📋 TB, Tuberkulosis Paru, Tuberculosis, Flek Paru 🏷️ ICD-10: A15

TBC

Budiman Yasir
Ditinjau secara medis oleh Dr. apt. Budiman Yasir, S.Si.
🗓 Terakhir diperbarui:
Penyakit TBC

Disclaimer Medis: Informasi pada halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran, diagnosis, atau pengobatan dari tenaga medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau apoteker yang kompeten.

Apa Itu TBC?

Tuberkulosis (TBC) adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru, meskipun bakteri TBC juga dapat menyebar ke organ lain seperti ginjal, tulang, kelenjar getah bening, dan otak.

Bakteri TBC menyebar melalui udara ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, atau berbicara, sehingga orang di sekitarnya dapat menghirup percikan droplet yang mengandung bakteri tersebut. Tidak semua orang yang terpapar bakteri TBC akan langsung sakit — sistem kekebalan tubuh yang kuat dapat 'mengurung' bakteri sehingga tidak aktif, kondisi ini disebut TBC laten.

TBC merupakan salah satu penyakit menular yang paling banyak menyebabkan kematian di dunia. Indonesia termasuk negara dengan beban TBC tertinggi di dunia, menempati urutan kedua setelah India menurut laporan WHO. Dengan pengobatan yang tepat dan tuntas, TBC dapat disembuhkan sepenuhnya.


Gejala TBC

  • Batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu, sering disertai dahak dan kadang berdarah, merupakan gejala utama TBC paru yang harus segera diwaspadai.
  • Demam ringan yang muncul terutama pada sore atau malam hari, sering dirasakan sebagai perasaan hangat atau meriang yang berulang.
  • Berkeringat banyak pada malam hari meskipun suhu ruangan tidak panas, sering membasahi pakaian atau tempat tidur.
  • Penurunan berat badan yang signifikan tanpa alasan yang jelas dalam beberapa minggu hingga bulan.
  • Kelelahan dan lemas yang terus-menerus meskipun sudah cukup istirahat.
  • Nyeri dada yang terasa saat bernapas atau batuk, menandakan peradangan di jaringan paru.
  • Sesak napas yang semakin memburuk seiring perkembangan penyakit.
  • Nafsu makan berkurang drastis sehingga penderita tidak merasa lapar meskipun sudah lama tidak makan.
  • Pembesaran kelenjar getah bening di leher atau ketiak (pada TBC kelenjar), terasa seperti benjolan yang tidak nyeri.
  • Pada TBC laten, penderita tidak merasakan gejala apapun namun tetap berisiko menjadi TBC aktif di masa mendatang.

Penyebab TBC

TBC disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis, kuman berbentuk batang yang tahan terhadap banyak kondisi lingkungan dan dapat bertahan hidup dalam droplet udara selama beberapa jam.

Penularan terjadi melalui udara (airborne transmission) ketika penderita TBC aktif batuk, bersin, tertawa, atau berbicara, melepaskan partikel kecil berisi bakteri yang dapat terhirup oleh orang lain di sekitarnya.

Seseorang yang menghirup bakteri TBC tidak selalu langsung menjadi sakit. Jika sistem imun tubuh kuat, bakteri dapat diblokir dan tetap tidak aktif (TBC laten). Namun jika imun tubuh melemah karena berbagai faktor, bakteri dapat aktif kembali dan menyebabkan TBC aktif.

TBC tidak menular melalui berjabat tangan, berbagi peralatan makan, menyentuh permukaan yang pernah disentuh penderita, atau kontak fisik biasa seperti pelukan.


Faktor Risiko

  • Kontak erat dan berkepanjangan dengan penderita TBC aktif, terutama di lingkungan tertutup dengan ventilasi buruk seperti rumah padat penghuni.
  • Infeksi HIV/AIDS yang melemahkan sistem kekebalan tubuh secara drastis, sehingga tubuh tidak mampu melawan bakteri TBC.
  • Malnutrisi atau kekurangan gizi yang menyebabkan sistem imun tidak berfungsi optimal.
  • Tinggal atau bekerja di lingkungan dengan kepadatan tinggi seperti penjara, panti asuhan, atau rumah singgah.
  • Merokok yang merusak jaringan paru dan menurunkan kemampuan paru-paru untuk membersihkan kuman.
  • Diabetes melitus yang tidak terkontrol, karena kadar gula darah tinggi melemahkan respons imun terhadap infeksi.
  • Penggunaan obat imunosupresan seperti kortikosteroid jangka panjang atau obat kemoterapi.
  • Usia sangat muda (bayi dan anak kecil) atau lanjut usia, karena sistem imun yang belum matang atau sudah melemah.
  • Tinggal di daerah dengan prevalensi TBC tinggi, termasuk banyak wilayah di Indonesia.
  • Penyalahgunaan alkohol yang melemahkan sistem kekebalan dan sering dikaitkan dengan kondisi gizi buruk.

Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

Kerusakan paru permanen akibat jaringan paru yang hancur dan digantikan jaringan parut, menyebabkan gangguan fungsi pernapasan jangka panjang.

TBC milier, yaitu penyebaran bakteri TBC ke seluruh tubuh melalui aliran darah sehingga menginfeksi banyak organ sekaligus, kondisi yang sangat berbahaya dan mengancam jiwa.

Meningitis TBC, yaitu infeksi selaput otak yang dapat menyebabkan kerusakan saraf permanen, kelumpuhan, hingga kematian.

Efusi pleura, yaitu penumpukan cairan di rongga antara paru dan dinding dada yang menyebabkan sesak napas berat.

TBC tulang belakang (Pott's disease) yang dapat menyebabkan nyeri punggung kronis, deformitas tulang, bahkan kelumpuhan jika menekan saraf tulang belakang.

Gagal napas akibat kerusakan paru yang luas, memerlukan bantuan ventilator mekanik.

TBC yang kebal obat (MDR-TB dan XDR-TB) akibat pengobatan yang tidak tuntas, membuat penyakit jauh lebih sulit dan mahal untuk diobati.

Komplikasi pada organ lain seperti gagal ginjal (TBC ginjal), masalah jantung (perikarditis TBC), dan infertilitas (TBC saluran reproduksi).


Kapan Harus ke Dokter?

  • Segera periksakan diri ke dokter atau fasilitas kesehatan jika mengalami batuk yang tidak sembuh lebih dari dua minggu, terutama jika disertai dahak atau darah.
  • Cari bantuan medis segera jika mengalami demam yang berlangsung berminggu-minggu disertai keringat malam berlebihan dan penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas.
  • Pergi ke UGD rumah sakit terdekat jika mengalami batuk darah dalam jumlah banyak (hemoptisis masif), karena ini merupakan kondisi darurat medis.
  • Periksakan diri jika Anda pernah kontak erat dengan penderita TBC yang terkonfirmasi, meskipun belum merasakan gejala apapun.
  • Segera ke dokter jika mengalami sesak napas progresif, nyeri dada, atau penurunan kesadaran yang dikaitkan dengan gejala TBC.
  • Pasien dengan HIV, diabetes, atau kondisi imunosupresi lainnya yang mengalami gejala pernapasan berkepanjangan harus segera dievaluasi untuk kemungkinan TBC.
  • Jika anak mengalami demam berkepanjangan, berat badan tidak naik, atau kelenjar bengkak di leher, segera bawa ke dokter untuk pemeriksaan TBC anak.

Cara Mengobati TBC

🏠 Perawatan di Rumah

  • Patuhi jadwal minum obat TBC setiap hari tanpa terlewat selama minimal 6 bulan, karena penghentian dini adalah penyebab utama kegagalan pengobatan dan resistensi obat.
  • Gunakan masker saat berada di dekat orang lain, terutama di dalam ruangan, selama fase infeksius awal pengobatan (biasanya 2 minggu pertama).
  • Pastikan ruangan tempat tinggal memiliki ventilasi yang baik dengan sirkulasi udara yang lancar untuk mengurangi konsentrasi bakteri di udara.
  • Konsumsi makanan bergizi seimbang dengan cukup protein (daging, ikan, telur, kacang-kacangan) untuk mendukung perbaikan jaringan dan memperkuat sistem imun.
  • Istirahat yang cukup dan hindari aktivitas fisik berat terutama pada bulan-bulan awal pengobatan saat tubuh masih lemah.
  • Hindari merokok dan konsumsi alkohol karena keduanya memperburuk kondisi paru dan menghambat proses penyembuhan.
  • Beritahu anggota keluarga serumah tentang kondisi Anda agar mereka dapat memeriksakan diri dan menjalani tes TBC.
  • Buang dahak di tempat yang tertutup dan benar (tisu atau wadah bertutup), jangan meludah sembarangan untuk mencegah penularan.
  • Pantau dan catat efek samping obat, serta laporkan kepada tenaga kesehatan jika muncul reaksi yang mengkhawatirkan seperti mual berat, ruam, atau gangguan penglihatan.

