Keppra adalah obat yang sering diresepkan untuk mengatasi berbagai jenis kejang pada pasien epilepsi. Secara umum, penting untuk memahami apa itu Keppra dan bagaimana cara kerjanya untuk banyak kalangan.
Penggunaan Keppra harus dilakukan dengan hati-hati dan sesuai petunjuk dokter. Artikel ini akan menjelaskan lebih jauh tentang indikasi penggunaan, dosis, efek samping, dan hal-hal penting lainnya yang perlu diketahui mengenai Keppra obat apa.
Keppra adalah nama dagang dari zat aktif levetiracetam, sebuah obat keras yang hanya dapat diperoleh dengan resep dokter. Secara global, Keppra diproduksi oleh UCB Pharmaceuticals S.A., dan di Indonesia didaftarkan serta didistribusikan oleh Glaxo Wellcome Indonesia. Keppra tersedia dalam bentuk tablet, larutan oral, dan infus intravena.
DAFTAR ISI:
- Pengertian dan Kandungan
- Indikasi dan Kegunaan
- Mekanisme Kerja
- Dosis dan Aturan Pakai
- Efek Samping
- Kontraindikasi
- Interaksi Obat
- Cara Penyimpanan Keppra
- Keppra vs Obat Epilepsi Lainnya
- FAQ
- Keppra obat apa dan untuk penyakit apa?
- Apakah Keppra bisa menyembuhkan epilepsi?
- Berapa lama Keppra harus diminum?
- Apakah Keppra aman untuk anak-anak?
- Apakah Keppra bisa dibeli tanpa resep dokter?
- Apa yang harus dilakukan jika lupa minum Keppra?
- Apakah Keppra aman dikonsumsi saat hamil?
- Berapa harga Keppra di apotek Indonesia?
- Kesimpulan
- Referensi dan Sumber Terpercaya
Pengertian dan Kandungan
Untuk menjawab pertanyaan keppra obat apa, kita perlu mengenal kandungan dan klasifikasinya terlebih dahulu. Keppra termasuk dalam golongan antikonvulsan atau obat anti-epilepsi (OAE) generasi kedua. Zat aktifnya, levetiracetam, termasuk dalam golongan pyrrolidone yang memiliki struktur kimia unik dibandingkan OAE konvensional.
Keppra tersedia dalam beberapa kekuatan dosis:
- Keppra 250 mg – tablet salut selaput
- Keppra 500 mg – tablet salut selaput (paling umum diresepkan)
- Keppra 1000 mg – tablet salut selaput
- Keppra larutan oral – 100 mg/mL (untuk anak-anak dan bayi)
- Keppra infus intravena – untuk situasi darurat saat pemberian oral tidak memungkinkan
Selain nama dagang Keppra, levetiracetam juga beredar di Indonesia dengan merek lain seperti Antilep, Lethira, dan Levexa. Keppra bukan obat bebas — ia termasuk kategori Obat Keras yang harus diperoleh melalui resep dokter yang sah.
Indikasi dan Kegunaan
Pertanyaan lanjutan yang paling sering muncul setelah “keppra obat apa” adalah “keppra untuk penyakit apa?”
Secara resmi, Keppra diindikasikan sebagai terapi anti-kejang pada pasien epilepsi, baik sebagai terapi tunggal (monoterapi) maupun terapi tambahan (adjunctive therapy).
1. Kejang Parsial (Partial Onset Seizures)
Keppra digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengatasi kejang parsial dengan atau tanpa generalisasi sekunder. Indikasi ini berlaku untuk pasien dewasa dan anak-anak usia ≥4 tahun. Kejang parsial adalah jenis kejang yang dimulai di satu sisi otak dan mungkin menyebar ke seluruh otak.
2. Kejang Mioklonik (Myoclonic Seizures)
Keppra juga digunakan sebagai terapi tambahan untuk mengatasi kejang mioklonik pada remaja berusia ≥12 tahun yang menderita Juvenile Myoclonic Epilepsy (JME) atau epilepsi mioklonik juvenil. Kejang mioklonik ditandai dengan sentakan otot mendadak yang singkat.
