangsung (Sulistyawati, 2009; Aritonang, 2021; Azizah & Rosyidah, 2021).

Penting dicatat bahwa istilah PPV memiliki makna yang berbeda bergantung pada konteks klinisnya:

  • PPV pada masa nifas → lochea, yaitu pengeluaran fisiologis yang normal terjadi pascasalin
  • PPV pada masa kehamilan → perdarahan pervaginam yang dalam banyak kasus merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera
  • PPV pada kegawatdaruratan → perdarahan postpartum (PPH) yang dapat mengancam jiwa ibu

PPV dalam Pendokumentasian SOAP Kebidanan

Dalam sistem pendokumentasian asuhan kebidanan format SOAP, PPV selalu dicatat pada bagian Data Objektif (DO) di bawah pemeriksaan fisik genetalia.

Penilaian PPV yang lengkap oleh bidan mencakup empat aspek: warna, volume (dalam cc atau jumlah pembalut), bau, dan ada/tidaknya tanda infeksi (Romlah dkk., 2024). Contoh penulisan standar:

“Genetalia: Pengeluaran pervaginam (PPV) berupa lochea rubra, warna merah, ±30 cc, bau amis khas, tidak ada tanda infeksi, tidak ada tanda-tanda perdarahan abnormal.”

EGC Buku Ajar Asuhan Kebidanan Edisi 4 Vol.1+2

Buku ini ditulis untuk semua bidan dan hadir dengan bahasan praktik kebidanan yang komprehensif untuk wanita mulai dari masa pubertas hingga lansia. Buku ini mencakup landasan teori, keterampilan prosedur, elaborasi kiat-kiat kebidanan yang diperlukan bagi mahasiswa dan praktisi.

Selengkapnya

Jenis-Jenis PPV Kebidanan

Salah satu pemahaman terpenting dalam memantau PPV kebidanan adalah mengenali perubahan warna, volume, dan karakteristik lochea dari hari ke hari selama masa nifas.

Berdasarkan referensi akademik kebidanan yang telah terverifikasi, lochea dibagi menjadi empat jenis:

1. Lochea Rubra — PPV Merah (Hari ke-1 sampai ke-3)

Lochea rubra adalah jenis PPV pertama yang keluar segera setelah persalinan hingga hari ketiga. Warnanya merah segar hingga merah kehitaman, karena mengandung kadar darah paling tinggi dibandingkan jenis lochea lainnya.

Berdasarkan referensi kebidanan terkini (Juliastuti dkk., 2021; Jurnal Universitas Islam Lamongan, 2018; Suherni, 2009), kandungan lochea rubra meliputi:

  • Darah segar (eritrosit)
  • Sel-sel desidua yang nekrotik
  • Sisa selaput ketuban (vernix caseosa, lanugo)
  • Sisa mekonium dalam jumlah kecil

Volume lochea rubra yang normal sekitar 5–30 cc per pemeriksaan, atau mengisi 1 pembalut per hari tanpa meluber. Jika dalam 1 jam pembalut penuh atau volume perdarahan melebihi 500 cc, ini merupakan sinyal PPV kebidanan abnormal yang harus segera ditangani.

BACA JUGA:  Olahraga Ibu Hamil untuk Mencegah Bayi Mengidap Penyakit Kronis

2. Lochea Sanguinolenta — PPV Merah-Kekuningan (Hari ke-3 sampai ke-7)

Lochea sanguinolenta muncul pada hari ketiga hingga ketujuh pascasalin. Warnanya berubah menjadi merah kekuningan atau merah kecoklatan, mengandung darah dan lendir akibat pengaruh plasma darah.

Perubahan warna ini menandakan involusi uterus berjalan dengan normal.

Menurut referensi kebidanan akademik Indonesia (Jurnal Universitas Islam Lamongan, 2018; Walyani & Purwoastuti, 2016), ibu nifas dikatakan normal apabila pada hari keempat lochea sudah berubah menjadi sanguinolenta; sebaliknya, jika pada hari keempat lochea masih rubra (merah segar), perlu dievaluasi lebih lanjut.

