📋 Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas, GPPH, Attention Deficit Disorder, ADD, Hiperaktif 🏷️ ICD-10: F90.0

ADHD

Budiman Yasir
Ditinjau secara medis oleh Dr. apt. Budiman Yasir, S.Si.
🗓 Terakhir diperbarui:
Ilustrasi penyakit ADHD

Disclaimer Medis: Informasi pada halaman ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan saran, diagnosis, atau pengobatan dari tenaga medis profesional. Selalu konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau apoteker yang kompeten.

Apa Itu ADHD?

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) atau dalam bahasa Indonesia dikenal sebagai Gangguan Pemusatan Perhatian dan Hiperaktivitas (GPPH) adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai oleh pola persisten berupa kurangnya perhatian, hiperaktivitas, dan/atau impulsivitas yang mengganggu fungsi sehari-hari atau perkembangan seseorang.

Kondisi ini bukan sekadar perilaku nakal atau kurangnya disiplin. ADHD adalah kondisi medis nyata yang berkaitan dengan perbedaan struktur dan fungsi otak, terutama pada area yang mengatur perhatian, pengendalian impuls, dan perencanaan (fungsi eksekutif).

ADHD paling sering terdiagnosis pada masa kanak-kanak, namun dapat berlanjut hingga remaja dan dewasa. Menurut data global, sekitar 5-7% anak-anak dan sekitar 2-5% orang dewasa hidup dengan ADHD. Di Indonesia, prevalensinya diperkirakan serupa dengan angka global, meski data nasional masih terbatas.

ADHD dibagi menjadi tiga subtipe utama: Predominantly Inattentive (kurang perhatian dominan), Predominantly Hyperactive-Impulsive (hiperaktif-impulsif dominan), dan Combined Presentation (gabungan keduanya), yang merupakan subtipe paling umum.


Gejala ADHD

  • Sulit memusatkan perhatian dalam jangka panjang, mudah teralihkan oleh hal-hal kecil di sekitarnya, dan sering tidak menyelesaikan tugas atau pekerjaan yang sudah dimulai.
  • Sering membuat kesalahan ceroboh karena tidak teliti dalam mengerjakan tugas sekolah, pekerjaan, atau kegiatan lainnya.
  • Tampak tidak mendengarkan ketika diajak bicara secara langsung, meskipun tidak ada gangguan pendengaran yang jelas.
  • Kesulitan mengikuti instruksi atau arahan yang diberikan, sehingga tugas sekolah atau pekerjaan sering tidak selesai.
  • Sulit mengorganisir tugas dan kegiatan, seperti menjaga kerapian benda-benda, mengatur waktu, dan memenuhi tenggat waktu.
  • Menghindari, tidak menyukai, atau enggan melakukan tugas yang memerlukan upaya mental berkelanjutan seperti mengerjakan PR atau laporan kerja.
  • Sering kehilangan barang-barang yang diperlukan untuk tugas atau aktivitas sehari-hari (misalnya kunci, dompet, buku, atau alat tulis).
  • Sering lupa dalam kegiatan sehari-hari, seperti lupa janji, lupa bayar tagihan, atau lupa membawa barang penting.
  • Tidak bisa diam atau selalu bergerak; pada anak-anak sering terlihat berlarian, memanjat, atau bergerak di situasi yang tidak sesuai.
  • Sering meninggalkan kursi saat diharapkan untuk duduk diam, seperti di kelas atau di tempat kerja.
  • Berbicara terlalu banyak atau sulit diam meski dalam situasi yang memerlukan ketenangan.
  • Menginterupsi atau menyela orang lain yang sedang berbicara, atau menjawab pertanyaan sebelum pertanyaan selesai diucapkan.
  • Kesulitan menunggu giliran, seperti saat antre atau dalam permainan berkelompok.
  • Sering bertindak tanpa berpikir terlebih dahulu (impulsif), sehingga kadang membuat keputusan yang berisiko atau berbahaya.

Penyebab ADHD

ADHD disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dan neurobiologis, bukan karena pola asuh yang buruk atau faktor lingkungan semata.