💊 Pengobatan Medis

  • Pengobatan TBC menggunakan kombinasi antibiotik standar selama minimal 6 bulan yang dikenal sebagai Directly Observed Treatment Short-Course (DOTS), dipantau langsung oleh tenaga kesehatan atau pengawas menelan obat (PMO).
  • Fase intensif (2 bulan pertama) menggunakan kombinasi empat obat utama: Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirazinamid (Z), dan Etambutol (E), untuk membunuh bakteri secara agresif.
  • Fase lanjutan (4 bulan berikutnya) menggunakan dua obat: Isoniazid dan Rifampisin, untuk membersihkan sisa bakteri yang mungkin masih bertahan.
  • Obat TBC disediakan secara gratis oleh pemerintah melalui Puskesmas dan rumah sakit pemerintah di seluruh Indonesia sebagai bagian dari program nasional penanggulangan TBC.
  • Untuk TBC yang resistan obat (MDR-TB), diperlukan regimen pengobatan khusus yang lebih kompleks dengan obat lini kedua seperti Bedaquiline, Linezolid, atau Clofazimine, dan berlangsung hingga 18-20 bulan.
  • Uji kepekaan obat (drug susceptibility testing) dilakukan untuk pasien yang berisiko MDR-TB agar dapat diberikan regimen yang tepat.
  • Pembedahan (operasi) dapat dipertimbangkan pada kasus TBC yang sangat parah, seperti pembersihan abses atau pengangkatan jaringan paru yang rusak berat, namun jarang diperlukan.
  • Pemantauan rutin meliputi pemeriksaan dahak berkala, foto rontgen dada, dan tes fungsi hati untuk memantau efek samping obat selama pengobatan berlangsung.

Pencegahan TBC

  1. Berikan vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guérin) kepada bayi baru lahir sesuai jadwal imunisasi nasional, karena vaksin ini terbukti melindungi bayi dan anak dari bentuk TBC berat seperti meningitis TBC.
  2. Pastikan rumah memiliki ventilasi yang baik dan mendapatkan sinar matahari cukup, karena sinar UV matahari dapat membunuh bakteri TBC di udara dan permukaan.
  3. Hindari kontak berkepanjangan dengan penderita TBC aktif di ruang tertutup, atau gunakan masker N95 jika kontak tidak dapat dihindari.
  4. Pertahankan status gizi yang baik dengan pola makan sehat dan bergizi untuk menjaga kekebalan tubuh tetap optimal.
  5. Jangan merokok dan batasi konsumsi alkohol, karena kedua kebiasaan ini secara signifikan melemahkan pertahanan paru-paru.
  6. Segera periksa dan obati kondisi kesehatan yang melemahkan imun seperti HIV, diabetes, atau gangguan nutrisi.
  7. Bagi individu dengan TBC laten yang berisiko tinggi (seperti penderita HIV), pemberian terapi pencegahan TBC (TPT) dengan Isoniazid dapat mencegah perkembangan menjadi TBC aktif.
  8. Lakukan skrining TBC secara rutin bagi orang yang berisiko tinggi, seperti tenaga kesehatan, kontak erat penderita TBC, dan penghuni lapas.
  9. Dukung program DOTS pemerintah dengan memastikan penderita TBC di sekitar Anda menyelesaikan pengobatan hingga tuntas untuk mencegah penyebaran dan resistensi obat.

Pertanyaan Umum tentang TBC


Referensi

  1. WHO. Tuberculosis (TB) Fact Sheet. 2024. Tersedia di: https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/tuberculosis
  2. Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran: Tata Laksana Tuberkulosis. 2020. Tersedia di: https://www.kemkes.go.id
  3. Kemenkes RI. Strategi Nasional Penanggulangan Tuberkulosis di Indonesia 2020-2024.
  4. PDPI (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia). Tuberkulosis: Pedoman Diagnosis dan Penatalaksanaan di Indonesia. 2021.
  5. Mayo Clinic. Tuberculosis. Tersedia di: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/tuberculosis/symptoms-causes/syc-20351250
  6. MedlinePlus. Tuberculosis. Tersedia di: https://medlineplus.gov/tuberculosis.html
  7. CDC. Tuberculosis (TB). Tersedia di: https://www.cdc.gov/tb/default.htm
  8. WHO. Global Tuberculosis Report 2023. Tersedia di: https://www.who.int/teams/global-tuberculosis-programme/tb-reports/global-tuberculosis-report-2023