3. Lochea Serosa — PPV Kekuningan (Hari ke-7 sampai ke-14)

Lochea serosa muncul pada minggu kedua pascasalin. Warnanya kuning atau coklat kekuningan. Kandungan darah sudah sangat berkurang, didominasi oleh serum, leukosit, dan sel-sel jaringan yang sedang dalam proses penyembuhan.

Tidak ada lagi komponen eritrosit yang signifikan pada fase ini. Ini merupakan tanda bahwa luka bekas implantasi plasenta sudah menutup dengan baik (Suherni, 2009; Sulistyawati, 2009).

4. Lochea Alba — PPV Putih (Setelah Hari ke-14 hingga ±42 Hari)

Lochea alba adalah fase terakhir PPV kebidanan yang berlangsung sejak minggu ketiga hingga akhir masa nifas. Warnanya putih atau putih kekuningan.

Kandungannya didominasi oleh leukosit, mukus serviks, sel epitel, dan bakteri normal vagina — tanpa komponen eritrosit (Scribd LOCHEA, 2020; Sulistyawati, 2009). Lochea alba menandakan masa pemulihan hampir tuntas dan uterus mendekati kondisi seperti sebelum hamil.

Tabel Ringkasan Jenis-Jenis PPV (Lochea) dalam Kebidanan

Jenis LocheaHari ke-WarnaKandungan UtamaKeterangan
Rubra1 – 3Merah segar/kehitamanDarah segar, desidua, vernix, lanugoNormal
Sanguinolenta3 – 7Merah kekuningan/coklatDarah, lendir, plasmaNormal
Serosa7 – 14Kuning kecoklatanSerum, leukosit, sedikit eritrositNormal
Alba> 14 – ±42Putih/jernih kekuninganLeukosit, mukus serviks, sel epitelNormal

Sumber: Suherni (2009), Sulistyawati (2009), Aritonang (2021), Juliastuti dkk. (2021), Jurnal Midpro Universitas Islam Lamongan (2018).

Pemantauan PPV Kebidanan dalam Kunjungan Nifas (KF1 – KF4)

Pemantauan PPV kebidanan dilakukan secara sistematis oleh bidan pada setiap kunjungan nifas.

Berdasarkan Buku KIA edisi 2020 dan Pedoman Pelayanan Kesehatan Ibu Kemenkes RI, pelayanan pada ibu nifas dilakukan sebanyak 4 kali kunjungan (KF1–KF4), dan penilaian PPV adalah bagian wajib dari pemeriksaan fisik di setiap kunjungan (Jurnal Kebidanan Terkini, 2022).

PPV pada Setiap Tahap Kunjungan Nifas

KF1 (6 jam – 2 hari postpartum): PPV berupa lochea rubra berwarna merah segar. Bidan memastikan kontraksi uterus keras, TFU 2 jari di bawah pusat, dan volume PPV tidak mengkhawatirkan. Pada fase ini, pemantauan PPV kebidanan paling kritis karena risiko perdarahan postpartum primer tertinggi terjadi dalam 2 jam pertama pascasalin.

KF2 (3–7 hari postpartum): PPV berubah menjadi lochea sanguinolenta atau serosa berwarna coklat kemerahan hingga kekuningan. TFU berada di pertengahan pusat-simpisis. Jika PPV masih merah segar pada hari ke-5 ke atas, perlu dicurigai adanya subinvolusi uterus atau sisa plasenta.

KF3 (8–28 hari postpartum): PPV berupa lochea serosa atau mulai menuju alba. TFU tidak teraba. Bidan menilai kondisi perineum dan luka jahit, serta memberikan konseling KB pascapersalinan (Jurnal Kebidanan Terkini, 2022).

KF4 (29–42 hari postpartum): PPV sudah berupa lochea alba berwarna putih atau bahkan tidak ada lagi. Uterus sudah kembali ke ukuran normal. Ini menandakan masa nifas sudah hampir selesai.