3. Kejang Tonik-Klonik (Tonic-Clonic Seizures)
Keppra digunakan sebagai terapi tambahan untuk kejang tonik-klonik umum primer pada pasien berusia ≥6 tahun hingga dewasa dengan epilepsi umum idiopatik. Kejang tonik-klonik (dulu disebut “grand mal”) adalah jenis kejang yang paling dikenal, ditandai dengan kekakuan tubuh diikuti gerakan berhentak-hentak.
4. Monoterapi untuk Epilepsi Baru Terdiagnosis
Selain sebagai terapi tambahan, Keppra juga dapat diberikan sebagai obat tunggal (monoterapi) pada pasien berusia ≥16 tahun yang baru terdiagnosis epilepsi dengan kejang parsial.
📌 Penting diingat: Keppra hanya mengontrol gejala kejang selama dikonsumsi secara rutin. Obat ini tidak menyembuhkan epilepsi secara permanen.
Mekanisme Kerja
Salah satu hal menarik tentang Keppra adalah mekanisme kerjanya yang berbeda dari obat anti-epilepsi lainnya. Levetiracetam bekerja dengan cara berikatan secara selektif dengan protein SV2A (Synaptic Vesicle Protein 2A) yang terdapat pada membran presinaptik neuron otak.
Protein SV2A ini berperan penting dalam mengatur pelepasan neurotransmiter. Dengan memodulasi aktivitas SV2A, levetiracetam menghambat pelepasan neurotransmiter yang berlebihan, sehingga aktivitas listrik otak yang tidak normal (yang menyebabkan kejang) dapat diredam.
Keunggulan mekanisme kerja ini dibandingkan OAE generasi lama (seperti fenitoin atau fenobarbital) antara lain:
- Tidak menginduksi enzim hati secara signifikan, sehingga lebih sedikit interaksi dengan obat lain
- Memiliki spektrum antikonvulsan yang luas untuk berbagai jenis kejang
- Profil farmakokinetik yang dapat diprediksi dengan baik
- Lebih aman untuk pasien epilepsi wanita menopause karena dampak lebih minimal pada metabolisme kalsium
Dosis dan Aturan Pakai
Dosis Keppra ditentukan sepenuhnya oleh dokter berdasarkan jenis kejang, usia, berat badan, dan kondisi ginjal pasien. Berikut adalah panduan umum dosis Keppra yang perlu diketahui.
Dosis Keppra untuk Dewasa dan Remaja ≥16 Tahun
- Dosis awal: 500 mg, diminum 2 kali sehari (total 1.000 mg/hari)
- Peningkatan dosis: dapat dinaikkan atau diturunkan setiap 2–4 minggu sebesar 500 mg per 2x sehari
- Dosis maksimum: 1.500 mg, 2 kali sehari (total 3.000 mg per hari)
Dosis Keppra untuk Anak Usia 4–15 Tahun
- Dosis awal: 20 mg/kg berat badan per hari, dibagi dalam 2 dosis (yaitu 2 × 10 mg/kg per dosis)
- Peningkatan: dapat dinaikkan setiap 2 minggu sebesar 20 mg/kgBB hingga dosis efektif
- Dosis maksimum: 60 mg/kg per hari
Cara Minum Keppra yang Benar
- Dapat diminum dengan atau tanpa makanan
- Telan tablet secara utuh — jangan dikunyah atau dihancurkan
- Minum pada waktu yang sama setiap hari untuk menjaga kadar obat yang stabil dalam darah
- Jangan menghentikan konsumsi secara mendadak tanpa izin dokter, karena dapat memicu kejang berulang atau bahkan status epileptikus
- Penghentian Keppra harus dilakukan secara bertahap, sesuai panduan PERDOSSI (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia)
Penyesuaian Dosis pada Kondisi Khusus
Pasien dengan gangguan fungsi ginjal memerlukan penyesuaian dosis karena levetiracetam diekskresi terutama melalui ginjal. Dokter akan menghitung dosis berdasarkan nilai creatinine clearance pasien. Pada pasien lansia, pemantauan fungsi ginjal secara berkala sangat dianjurkan karena penurunan fungsi ginjal terkait usia dapat mempengaruhi ekskresi obat.