Faktor genetik memegang peranan sangat besar; penelitian menunjukkan bahwa ADHD bersifat sangat herediter (keturunan), dengan estimasi heritabilitas sekitar 74-80%, artinya jika salah satu orang tua memiliki ADHD, anaknya memiliki risiko 4-8 kali lebih besar untuk mengalami kondisi yang sama.

Perbedaan struktur dan fungsi otak terbukti melalui penelitian neuroimaging: otak individu dengan ADHD menunjukkan perbedaan pada volume dan aktivitas di area prefrontal korteks, korteks cingulat anterior, dan ganglia basalis, yang berperan dalam pengendalian impuls, perhatian, dan fungsi eksekutif.

Ketidakseimbangan neurotransmiter, khususnya dopamin dan norepinefrin, di sirkuit otak yang mengatur perhatian dan perilaku turut berkontribusi secara signifikan terhadap gejala ADHD.

Faktor prenatal seperti paparan terhadap alkohol, tembakau (rokok), atau obat-obatan terlarang selama kehamilan meningkatkan risiko ADHD pada anak yang dilahirkan.

Kelahiran prematur atau berat badan lahir sangat rendah (BBLSR) juga dikaitkan dengan peningkatan risiko ADHD karena berpotensi memengaruhi perkembangan otak janin.

Paparan racun lingkungan pada masa awal kehidupan, terutama timbal (timah hitam), dikaitkan dengan peningkatan risiko ADHD, meski hubungan kausalitasnya masih terus diteliti.


Faktor Risiko

  • Memiliki anggota keluarga (orang tua atau saudara kandung) yang didiagnosis ADHD merupakan faktor risiko terkuat karena komponen genetik yang sangat dominan.
  • Lahir prematur (sebelum usia kehamilan 37 minggu) atau memiliki berat badan lahir sangat rendah meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf termasuk ADHD.
  • Terpapar asap rokok, alkohol, atau zat psikoaktif selama dalam kandungan dapat memengaruhi perkembangan otak janin dan meningkatkan risiko ADHD.
  • Paparan terhadap timbal atau logam berat lainnya pada masa balita dan kanak-kanak awal dikaitkan dengan peningkatan risiko gejala ADHD.
  • Mengalami cedera otak traumatis (TBI), terutama pada area frontal otak, dapat memunculkan gejala mirip ADHD.
  • Lahir dengan jenis kelamin laki-laki; ADHD sekitar 2-3 kali lebih sering terdiagnosis pada anak laki-laki dibandingkan perempuan, meskipun perempuan mungkin sering tidak terdiagnosis karena pola gejala yang berbeda.
  • Memiliki kondisi neurodevelopmental atau psikiatri lain seperti gangguan kecemasan, disleksia, atau gangguan tidur yang dapat memperparah atau menyerupai gejala ADHD.

Komplikasi yang Perlu Diwaspadai

Prestasi akademik yang buruk dan tingkat putus sekolah yang lebih tinggi akibat kesulitan berkonsentrasi dan mengikuti proses belajar di kelas.

Masalah dalam hubungan sosial dan pertemanan karena perilaku impulsif, sulit menunggu giliran, atau sering menginterupsi orang lain.

Risiko lebih tinggi mengalami gangguan mental komorbid seperti depresi, gangguan kecemasan, gangguan perilaku (conduct disorder), dan penyalahgunaan zat.

Kesulitan dalam dunia kerja, termasuk sering berganti pekerjaan, kinerja yang tidak konsisten, dan konflik dengan rekan kerja atau atasan.

Masalah keuangan akibat pengelolaan uang yang impulsif dan kurang terencana, serta kesulitan dalam memenuhi kewajiban finansial.

Risiko kecelakaan yang lebih tinggi, termasuk kecelakaan lalu lintas, karena impulsivitas dan kurangnya perhatian terhadap lingkungan sekitar.

Harga diri yang rendah dan citra diri negatif akibat bertahun-tahun mengalami kegagalan, kritik, dan kesulitan yang tidak dipahami oleh lingkungan sekitar.

Gangguan tidur yang umum terjadi pada individu dengan ADHD, termasuk kesulitan tidur, sering terbangun, dan kelelahan di siang hari.


Kapan Harus ke Dokter?