Hubungan PPV dengan Involusi Uterus

PPV kebidanan dan involusi uterus adalah dua parameter yang tidak dapat dipisahkan. Proses involusi uterus — kembalinya uterus ke bentuk dan ukuran sebelum hamil — berlangsung melalui mekanisme autolisis aktif, kontraksi otot, dan iskemia.

Uterus mengalami involusi dengan cepat selama 7–10 hari pertama; setelah 12 hari postpartum, uterus biasanya sudah tidak teraba lagi, dan setelah 6 minggu kembali ke ukuran normal (Juliastuti dkk., 2021).

Ketika involusi berjalan normal, PPV akan mengikuti pola perubahan lochea sesuai waktunya. Sebaliknya, PPV yang tidak sesuai — misalnya lochea rubra yang menetap lebih dari 7 hari — mengindikasikan kemungkinan subinvolusi uterus, yang dapat disebabkan oleh sisa plasenta, infeksi endometrium, atau kurang efektifnya kontraksi miometrium (Machfudloh dkk., 2020).

PPV Kebidanan Abnormal

Tidak semua PPV bersifat normal dan fisiologis. Bidan dan ibu nifas wajib mengenali tanda-tanda PPV kebidanan abnormal yang merupakan sinyal kegawatdaruratan.

Berikut klasifikasi PPV abnormal berdasarkan konteks klinisnya:

PPV Abnormal pada Masa Kehamilan (Perdarahan Pervaginam)

PPV atau perdarahan pervaginam yang terjadi selama kehamilan selalu dianggap tanda bahaya hingga terbukti sebaliknya.

Berdasarkan modul Perdarahan Pervaginam dan Pengeluaran Cairan Pervaginam Kemenkes RI (2015) dan Modul Kegawatdaruratan Maternal-Neonatal Polkesraya (2021), perdarahan pervaginam pada kehamilan dikategorikan tidak normal apabila:

  • Keluar darah merah segar dalam jumlah banyak
  • Disertai nyeri perut (nyeri hebat, menetap, atau kram)
  • Terjadi tanpa provokasi, khususnya pada kehamilan muda

Kondisi yang perlu dicurigai meliputi: abortus (pada trimester I), kehamilan ektopik terganggu — dengan tanda trias klasik: amenore, nyeri perut, PPV (Modul Polkesraya, 2021), mola hidatidosa, plasenta previa, dan solusio plasenta (pada trimester II–III).

PPV Abnormal Postpartum: Perdarahan Postpartum (PPH)

Perdarahan postpartum adalah kegawatdaruratan kebidanan paling berbahaya. Berdasarkan Vastra dkk. (2019) dalam Journal of Medula dan Alomedika (2025), PPH didefinisikan sebagai kehilangan darah melebihi 500 cc dalam 24 jam pascasalin pervaginam, atau lebih dari 1.000 cc pascaseksio sesarea.

Penyebab PPH dikenal dengan mnemonic “4T” yang telah ditetapkan secara internasional dan digunakan dalam referensi kebidanan Indonesia (FK-KMK UGM; Alomedika, 2025; Jurnal MedPro, 2023):

  1. Tone (Tonus) — Atonia uteri: uterus gagal berkontraksi sehingga pembuluh darah bekas implantasi plasenta tidak terkompresi; merupakan penyebab tersering PPH (75–80%)
  2. Trauma — Robekan jalan lahir: laserasi serviks, vagina, atau perineum; inversio uteri; ruptur uteri
  3. Tissue (Jaringan) — Sisa plasenta/selaput ketuban tertinggal di dalam uterus; retensio plasenta
  4. Thrombin — Gangguan pembekuan darah: koagulopati, HELLP syndrome, hemofilia
BACA JUGA:  Peluang Karir Menarik Lulusan D3 Kebidanan di CV Bidan

PPH dibagi menjadi dua berdasarkan waktu (Alomedika, 2025; Jurnal Galenical Unimal, 2023):

  • PPH Primer: terjadi dalam 24 jam pertama pascasalin — umumnya disebabkan atonia uteri, robekan jalan lahir, atau inversio uteri
  • PPH Sekunder: terjadi setelah 24 jam hingga 6 minggu pascasalin — umumnya disebabkan sisa plasenta, infeksi endometritis, atau subinvolusi uterus yang tidak tertangani