Efek Samping
Seperti semua obat keras, Keppra memiliki potensi efek samping yang perlu dipahami pasien dan keluarganya. Mengenali efek samping lebih awal membantu dalam penanganan yang cepat dan tepat.
Efek Samping Umum Keppra
Efek samping berikut terjadi pada sebagian besar pasien dan biasanya bersifat ringan hingga sedang, paling sering muncul dalam 4 minggu pertama pengobatan:
- Mengantuk (somnolen) dan pusing
- Sakit kepala dan kelelahan (asthenia)
- Tremor ringan dan gangguan keseimbangan
- Mual, diare, dan gangguan pencernaan (dispepsia)
- Penurunan nafsu makan (anoreksia)
- Insomnia atau gangguan tidur
- Nasofaringitis (infeksi saluran napas atas)
Efek Samping Keppra pada Sistem Saraf dan Psikiatri
Efek samping yang paling perlu diwaspadai adalah perubahan perilaku dan kondisi psikiatri. Berdasarkan data uji klinis FDA, sekitar 13% pasien dewasa dan hingga 38% pasien anak mengalami gejala perilaku non-psikotik selama pengobatan dengan Keppra, dibandingkan 6% dan 19% pada kelompok plasebo. Gejala yang dapat muncul antara lain:
- Mudah marah (iritabilitas), agresif, atau emosi tidak stabil
- Kecemasan berlebihan, depresi, atau apatis
- Halusinasi atau psikosis (jarang terjadi)
- Pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri — perlu pemantauan ketat oleh dokter dan keluarga
Anak-anak lebih rentan terhadap efek samping perilaku ini, sehingga orang tua dan pengasuh perlu memantau perubahan suasana hati atau perilaku secara cermat selama terapi berlangsung.
Efek Samping Serius yang Memerlukan Penanganan Segera
Segera hubungi dokter atau pergi ke IGD rumah sakit jika mengalami:
- Reaksi alergi berat (anafilaksis atau angioedema): gatal-gatal parah, sesak napas, pembengkakan wajah/bibir/lidah/tenggorokan
- Stevens-Johnson Syndrome (SJS) / DRESS: ruam merah parah dengan lepuhan di kulit dan selaput lendir
- Gangguan ginjal: jarang buang air kecil, pembengkakan di kaki atau tangan
- Gangguan darah: mudah memar, perdarahan tidak normal, atau anemia
Kontraindikasi
Keppra dikontraindikasikan (tidak boleh digunakan) pada pasien yang memiliki riwayat hipersensitivitas (alergi) terhadap levetiracetam atau turunan pirolidon lainnya.