  • Segera konsultasikan ke dokter atau psikolog klinis jika anak Anda secara konsisten menunjukkan gejala kurang perhatian, hiperaktivitas, atau impulsivitas yang mengganggu prestasi sekolah dan hubungan sosialnya selama lebih dari 6 bulan.
  • Carilah bantuan profesional jika guru atau pengasuh melaporkan bahwa anak Anda mengalami kesulitan mengikuti pelajaran di kelas, sering bermasalah dengan teman, atau sulit mengontrol perilakunya dibandingkan anak-anak seusianya.
  • Konsultasikan ke dokter jika Anda sebagai orang dewasa mengalami kesulitan kronis dalam mengelola pekerjaan, keuangan, hubungan, atau merasa selalu kewalahan meski sudah berusaha keras, dan gejala ini sudah ada sejak masa kecil.
  • Cari pertolongan segera jika ADHD yang tidak tertangani telah menyebabkan depresi, kecemasan berat, atau pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
  • Kunjungi dokter jika anak Anda mendapat rekomendasi dari sekolah untuk evaluasi psikologis atau jika ada kekhawatiran tentang keterlambatan perkembangan.
  • Pertimbangkan evaluasi profesional jika ada riwayat keluarga ADHD dan anak menunjukkan tanda-tanda kesulitan belajar atau perilaku yang tidak biasa sejak usia dini.

Cara Mengobati ADHD

🏠 Perawatan di Rumah

  • Tetapkan rutinitas harian yang terstruktur dan konsisten untuk membantu individu dengan ADHD mengelola waktu dan kegiatan sehari-hari, karena keprediktabilan sangat membantu otak dengan ADHD berfungsi lebih baik.
  • Gunakan alat bantu visual seperti papan tulis, daftar tugas (checklist), pengingat (reminder) di ponsel, atau kalender berwarna untuk membantu mengingat tugas dan jadwal.
  • Pecah tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih mudah dikelola, dan berikan penghargaan kecil setiap kali satu langkah berhasil diselesaikan untuk meningkatkan motivasi.
  • Minimalkan gangguan saat melakukan tugas penting: matikan televisi, jauhkan ponsel, dan cari tempat belajar atau bekerja yang tenang dan bebas dari distraksi.
  • Dorong aktivitas fisik rutin setiap hari, karena olahraga terbukti membantu meningkatkan fungsi dopamin dan norepinefrin di otak, sehingga dapat meredakan gejala ADHD secara alami.
  • Pastikan pola tidur yang cukup dan teratur, karena kurang tidur dapat memperburuk gejala ADHD secara signifikan; hindari layar digital setidaknya satu jam sebelum tidur.
  • Jaga pola makan seimbang dan hindari asupan gula berlebihan; beberapa penelitian menunjukkan bahwa diet sehat berkontribusi pada pengelolaan gejala ADHD yang lebih baik.
  • Pelajari strategi mindfulness atau meditasi sederhana yang dapat membantu melatih perhatian dan mengurangi impulsivitas pada individu dengan ADHD.
  • Bergabung dengan komunitas atau kelompok dukungan orang tua anak ADHD atau komunitas dewasa dengan ADHD untuk berbagi pengalaman dan strategi pengelolaan yang efektif.

💊 Pengobatan Medis

  • Evaluasi diagnostik komprehensif oleh psikiater anak, psikiater dewasa, dokter spesialis saraf (neurolog), atau psikolog klinis merupakan langkah pertama yang esensial sebelum memulai pengobatan apa pun, karena diagnosis ADHD memerlukan penilaian multidimensional yang menyeluruh.
  • Terapi perilaku kognitif (CBT) adalah pendekatan psikoterapi yang sangat direkomendasikan untuk ADHD, membantu individu mengembangkan strategi koping, mengelola waktu, dan mengubah pola pikir negatif yang sering menyertai ADHD.
  • Parent Management Training (PMT) atau pelatihan manajemen orang tua sangat direkomendasikan terutama untuk anak-anak dengan ADHD, mengajarkan orang tua cara merespons perilaku anak secara efektif menggunakan prinsip-prinsip penguatan positif.
  • Obat-obatan stimulan seperti methylphenidate (Ritalin, Concerta) dan amphetamine (Adderall) adalah pilihan farmakologis lini pertama yang telah terbukti efektif dalam banyak penelitian klinis untuk mengurangi gejala ADHD dengan bekerja meningkatkan kadar dopamin dan norepinefrin di otak.
  • Obat non-stimulan seperti atomoxetine (Strattera) atau guanfacine digunakan sebagai alternatif bagi individu yang tidak merespons stimulan atau memiliki kondisi tertentu yang menghalangi penggunaan stimulan.
  • Intervensi pendidikan khusus dan akomodasi di sekolah, seperti perpanjangan waktu ujian, tempat duduk prioritas, atau bantuan guru pendamping, merupakan bagian penting dari pendekatan komprehensif penanganan ADHD pada anak.
  • Terapi okupasi dapat membantu anak dengan ADHD mengembangkan keterampilan motorik, organisasi, dan adaptasi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.
  • Pendekatan multimodal yang menggabungkan terapi perilaku, intervensi pendidikan, dukungan keluarga, dan bila perlu medikasi, memberikan hasil terbaik dalam jangka panjang bagi individu dengan ADHD.