Tanda Bahaya PPV Kebidanan yang Harus Segera Ditangani

Bidan wajib segera bertindak dan merujuk ibu bila ditemukan tanda-tanda berikut pada pemantauan PPV kebidanan:

  • 🔴 PPV merah segar bervolume sangat banyak — membasahi lebih dari 1 pembalut dalam 1 jam
  • 🔴 PPV disertai demam > 38°C — kemungkinan infeksi endometritis atau sepsis puerperalis
  • 🔴 PPV berbau busuk/menyengat — berbeda dari bau amis khas lochea normal; sinyal infeksi
  • 🔴 PPV merah segar kembali muncul setelah hari ke-7 — kemungkinan subinvolusi atau sisa plasenta
  • 🔴 PPV disertai pusing berat, lemas, keringat dingin, atau penurunan kesadaran — tanda syok hipovolemik
  • 🔴 Uterus teraba lembek (atonia) atau nyeri tekan abdomen bawah yang tidak biasa

Menurut Buku Ajar Kegawatdaruratan (Herselowati, repo IPWIJA), bila ada perdarahan pervaginam yang mencurigakan, bidan harus mengkaji: jumlah darah yang keluar, kondisi vulva, kontraksi uterus (adanya atonia), dan kondisi kandung kemih. Tanda-tanda syok seperti nadi > 110x/menit dan tekanan darah sistolik < 90 mmHg memerlukan tindakan resusitasi segera.

Penanganan PPV Kebidanan Abnormal

Penanganan Kegawatdaruratan oleh Bidan

Ketika ditemukan PPV kebidanan abnormal berupa perdarahan postpartum, bidan memiliki sejumlah kewenangan penanganan awal:

  • Kompresi bimanual uterus (KBU): dilakukan pada kasus atonia uteri untuk merangsang kontraksi dan menghentikan perdarahan
  • Pemberian uterotonika: oksitosin 10 IU IM/IV sebagai lini pertama, diikuti misoprostol (800–1.000 µg rektal) atau metilergometrin bila diperlukan (Alomedika, 2025)
  • Penjahitan laserasi: pada PPV akibat robekan jalan lahir yang teridentifikasi
  • Eksplorasi manual: untuk mengeluarkan sisa plasenta yang masih tertinggal (tissue)
  • Resusitasi cairan: cairan kristaloid (RL atau NaCl 0,9%) melalui jalur IV untuk mencegah syok hipovolemik; transfusi darah dipertimbangkan jika Hb < 8 g/dL

Pencegahan PPV Abnormal melalui Asuhan Kebidanan Berkualitas

Pencegahan adalah strategi terbaik. Beberapa intervensi berbasis bukti yang terbukti efektif antara lain:

  1. Manajemen Aktif Kala III (MAK III): pemberian oksitosin 10 IU IM segera setelah bayi lahir, peregangan tali pusat terkendali, dan masase uterus pascapengeluaran plasenta. Wardani dkk. (2023) dalam Jurnal Kebidanan Indonesia membuktikan bahwa MAK III secara signifikan mengurangi insidens PPH.
  2. Pemantauan ketat kala IV: observasi selama 2 jam pascasalin — nilai PPV, kontraksi uterus, TFU, dan tanda vital setiap 15 menit pada jam pertama dan setiap 30 menit pada jam kedua.
  3. Kunjungan nifas rutin (KF1–KF4): memastikan PPV berjalan normal dan mendeteksi dini komplikasi.
  4. Nutrisi dan istirahat cukup: mendukung proses involusi uterus dan penyembuhan luka perineum, sehingga PPV kembali normal sesuai waktunya.

Peran Bidan dalam Pemantauan PPV Kebidanan

Bidan adalah tenaga kesehatan yang paling bertanggung jawab dalam pemantauan PPV kebidanan secara langsung.

Dalam perannya sebagai pemberi asuhan (care provider), bidan melakukan pemeriksaan PPV secara sistematis pada setiap kunjungan, mendokumentasikan dalam format SOAP, dan mengambil keputusan klinis berbasis bukti (Romlah dkk., 2024).