Beberapa peringatan penting yang wajib diperhatikan:
- Gangguan ginjal: diperlukan penyesuaian dosis berdasarkan klirens kreatinin, pantau fungsi ginjal secara berkala
- Gangguan hati berat: gunakan dengan hati-hati di bawah pengawasan dokter
- Kehamilan: Kategori C FDA — terdapat risiko pada janin berdasarkan studi hewan. Pertimbangkan manfaat vs risiko bersama dokter kandungan dan dokter saraf. Kadar levetiracetam dalam plasma dapat menurun selama kehamilan dan perlu dipantau
- Menyusui: levetiracetam dapat masuk ke dalam ASI; tidak dianjurkan selama masa menyusui tanpa saran dokter
- Anak <4 tahun (untuk tablet): keamanan dan efikasi pada populasi ini belum sepenuhnya terbukti; hanya diberikan di bawah pengawasan ketat dokter spesialis
- Lansia ≥65 tahun: pantau fungsi ginjal; risiko efek samping meningkat seiring penurunan fungsi ginjal terkait usia
- Riwayat gangguan mental: pemantauan psikiatri ekstra diperlukan
- Hindari alkohol selama mengonsumsi Keppra karena meningkatkan efek kantuk dan pusing
- Hindari mengemudi atau mengoperasikan mesin berat, terutama di awal terapi hingga Anda mengetahui respons tubuh terhadap obat
- Jangan menghentikan terapi secara mendadak — lakukan penghentian secara bertahap sesuai arahan dokter
Interaksi Obat
Meskipun Keppra dikenal memiliki lebih sedikit interaksi obat dibandingkan OAE generasi lama, tetap ada beberapa interaksi yang perlu diwaspadai:
- Makrogol (laksatif osmotik): dapat menurunkan efektivitas levetiracetam tablet
- Metotreksat: levetiracetam dapat meningkatkan risiko efek samping metotreksat
- Buprenorfin: kombinasi ini dapat meningkatkan risiko efek samping yang serius, termasuk koma
- Alkohol dan obat penekan SSP lainnya: meningkatkan efek sedatif
- Obat-obatan yang mempengaruhi interval QTc jantung perlu kehati-hatian tambahan pada pasien dengan riwayat gangguan jantung atau elektrolit
Selalu informasikan kepada dokter dan apoteker tentang semua obat, suplemen vitamin, dan produk herbal yang sedang Anda gunakan sebelum memulai terapi Keppra.
Cara Penyimpanan Keppra
Agar kualitas dan efektivitas obat terjaga, simpan Keppra dengan cara yang benar:
- Simpan pada suhu tidak lebih dari 30°C
- Tempatkan di tempat yang sejuk, kering, dan terhindar dari sinar matahari langsung
- Jauhkan dari jangkauan anak-anak
- Jangan simpan di kamar mandi atau tempat yang lembap
- Selalu periksa tanggal kadaluarsa sebelum mengonsumsi
- Buang obat yang sudah kadaluarsa sesuai prosedur pembuangan obat yang aman
Keppra vs Obat Epilepsi Lainnya
Bagi banyak pasien, pertanyaan “keppra obat apa” juga mencakup rasa ingin tahu tentang perbedaannya dengan obat epilepsi lain yang sudah lebih dikenal. Berikut perbandingan singkatnya:
| Aspek | Keppra (Levetiracetam) | Fenitoin | Asam Valproat |
|---|---|---|---|
| Generasi OAE | Generasi kedua | Generasi pertama | Generasi pertama |
| Induksi enzim hati | Tidak signifikan | Ya (kuat) | Tidak (inhibitor) |
| Interaksi obat | Minimal | Banyak | Banyak |
| Risiko kehamilan (FDA) | Kategori C | Kategori D | Kategori D (teratogenik) |
| Efek psikiatri/perilaku | Ada (perlu pantau) | Ada | Ada |
Keunggulan Keppra terletak pada profil interaksi obat yang lebih bersih dan sifatnya yang tidak menginduksi enzim hati secara signifikan. Namun, pemilihan obat anti-epilepsi yang tepat tetap harus berdasarkan rekomendasi dokter spesialis saraf (neurolog), karena setiap pasien memiliki kondisi yang unik.
FAQ
Keppra obat apa dan untuk penyakit apa?
Keppra adalah obat antikonvulsan yang mengandung levetiracetam, digunakan untuk mengontrol kejang akibat epilepsi. Jenis epilepsi yang dapat ditangani meliputi kejang parsial (usia ≥4 tahun), kejang mioklonik (usia ≥12 tahun), dan kejang tonik-klonik umum primer (usia ≥6 tahun).
Apakah Keppra bisa menyembuhkan epilepsi?
Tidak. Keppra bekerja untuk mengontrol dan mengurangi frekuensi kejang selama obat dikonsumsi secara rutin. Keppra bukan obat kuratif yang dapat menyembuhkan epilepsi secara permanen. Penghentian obat harus dilakukan secara bertahap dan atas izin dokter.