Pencegahan ADHD

  1. Meski ADHD tidak sepenuhnya dapat dicegah karena komponen genetiknya yang kuat, risiko dapat dikurangi dengan menghindari paparan asap rokok, alkohol, dan zat psikoaktif selama kehamilan, karena faktor prenatal ini terbukti meningkatkan risiko gangguan perkembangan saraf pada bayi.
  2. Jalani pemeriksaan kehamilan (antenatal care) secara rutin untuk memantau perkembangan janin dan mendeteksi serta menangani komplikasi yang dapat memengaruhi perkembangan otak sejak dini.
  3. Minimalkan paparan anak terhadap timbal dan logam berat lainnya dengan memastikan lingkungan rumah bebas dari cat lama yang mengandung timbal dan memperhatikan kualitas air minum.
  4. Deteksi dan intervensi dini sangat penting: kenali tanda-tanda awal ADHD dan segera konsultasikan ke profesional kesehatan agar penanganan dapat dimulai sebelum gejala berdampak lebih besar pada perkembangan anak.
  5. Ciptakan lingkungan keluarga yang terstruktur, suportif, dan penuh kasih sayang, karena meskipun tidak mencegah ADHD secara langsung, lingkungan yang positif dapat secara signifikan memitigasi dampak negatif gejala ADHD pada perkembangan anak.
  6. Tingkatkan kesadaran tentang ADHD di lingkungan sekolah dan masyarakat agar anak-anak dengan gejala ADHD dapat diidentifikasi lebih awal dan mendapatkan dukungan yang tepat sebelum mengalami kegagalan akademik atau sosial yang berkepanjangan.

Pertanyaan Umum tentang ADHD


Referensi

  1. American Psychiatric Association. Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition, Text Revision (DSM-5-TR). 2022.
  2. World Health Organization. ICD-10 Classification of Mental and Behavioural Disorders. Tersedia di: https://www.who.int/classifications/icd/en/
  3. Kemenkes RI. Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Jiwa. Direktorat Bina Kesehatan Jiwa, Kemenkes RI.
  4. CHADD (Children and Adults with Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder). About ADHD. Tersedia di: https://chadd.org/about-adhd/overview/
  5. Barkley, R.A. Attention-Deficit Hyperactivity Disorder: A Handbook for Diagnosis and Treatment. 4th ed. The Guilford Press. 2015.
  6. Faraone, S.V., et al. The World Federation of ADHD International Consensus Statement: 208 Evidence-based conclusions about the disorder. Neuroscience and Biobehavioral Reviews. 2021. Tersedia di: https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/33549739/
  7. Mayo Clinic. Attention-deficit/hyperactivity disorder (ADHD) in children. Tersedia di: https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/adhd/symptoms-causes/syc-20350889
  8. MedlinePlus (U.S. National Library of Medicine). Attention Deficit Hyperactivity Disorder. Tersedia di: https://medlineplus.gov/attentiondeficithyperactivitydisorder.html
  9. National Institute of Mental Health (NIMH). Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder. Tersedia di: https://www.nimh.nih.gov/health/topics/attention-deficit-hyperactivity-disorder-adhd
  10. Polanczyk, G.V., et al. ADHD prevalence estimates across three decades: an updated systematic review and meta-regression analysis. International Journal of Epidemiology. 2015.