Sebagai edukator, bidan memberikan KIE kepada ibu dan keluarga tentang:

  • Perbedaan PPV/lochea normal dan abnormal serta kapan harus segera ke fasilitas kesehatan
  • Cara menjaga kebersihan genetalia selama masa nifas (vulva hygiene) untuk mencegah infeksi yang dapat memperburuk PPV
  • Pentingnya mengikuti semua kunjungan nifas terjadwal (KF1–KF4)

Penelitian Anggorodiputro dkk. (2026) yang dipublikasikan dalam Jurnal Kesehatan STIKES Banten menegaskan bahwa asuhan kebidanan yang komprehensif dan berbasis bukti — termasuk pemantauan PPV yang cermat — terbukti mempercepat pemulihan ibu nifas dan mencegah komplikasi serius.

FAQ

Apa kepanjangan PPV dalam kebidanan?

PPV adalah singkatan dari Pengeluaran Per Vagina (atau Pervaginam). Hal ini dikonfirmasi secara resmi dalam berbagai prosiding dan jurnal kebidanan Indonesia, di antaranya Prosiding Seminar Nasional Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo (2023). PPV digunakan dalam rekam medis dan dokumentasi SOAP kebidanan untuk mencatat cairan yang keluar melalui vagina selama masa nifas maupun pada kondisi perdarahan dalam kehamilan.

Berapa lama PPV (lochea) normal berlangsung setelah melahirkan?

PPV berupa lochea berlangsung normal selama 4 hingga 6 minggu (sekitar 42 hari) pascasalin, dengan perubahan bertahap: merah/kehitaman (rubra, hari 1–3) → merah-kekuningan (sanguinolenta, hari 3–7) → kuning-coklat (serosa, hari 7–14) → putih (alba, hari 14 hingga ±42). Setelah 42 hari, PPV seharusnya sudah berhenti sepenuhnya (Suherni, 2009; Sulistyawati, 2009).

Apakah PPV merah terang yang muncul kembali setelah hari ke-7 berbahaya?

Ya. PPV merah segar yang kembali muncul atau menetap setelah hari ketujuh adalah tanda yang harus segera dievaluasi. Kondisi ini bisa mengindikasikan subinvolusi uterus, sisa plasenta yang belum dikeluarkan, atau infeksi endometritis. Segera konsultasikan ke bidan atau dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.

Bagaimana cara bidan menilai PPV dalam rekam medis?

Bidan mencatat PPV dalam data objektif (DO) format SOAP mencakup empat aspek: warna (merah/coklat/kuning/putih), volume (dalam cc atau jumlah pembalut), bau (amis normal atau busuk), dan ada/tidaknya tanda infeksi. Contoh: “PPV: lochea sanguinolenta, warna coklat kemerahan, ±20 cc, bau amis khas, tidak ada tanda infeksi.”

Apakah PPV bisa terjadi pada ibu hamil?

Ya, dan pada ibu hamil, perdarahan pervaginam selalu merupakan tanda bahaya yang memerlukan evaluasi segera. Penyebabnya bervariasi: abortus, kehamilan ektopik (trias klasik: amenore, nyeri perut, PPV), mola hidatidosa pada trimester I; plasenta previa atau solusio plasenta pada trimester II–III (Modul Kegawatdaruratan Maternal Polkesraya, 2021).

Apa tanda PPV kebidanan yang normal menurut standar akademik?

PPV kebidanan dianggap normal apabila: warna lochea berubah sesuai tahapan waktu yang telah ditetapkan, volume tidak berlebihan (tidak lebih dari 1 pembalut/jam pada fase rubra), berbau amis tidak busuk, tidak disertai demam atau nyeri abdomen yang tidak biasa, serta kondisi umum ibu baik tanpa tanda-tanda syok (Sulistyawati, 2009; Aritonang, 2021).

Kesimpulan

PPV kebidanan — singkatan dari Pengeluaran Per Vagina — adalah parameter klinis yang sangat penting dalam asuhan kebidanan, khususnya pada masa nifas.