Berapa lama Keppra harus diminum?
Durasi pengobatan ditentukan sepenuhnya oleh dokter, berdasarkan respons terapi dan frekuensi kejang. Pada banyak pasien epilepsi, pengobatan berlangsung bertahun-tahun. Jangan menghentikan konsumsi secara tiba-tiba karena dapat memicu status epileptikus, yaitu kondisi kejang yang berlangsung terus-menerus dan mengancam jiwa.
Apakah Keppra aman untuk anak-anak?
Keppra tablet dapat diberikan kepada anak usia ≥4 tahun dengan dosis berdasarkan berat badan. Larutan oral tersedia untuk usia yang lebih muda sesuai indikasi dokter. Namun, anak-anak lebih rentan terhadap efek samping perilaku seperti iritabilitas dan agresivitas, sehingga pemantauan ketat oleh orang tua dan dokter sangat diperlukan.
Apakah Keppra bisa dibeli tanpa resep dokter?
Tidak. Keppra termasuk dalam kategori Obat Keras yang hanya dapat dibeli dengan resep dokter yang sah di apotek resmi. Penggunaan tanpa pengawasan medis sangat berbahaya.
Apa yang harus dilakukan jika lupa minum Keppra?
Segera minum begitu Anda ingat, kecuali waktu dosis berikutnya sudah hampir tiba. Jika hampir waktunya dosis berikutnya, lewati dosis yang terlupa dan lanjutkan jadwal normal. Jangan menggandakan dosis untuk mengganti yang terlewat.
Apakah Keppra aman dikonsumsi saat hamil?
Keppra masuk kategori C menurut FDA, yang berarti terdapat risiko pada janin berdasarkan studi pada hewan, namun belum ada studi terkontrol memadai pada wanita hamil. Selain itu, kadar levetiracetam dalam darah dapat menurun selama kehamilan sehingga perlu pemantauan ketat. Keputusan penggunaan selama kehamilan harus diambil bersama dokter kandungan dan dokter saraf.
Berapa harga Keppra di apotek Indonesia?
Harga Keppra 500 mg berkisar antara Rp 9.000 hingga Rp 35.000 per tablet, tergantung apotek dan wilayah. Tersedia juga obat generik levetiracetam dengan harga yang lebih terjangkau. Beberapa pasien dapat mengakses levetiracetam melalui program BPJS Kesehatan jika memenuhi syarat.
Kesimpulan
Jadi, keppra obat apa? Keppra adalah obat antikonvulsan atau anti-epilepsi yang mengandung zat aktif levetiracetam, diproduksi oleh UCB Pharmaceuticals S.A. dan didistribusikan di Indonesia oleh Glaxo Wellcome Indonesia. Obat ini digunakan untuk mengontrol berbagai jenis kejang epilepsi — mulai dari kejang parsial (anak ≥4 tahun), kejang mioklonik (remaja ≥12 tahun), hingga kejang tonik-klonik (anak ≥6 tahun dan dewasa).
Keppra bekerja melalui mekanisme unik dengan berikatan pada protein SV2A di otak, menjadikannya lebih unggul dalam hal profil interaksi obat dibandingkan OAE generasi pertama. Namun, seperti semua obat keras, Keppra memiliki efek samping — terutama perubahan perilaku dan suasana hati — yang memerlukan pemantauan ketat, khususnya pada pasien anak-anak.
Hal terpenting yang perlu diingat: jangan pernah menghentikan konsumsi Keppra secara mendadak tanpa izin dokter, dan selalu ikuti instruksi dosis yang telah ditetapkan. Konsultasikan selalu kondisi Anda dengan dokter spesialis saraf untuk mendapatkan terapi epilepsi yang paling tepat dan aman.
Referensi dan Sumber Terpercaya
- Informasi lengkap tentang levetiracetam — Alodokter
- Panduan penggunaan Keppra dari Epilepsy Foundation — Epilepsy Foundation
- Informasi obat resmi dari BPOM Indonesia — PIONAS BPOM RI