Pemahaman yang benar tentang jenis-jenis PPV/lochea (rubra hari 1–3, sanguinolenta hari 3–7, serosa hari 7–14, alba setelah hari ke-14), cara pemantauannya oleh bidan pada setiap kunjungan nifas KF1–KF4, serta kemampuan mengenali PPV abnormal dan tanda bahaya, adalah kunci dalam mencegah komplikasi dan kematian ibu.

Berdasarkan berbagai jurnal ilmiah kebidanan Indonesia yang telah terverifikasi, deteksi dini melalui pemantauan PPV kebidanan yang cermat dan sistematis terbukti mampu menekan angka morbiditas dan mortalitas ibu postpartum.

Bidan sebagai garda terdepan pelayanan kesehatan ibu memiliki tanggung jawab besar dalam mendokumentasikan, mengevaluasi, dan mengedukasi ibu tentang PPV sebagai bagian dari asuhan kebidanan komprehensif berbasis bukti.

📌 Catatan Penting: Jika Anda atau anggota keluarga mengalami tanda-tanda PPV abnormal — seperti perdarahan yang sangat banyak, bau busuk, demam, atau penurunan kesadaran — segera hubungi bidan atau tenaga kesehatan terdekat. Jangan menunda penanganan, karena deteksi dini menyelamatkan nyawa.

Daftar Referensi

Buku dan Buku Ajar

  1. Aritonang, J. (2021). Asuhan Kebidanan Pada Masa Nifas. Yogyakarta: Deepublish Publisher.
  2. Azizah, N., & Rosyidah, R. (2021). Buku Ajar Mata Kuliah Asuhan Kebidanan Nifas dan Menyusui. Sidoarjo: Umsida Press. https://doi.org/10.21070/2019/978-602-5914-78-2
  3. Herselowati. (t.t.). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan. Jakarta: IPWIJA. Diakses dari http://repository.ipwija.ac.id/5136/2/Buku%20Ajar%20Gadar.pdf
  4. Juliastuti, S., et al. (2021). Asuhan Kebidanan Nifas Dan Menyusui. Bandung: Media Sains Indonesia.
  5. Kemenkes RI. (2015). Modul 6: Perdarahan Pervaginam dan Pengeluaran Cairan Pervaginam. Jakarta: Pusdiklat Tenaga Kesehatan, BPPSDMK Kemenkes RI. Diakses dari https://www.slideshare.net/pjj_kemenkes/kb1-perdarahan-pervaginam-dan-pengeluaran-cairan-pervaginam
  6. Polkesraya. (2021). Modul Teori I: Asuhan Kebidanan Kegawatdaruratan Maternal Neonatal. Palangka Raya: Politeknik Kesehatan Kemenkes Palangka Raya. Diakses dari http://repo.polkesraya.ac.id/1840/1/MODUL%201.pdf
  7. Prawirohardjo, S. (2014). Ilmu Kebidanan (Edisi ke-4). Jakarta: PT Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.
  8. Suherni, et al. (2009). Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta: Fitramaya.
  9. Sulistyawati, A. (2009). Buku Ajar Asuhan Kebidanan Pada Ibu Nifas. Yogyakarta: ANDI.
  10. Walyani, E. S., & Purwoastuti, E. (2016). Asuhan Kebidanan Masa Nifas dan Menyusui. Yogyakarta: Pustaka Baru Press.

Jurnal Ilmiah dan Prosiding

  1. Anggorodiputro, R. R., Rusman, K., Ramadhaniah, F. R., & Alamsyah, C. M. (2026). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas dengan Luka Perineum. Jurnal Kesehatan STIKES Banten, 11(2), 46–52. Diakses dari https://journal.stikesbanten.ac.id/index.php/Kesehatan/article/view/207
  2. Hidayah, N. (2021). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Prosiding Seminar Nasional Unimus. Diakses dari https://prosiding.unimus.ac.id/index.php/semnas/article/view/1250
  3. Machfudloh, M., Putri, S. M., Chasanah, A. N., & Aspan, S. H. (2020). Pengaruh Cupping Massage terhadap Pengeluaran Lochea pada Ibu Post Partum di RSI Sultan Agung Semarang. Jurnal SMART Kebidanan, 7(2), 114. https://doi.org/10.34310/sjkb.v7i2.368
  4. Pengaruh Senam Nifas terhadap Tinggi Fundus Uteri dan Pengeluaran Jenis Lochea pada Ibu Primipara. Jurnal Ilmiah Bidan (e-journal IBI), Vol. 1. Diakses dari https://e-journal.ibi.or.id/index.php/jib/article/download/17/15/
  5. Pengeluaran Lochea. Jurnal Midpro, Universitas Islam Lamongan, 10(1), 2018. Diakses dari https://jurnalkesehatan.unisla.ac.id/index.php/midpro/article/download/56/53/113
  6. Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan. (2023). Asuhan Kebidanan Berkesinambungan pada Ny. V. Universitas Ngudi Waluyo. Diakses dari https://callforpaper.unw.ac.id/index.php/semnasdancfpbidanunw/article/download/685/396/3435
  7. Romlah, R., Sari, A. P., & Anita, T. (2024). Simplications documentation format of the midwifery care SOAP. Jurnal Ilmiah Kesehatan, 6(3), 407–415. https://doi.org/10.36590/jika.v6i3.903
  8. Vastra, A. R., Taufik, I., & Islamy, N. (2019). P3A0 Perdarahan Pasca Persalinan Pervaginam et causa Atonia Uteri: Laporan Kasus. Journal of Medula (Medula), 8(2), 89. Diakses dari https://journalofmedula.com/index.php/medula/article/download/809/654
  9. Wardani, A., Puspitasari, D., & Wulandari, N. (2023). Active management of the third stage of labor to prevent postpartum complications. Jurnal Kebidanan Indonesia, 14(2), 75–83.
  10. Pengaruh Budaya Pantangan terhadap Perawatan dan Kebutuhan Ibu Nifas di Wilayah Mekarwangi Kota Bogor. (2023). Academia.edu. Diakses dari https://www.academia.edu/110351854
  11. Jurnal Kebidanan Terkini (Current Midwifery Journal). (2022). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas Normal (KB Pascapersalinan). HTP Pekanbaru. Diakses dari https://jom.htp.ac.id/index.php/jkt/article/download/1090/315
  12. Atonia Uteri pada Pasien Post Sectio Caesarea. GALENICAL: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Mahasiswa Malikussaleh, 2(5), 53–65, 2023. Diakses dari https://ojs.unimal.ac.id/galenical/article/download/10124/pdf
  13. Jurnal Medical Profession (MedPro). (2023). Penanganan Perdarahan Postpartum. Jurnal FK Universitas Tadulako, 5(1), 27–32. Diakses dari https://jurnal.fk.untad.ac.id/index.php/medpro/article/download/867/453/2513

Sumber Klinis Terverifikasi

  1. FK-KMK UGM. (2010). Seminar & Workshop: Penanganan Pendarahan Postpartum Terkini. Diakses dari https://fkkmk.ugm.ac.id/seminar-workshop-penanganan-pendarahan-postpartum-terkini/
  2. Detik Health. (2024). Mengkhawatirkan! Angka Kematian Ibu di RI Tinggi, Kemenkes Ungkap Pemicu Terbanyak. Diakses dari https://health.detik.com/berita-detikhealth/d-7182591
  3. Lusa. (2011). Asuhan Kebidanan pada Ibu Nifas. Diakses dari https://lusa.afkar.id/asuhan-kebidanan-pada-ibu-nifas
  4. Poltekkesdenpasar. (t.t.). BAB II: Tinjauan Pustaka — Konsep Dasar Nifas. Diakses dari http://repository.poltekkes-denpasar.ac.id/7749/3/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf
  5. Poltekkesjogja. (2022). BAB II Kajian Kasus dan Teori. Diakses dari http://eprints.poltekkesjogja.ac.id/8494/4/Chapter%202.pdf